8 Jul 2011

Bad hair day....

Waktu kecil aku dibilang China bukan cuma karena kulitku yang putih, tapi juga rambutku yang lemas, jadi mamaku paling senang kalau aku mau dikuncir.

Katanya tengkuk putih dan rambut jatuh bikin aku terlihat seperti anak orang kaya... Jiaaaah, bahasa jaman dulu tidak jauh dari materialism. Ingat hanya terlihat seperti bukan menjadi lho.. hahaha

Sampai SD ke SMP, aku tidak pernah perduli dengan rambutku. Sadar2 waktu melihat foto NEM SD foto aku terlihat kacau. Dengan rambut macam kucing kesiram air. Lalu selama SMP aku memilih mengikat poni dan rambut kebelakang. That’s it.

Waktu SMA, juga tanpa bermaksud bergaya aku hanya membiarkan rambutku lepas tergerai tanpa model. Sekarang siy disebut bob. Karena rambut pula, aku sempat jadi ikon di masa SMA. Salah potong membuat aku harus totally cepak, dulu GI Jane belum  terkenal so potongan ini membuat aku terlihat preman.

Apa yang menarik dari rambut?? Semakin dewasa rambutku semakin hancur... Kering, patah, rontok, kaku dan derita rambut pada umumnya. Dengan model rambut mengembang seperti ini semakin membuat aku merasa tidak nyaman.

Tapi sekarang bentuk kenyamanan yang ku maksudkan sudah berbeda. Bukan semata-mata karena penyakit rambut diatas.

Berawal dari buku bacaan ku yang berasal dari Pakistan. Budaya disana menuliskan kalau rambut itu lebih seksi dari pada bagian tubuh yang lain. Entah karena latah atau memang aku hanya terinspirasi secara penuh, aku merasa berlebihna jika menggerai rambut di depan umum, apalagi dengan gaya menginas-ngibaskanya.

Jadilah aku hobby mengkonde rambut dengan asal-asalan, dan so far aku merasa cukup nyaman dengan 'gaya' itu. Sampai suatu hari (belum lama ini),  orang HR memanggilku secara khusus untuk menegur soal rambut cepol-ku yang katanya, “kaya orang mau mandi aja”. Sama sekali tidak nampak seperti orang kantoran.

Hahaha... aku siy menaggapinya positip aja.

Hmm,,, iya juga siy pikirku. Pada dasarnya aku pencinta kerapihan, kecantikan dan keindahan. Tapi jujur aku ‘sangat sangat tidak nyaman’ kalau dalam keindahan itu ada konotasi seksi. Dan pengertian aku, rambut mekar begini kalau digerai kelihatan too much..

Maksudnya?? Ya... sekali lagi aku bilang, entah terinsipirasi atau memang I had it mind. Aku merasa tidak nyaman menggerai rambut. Terlihat so seksi.

So, kalaupun sampai terjadi berarti ada kesalahan. Misalnya kehilangan ikat rambut, baru keramas, mau kondangan atau (lagi) event dimana aku merasa ingin cantik. :p

Tapi sekarang, aku memaksa diri untuk terbiasa dengan gerai rambut. Mencoba merasakan lebih ‘perempuan’ sajalah, daripada seksi-nya.

Dan kemudian aku baru sadar, kebiasaan mengkonde ini turun pada putriku. Dan (baru) kusadari lagi... hampir setiap kali melihat dia mengikat rambutnya dengan sembarangan, aku akan berkomentar pedas. Nggg... lupa diri kali ya, hahaha...

So???  Pakistan and Indonesia suppose to be difference… yups!

13-May-2009


13 May 2009, jam pulang kerja sekitar jam 6-7 petang

Sedari tadi Kaleb terus bermain bola didalam rumah mama-ku, kebetulan kami bertetangga. Bukan sekali dua kali kami sudah mengingatkan, tapi dia terus mengabaikan. Bosan menemani aku pulang lalu bersantai dirumah. Masih jelas peringatanku juga mama “awas kena lampu”, dia terus menjawab dengan cepat dan melanjutkan bermain dengan sepupunya Oline.
Belum setengah jam aku beristirahat dirumah, Kaleb kemudian sudah pulang dengan wajah sumringah, merona, bukan takut tapi jelas menyembunyikan sesuatu.

“Diomelin opung khan main dirumah” kataku agak kesal dan membiarkan dia dengan senyum getirnya masuk kekamar. Aku tau Kaleb, dia kalau sudah bermain PANTANG udahan, mesti ada yang salah batinku. Baru akan beranjak kerumah mama, kulihat mama sudah tergopoh-gopoh menuju kerumahku.

“Mana si Kaleb, sudah pecah khan lampu ku” omelnya kepadaku.

Segeralah aku dan suami menuju rumah mama dan memperbaiki lampu yang pecah serta beling yang berantakan, sambil sama-sama mengomel (aku dan mama, hampir seperti dialog sebenarnya karna yang diomelin pun tak ada.. Kyaaa!!)

Segudang kemarahan sepertinya sudah mengintip dibalik mataku yang memerah, walau sebelumnya suamiku sudah berpesan dulu “jangan dimarahin lagi anaknya, kan kita sudah tanggung jawabin ini rumah Inang”.. enak bener ya!! batinku. 

Meski sudah mengangguk-angguk tetep saja tanduk sudah terlanjur keluar. Tak ada mertua pula, maka kemungkinan “kuhajar” Kaleb malam ini sudah 99% hanya 1% mukzizat Tuhan. Sombong dech, iyalah karena kenakalan sampai merusak property adalah category kejahatan bagiku.

Sampai dirumah sepi, didepan tidak ada yang tidur. Jane menunggu dengan diam, aku masuk kamardan kulihat Kaleb sudah tidur. Dasar dasar dasar, batinku terus masih keki. Entah kenapa dan bagaimana tiba-tibamataku tertuju pada kertas lecek yang ada dimeja belajar, posisinya pun tidak strategis tapi kemudian aku tau ‘mukzizat yang 1%’ menggiringku untuk melihatnya.

 
mama abang ngaku abang salah tapi mama tetep sayang abang kan dari kaleb
Maafin abang juga pa abang udah pecahin lampu opung waru (warung maksudnya, karna mama ku punya warung kecil dirumahnya) maafin abang abang engga kasih tau papa abang kaleb minta maap sama papa tapi papa tetep sayang abang dari kaleb
Abang akan pergi kemanasaja untuk melunaskan lampu opung yang pecah maapin juga ya sama jen

Ya Tuhan, dalam hitungan detik airmataku terus beruraian, hilang semua kesombonganku demi membaca tulisan cakar ayam Kaleb diatas kertas lecek itu. Sampai beberapa lama, aku seperti ditelanjangi oleh tulisanya “apakah kesalahan akan melunturkan cintaku padanya”   demikian aku meringkasnya…

Anak 7 yahun yang sombong, Kaleb Siregar. Mungkin dia tidak mengerti apa yang dia tulis tapi aku membacanya dengan cara yang mengerti. Aku harus tau bahwa dia berusaha menjadi baik tapi usianya memang belum mengajarkanya untuk mengerti sebab dari sebuah akibat.

Sampai hari ini, setiap kali membaca surat itu aku masih menangis…

Just Kaleb, just him

Kaleb adalah pribadi yang unik. Dari sejak kelahiranya, masa bayinya, masa balitanya bahkan sampai masa kanak-kanaknya. 

Bagaimana bisa?  yach, ada yang bilang semua anak-anak adalah sama. Tapi my boy satu ini totally diference. Boleh percaya boleh tidak dari sejak lahir anak ini sudah punya karakter sendiri. For better or worse, walau tidak jarang aku lebih banyak kesalnya. Aku tau Kaleb punya karakter yang kuat. 

Aku orang yang sering kali menomor satukan pekerjaan rumah tangga dari pada mengurus anak. (lebih ke PRT dari pada baby sitter, istilahnya mungkin! Hahaha..). 

Sering karena tanggung dengan pekerjaan aku menahan diri sebentar dan sebentar lagi untuk menyusui Kaleb. Dengan tega aku biarkan dia menangis sebentar. (pikirku; biar cape sekalian nanti setelah disusui langsung tidur dech..) Kemudian karena tangisnya mulai mengencang dengan terpaksa aku mengangkat badan dari pekerjaan dan menyusuinya. Tapi –ini bukan sekali dua kali kejadian- bayiku tidak pernah benar-benar menyusu. Yang ada kemudian, dia akan tidur bahkan posisiku belum tepat disampingnya. Kebetulankah?? Aku bilang dia marah karena dicuekin kelamaan. 

Umur 3 bulan Kaleb baru mengankat kepala dengan tegap. Tengkurap usia 5 bulan dan duduk 7 bulan. Cukup lambat –menurutku-, kalau dibandingkan dengan kakanya yang sejak umur seminggu sudah rajin ‘angkat kepala’, dan duduk sejak umur 4 bulan (5 bulan lewat sedikit aku sudah berani menaruhnya di baby walker). 

Tapi dalam segala kelambatanya, pilihanya jelas. Dia tidak suka diperlakukan seperti bayi. Umur 7 bulan karpet dan diapers jadi musuh utamanya (rusuhlah kami kalau akan bepergian). Sejak usia 9 bulan dia ogah dengan celana kolor bayi –yg seperti kacamata itu-. Tidurnya –kata suamiku- pesis aku, tak tarbangunkan, hehehe... Tapi coba waktu ngompol malam pakaikan dia dengan celana bayi atau lapisi karpet/lampin dibawahnya... hmmm. Sontak sedetik kemudian dia akan bangun sambil meraung. Huh,, benar-benar menyebalkan.

Dari kecil kami sudah mengajarinya memangil ‘kakak’ pada si sulung. Tapi entah dapat pencerahan dari mana Kaleb seperti mengerti kalau ada ‘derajat’ dikalimat kakak itu. Dia ogah berat dengan panggilan kakak. Jadilah sampai hari ini dia memangil si sister hanya dengan Enjen. 

Papa-nya berkulit sawo matang nyaris hitam, hehehe :p. Maka dia paling marah kalau dicium sang papa. Terlihat kotor menurut Kaleb. Biasanya si papa Cuma dipantasi 5 menit saja setelah mandi, sesudahnya Kaleb akan mengamuk jika si papa memaksa mencium.

Hampir umur 2 tahun dia baru bisa bilang ama (untuk mama) dan papa. Tapi tidak serta merta dia mau memangil sang papa dengan ‘papa’. Dimulai dengan kebiasaan mertuaku dan tetangga memangil nama suami. Lama Kaleb ikutan memanggil sang papa dengan kata ‘Monang’. Bukanya tidak diajari, tapi pokoknya aku 'merasa' Kaleb memang punya gayanya sendiri. 

Adalah tetanggaku yg sering menggoda dengan memanggil suamiku "papa aku", karena tidak mau sama dengan orang lain Kaleb akan berteriak “Monang aku”. Kemudian tetangga ini terus menggodanya dengan panggilan "oh Monang aku". Dan terus dan terus, sampai Kaleb kesal. Seperti biasanya, karena tidak mau sama dengan orang lain Kaleb menjawab "papa aku". Demikianlah, sampai hari ini Kaleb memangil si papa dengan "papa".
Kaleb kecil begitu lembut, cenderung cengeng menurut aku. Dia tidak akan memanjat pagar, naik pohon atau naik kuda-kudaan dengan ayunan yang kencang. Dia selalu menjadi bulan-bulanan kawan sepermainannya, bahkan sepupunya. 

Tapi dia pintar berkomentar. Seperti, suatu hari bapak ku datang dengan cerita, “malu awak sama si Kaleb, masa katanya Opung kok gak pernah beliin mainan sih? terpaksalah aku beli ini...”. Lalu bapak memeperlihatkan tembak-tembakan dengan bunyi ‘fire fire fire’. Dan ini bukan komen 'sok' nya yang pertama kali.

Sampai hari akan masuk TK, Kaleb bahkan tidak bisa berhitung. Bahkan mertuaku sempat komentar, "bagaimanalah gurunya ngajarin dia, sombongnya begini".

 Oh ya... Kaleb itu hampir 80% pegangan mertuaku. Karena aku sudah mulai bekerja sejak dia berumur 2 tahun. Makanya karakternya agak manja. Kaleb pantang diajarin. Apalagi oleh si papa, karena si papa ini terlalu suka cercanda konyol dan membuat bersuara-suara bodoh. Makanya menurut Kaleb, "papa tidak akan mengerti". 

Sepulang dari sekolah hari pertama. Dengan suara lantang dia mengucapkan salam “SHALOOOMMM” dengan suara yang mengelegar. Dan ini kemudian jadi kebiasaanya yang men-trade mark. Karena kalimat shalom itu sudah dia ucapkan dari jarak masih 8M-an dari rumah kami, hahaha...

Sambil melempar tas, Kaleb langsung bercerita, “Pa, abang bisa ngitung”. Lalu berhitunglah dia dari 1 sampai 10, lalu 15. Small things actually, tapi aku menganggap ini sebagai karakter Kaleb. Sebenenarnya dia sudah mengerti, tapi dia tidak suka di tes dia tidak mau dicobai hanya untuk menakar kebisaannya. 

Begitu juga waktu diajari ayat hapalan untuk natal. Dia mendengarkan dengan malas-malasan,  berkesan meremehkan. Akan tapi ternyata waktu tampil dipanggung, kami semua terkejut. Dia tampil paling lantang, paling PD dan paling sempurna. Hah!!
         
       Ya, sampai hari ini kami memanggilnya abang Kaleb, bahkan sebelum dia punya adik. Berawal dari godaan-godaan tetangga. yang entah bagaimana awalnya jadilah aku ikutan memanggilnya abang. 

Begitu mudah membuat dia marah, panggil dia ‘adik’, goda denga kata ‘ngompol’, suruh dicium papa, tawarkan makan, ancam dengan diapers, tawarkan celana kolor bayi, lihat si papa memeluk aku, lihat aku mencium si kakak, pakaikan pakaian tidak sesuai seleranya,,, semuaaaa akan membuatnya marah dan kesal.

Satu kesalahan diawal paginya, akan menjadi whole bad day buat Kaleb. Tapi dialah pria sejati. Kaleb sangat sayang keluarga, walau berkesan sombong dia tau memaknai keluarga bahkan saudara. 

Dia tau menilai kehidupan disekelilingnya yang tentunya dengan cara dia sendiri. Cara yang menurut aku “just Kaleb character”.

15 Jun 2011

If Love Is Blind

Cinta itu Gila, Cinta itu Buta, Cinta itu Bodoh…

Kalimat yang menurut aku tidak seharusnya jadi aplikasi secara harafiah dalam hidup. Tapi kenyataanya, mata dan kepalaku menjadi saksi betapa gilanya cinta, betapa butanya cinta, betapa bodohnya cinta memilih atau dipilih...  I just don’t get it, I just think stupid love is belong to stupid person. :p

Adalah cinta masa muda, cinta yang pernah ada 12 tahun yang lalu. Cinta yang buat pria baik ini adalah cinta pertamanya. Berbeda dengan si perempuan yang sudah ‘mahir dalam perpacaran’. Ini semua istilah yang aku karang dengan sendiri, jadi tidak usah memaksa untuk menemukan artinya di kamus perbahasaan. Kami, demikian aku mengartikanya, karena kami adalah sekumpulan pasangan yang tidak jelas statusnya tapi mengkalim sebagai pasangan-pasangan yang kebetulan saling berteman. 

Tidak ada yang istimewa dari kisah-kisah percintaan ini. Seperti umumnya saja, ada berantem, ngambek, marah gak jelas, makan bareng, curi-curi ciuman dikampus kecil yang berbentuk ruko itu... (upss, sensor XXXX hehehe..). Juga cabut dari kelas gara-gara pasangan yang satu kebetulan ada dikelas yang sama kalu lagi ‘marahan’... Ow ow ow.

Tapi kisah kami 12 tahun yang lalu sangat istimewa. Karena disisipi banyak adegan yang menurut aku –sebagai anak rumahanagak-agak ekstrim. Misalnya, pertengkaran yang berakhir pemukulan, sampai berdarah-darah segala. Kekesalan (yang entah apa awal mulanya) yang kemudian aku tau adalah teman ku ini akan minum 5-10 macam obat warung yang terkenal dengan dosisi tinggi sambil minum bir, pencobaan bunuh diri, lempar-lemparan property mahasiswa, fuihh...

Kalau dimasa sekarang kebanyakan perempuan menjadikan rokok semacam gaya dalam  begaul. Maka dimasa 12 tahun yang lalu ini, aku melihat temanku perokok ini sebagai  perokok gila bukan ‘perokok gaya’.  Bagaimana tidak, dia akan merokok tanpa melentik-lentikan jarinya, dia akan merokok sambil berbaur dengan tukang-tukang ojek yang mangkal  tidak jauh dari tempat kami. 

Segala macam rokok akan dihisapnya tanpa tedeng aling-aling. Tidak jarang aku memergokinya menghisap rokok yang merk-nya  hanya dikenal di daerah pedalaman yang jauh dari peradaban... hahaha.  Mungkin perokok paling bersih yang pernah kukenal ya perempuan satu ini, hisapan rokonya akan benar-benar sampai di garis batas tembakaunya...

Hitam manis, bertubuh mungil, bibir seksi, rambut panjang. Walaupun otaknya pas-pasan aku selalu menilai teman ‘bokis’ yang punya hobby bohong dan nyanyi ini cantik. Kemudian, kita dan kami semua cuma bisa tertegun ketika  tau dia ‘jadian’ sama anak kelas sebrang yang wajahnya, dompetnya, otaknya… OMG!!



Tanpa bermaksud menjadi pengkotak- kotak orang, tapi sumpah tidak ada bagian yang bisa dibanggakan dari si cowok ini. Malahan isu terakhir, bahkan aku sendiri ikut menyelidikinya. Kalau si cowok ini sudah menghamili orang dan ber-anak (I saw the baby)... So, cinta apa nafsu (birahi) kah??. Aku masih mempertanyakan  ‘cinta’ mereka yang tetap berjalan tanpa geming.

Setelah 12 tahun terpisah, beberapa waktu yang lalu kembali kami berjumpa... Tanpa ada tetesan airmata. Kecuali teriakan-teriakan heboh dan tamparan-tamparan ‘persahabatan”. 

Maha daya Cinta,,, dengungku berkali-kali sepulang dari reuni kecil itu... Sepasang teman yang kisah percintaanya 12 tahun lalu dipenuhi darah dan air mata (bahasa hyperbola ku sih, hehehe..), sekarang sudah dikarunia 2 orang anak. And they just live happy now. 

Aku begitu exited melihat perubahan sikap si lelaki ini, hilang sudah kesombongan dan kekasaran masa mudanya. “Berubahlah Chu, udah tua udah sadar kali”, kata si istri, yang menurut cerita sekarang ambil alih control rumah tangga. It call love, menurut aku. "Sekarang dia takut ama gue", katanya lagi.

Satu kisah lama yang terjadi dengan teman ku yang lainya.
Hi apa kabar??”, sapa si lelaki dengan hangat dan mencoba akrab.
“Baik”, jawab si perempuan dengan pendek dan santai. Sangat sok cuek menurut ku.
Si lelaki mencoba untuk akrab dan memeluk, tapi dengan alasan “etika agama’ si perempuan menolak. Tidak ada obrolan  khusus antara kedua teman yang eks-an ini. Si perempuan nampak banyak mengalihkan bahasan dan perhatian dari yang dibicarakan… aku banyak menggoda keduanya.

Dalam percakapan-percakapan kami kemudian, banyak kali aku mencuri tatapan rindu dari si lelaki ini. Cinta yang pernah ada 12tahun lalu, aku bisa pastikan masih ada antara mereka. Si perempuan mungkin mencoba menafikkan, tapi dalam ekor matanya aku menangkap ‘masih ada cinta’. Si perempuan mencoba membanggakan anak-anak dan suaminya yang sepaham dengannya, bagaimana mereka begitu saling melengkapi dengan senyum dan canda tawa lepas. Terpaksa, menurutku.

Tapi entah kenapa dan bagaimana. Mungkinkah karena aku merasa bahwa aku sungguh-sungguh bagian dari drama ini, aku ada bersama dengan teman-teman ku ini sepanjang sejarah yang telah lalu. 

Seolah aku bisa  merasakan kemunafikan disana, aku seperti merasakan gairah cinta masa muda 12tahun yang lalu dalam bungkus 'etika'. Bola mata si lelaki dan perempuan ini jelas menyiratkan kerinduan yang dalam, kerinduan yang ingin dipuaskan tapi mungkinkah dan bagaimana bisa?. Kemudian, (sepertinya) mereka tidak tau harus bagaimana??.

Aku menangis dalam hati, seolah ikut menikmati  kegamangan  mereka. Kemunafikan tawa yang mencoba melawan perasaan. Aku seolah merasakan buncahan rindu yang tersedak di-dada… Kyaaa, nampak berlebihan kelihatanya tapi itu yang aku rasakan..

Hari itu aku bilang, maha daya cinta
Cinta masa 12tahun yang lalu, melukai kembali..
Cinta keluarga, memaksa untuk bertahan dalam norna..
Cinta bisa membuat gila..
Kalau tidak buta, bukan cinta namanya… katanya.

Fuihhh, mungkin aku bukan golongan pencinta sejati seperti itu. Akan tapi moment sesaat ini cukup membawaku untuk kembali mengingat  betapa cinta memang bisa membunuh…

(To my beloved dear friends... I love you all just the way you are, 052011)   

3 Jun 2011

3 Idiots

3 Idiots…
Untuk ke-2 kalinya aku menonton film India ini, dan perasaan yang sama kembali membuncah waktu aku melihat adegan per adegan. Pertama, hebatnya film ini adalah dimainkan oleh actor  kawakan India yang (pada jamannya-katakanlah aku -) bisa  dibilang paling ganteng, Amir Khan. 

Hebat ya, diusia kepala 4-an.. dia diubah jadi Rancho yang umurnya 20an. Tidak ada kesan maksa, tidak ada pula pias ketuaan pada wajah si ganteng itu.. Jalan ceritanya luar biasa, akting alami dan pesannya masuk akal, sedikit bikin sirik, banyak bikin kesal tapi sumpah I love it.. I Love it..and, I love it.

Apa yang membuat film ini istimewa?, buat aku pesan yang disampaikan “hampir” atau kalau mau jujur siy aku bilang "semuanya" (tapi kesanya aku kok  kayak sok tehe banget ya?? Hehehe)... persis apa yang aku pikirkan selama ini. Ketika (sering kali) Sekolah Tinggi itu Cuma jadi ajang  “harga diri”, kemudian mengesampingkan “nilai belajar” itu sendiri. Ketika kamu sesuai trend, ini disebut pintar tapi ketika kecerdasanmu diatas rata-rata orang justru akan bilang “kamu bodoh” bahkan ada yang bilang “bahaya”. 

 Lama aku hidup dalam pemikiran bahwa aku merasa cukup pintar dengan semua ‘kebisaan’-ku. Merasa aku pekerja keras, penuh inisiatif, siap dengan tantangan, tidak takut dengan tanggung jawab dan satu kelebihanku yang (tidak jarang) jadi kelemahanku juga adalah.. aku merasa berani memutuskan segala seuatu. Aku berani memutuskan sesuatu bahkan yang beresiko. 

Aku berfalsafah bahwa tidak ada kebenaran atau kesalahan yang abadi. Lalu yang perlu aku lakukan hanya-lah “memutuskan”, lalu kemudian biarkan waktu yang menjawab.

Tapi kemudian aku sadar cuma dengan bekal ijasah SMA, kepintaran-ku tidak akan pernah mengintip pintu lain untuk diberi kesempatan untuk memperlihatkan ‘apa yang bisa aku lakukan'. Sekolah tinggi tetap akan menjadi ‘syarat mutlak’, yang sampai hari ini pun aku masih menganggapnya sebagai suatu kemutlakan yang sangat bias..

Tahun 2007, aku putuskan untuk kuliah. Dengan harapan: sesuai dengan budjet-ku dan yang juga ‘sesuai keinginanku’... Ternyata sulit. Kemudian pilihan mengerucut pada 2 hal: biaya atau minat. 

Ketika kita memilih dalam kondisi yang sudah tidak sendiri lagi, banyak hal yang harus aku pikirkan... Dan klise, biaya menjadi pilihan utama. Lalu berharap suatu saat nanti dengan berbekal Sekolah Tinggi ini aku akan berjumpa dengan bidang ‘minat’ ku…

Banyak kalimat dalam film 3 Idiots yang membangkitkan gairah jiwa, tapi hanya sedikit yang sempat ku tulis. Kita perlu menantang hidup, karena kita buka robot... Hampir sama dengan kalimat Pastor Stephen Tong, hanya ikan mati yang ikut arus, ikan hidup akan melawan arus. Bukankah Salmon merupakan salah satu ikan paling mahal dan apa yang membuat Salmon begitu istimewa padahal didaratan kanada ikan ini begitu berlimpah?? (kalau lihat di chanel National Geographic, ini bahkan jadi santapan beruang). Salmon begitu dikenal sebagai ikan yang melawan arus, dia akan mencari hulu air terjun untuk menetaskan telur-telurnya.. Wahhh, ikan pintar khan?? (apa kurang kerjaan ya?? Hehehe.. cool).

Masalah tidak selalu selesai, tapi paling tidak kita tidak takut menghadapi masalah… keren khan?. Menikah muda, ‘terpaksa’ mandiri, hidup pas-pas-an, harus 'bisa'... semuanya sudah aku jalanani. Bahkan lebih banyak lagi dan sekarang aku telah sampai pada pemikiran ini.. masalah emang gak akan selesai, maka tabrak aja. 

Kembali mengutip kalimat ibu gembala Cipinang, “sepanjang manusia hidup, akan kontrak mati dengan persoalan!!”.  So what should I worried about?... 

Kyaa, gak seindah itu juga sebenarnya, banyak kali aku merasa takut dan bimbang. Tapi kemudian aku mencoba membangun diri dengan kalimat itu, “semua akan berlalu, masa expired masalah akan tiba segera”... kalau 3 Idiots bilang, “semuanya akan baik-baik saja”.

Kenapa kita mesti bersekolah hanya demi sebuat “gelar”? kasihan.  Fenomena yang umum terjadi saat ini. Kenapa kita tidak mencoba member makna pada gelaran S1 itu, kenapa kita tidak memberi nilai pada tiap buku yang kita baca, kenapa kebanyakan kita takut ‘bersuara’, kenapa kebanyakan kita bangga jadi follower sejati, bangga dengan sensasi yang tidak bermutu, kita takut dengan provocative yang tidak melulu salah, kebanyakan kita takut keluar dari zona nyaman… dan bla..bla... Kita banyak takutnya.

Aku merasa menjadi Rancho di film 3 Idiots ini. Rancho dengan segala sikap dan cara pandangnya terhadap hidup dan sekolah, kecuali  tentunya tingkat kecerdasan-nya jauh diatas aku. Hmmm. Ini mengingatkanku juga pada tokoh Lintang di buku Laskar Pelangi. Manusia-manusia dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa seperti ini selalu melekat dihatiku, bukan karena kepintaranya semata tapi bagaimana mereka memaknai kepintaranya.

Yah, mungkin Lintang tidak seberuntung Rancho (maklum film, semua harus happy ending..)... tapi aku tetap merasakan kesan yang kuat dari film ini. Kepintaran seakan mengangkat derajat manusia satu level dari yang lainya, tapi bukan kepintaranya yang membuat Rancho menjadi ‘istimewa’.  Dia hebat, selain karena dia orang miskin yang cerdas  adalah karena dia mau belajar, dia mau menjadi lebih dari yang dia bisa tanpa mejadi arogant. Akhir film juga tidak menggambarkan Rancho yang yang jadi pengusaha kaya raya karena ijasahnya, tapi dia bertambah pintar karena dia terus belajar.

Aku bermimpi dalam dunia nyata, aku dan kamu, dan kamu dan kamu… dan banyak dari kita mempunyai semangat Rancho. Semangat untuk pintar, untuk bisa, untuk tahu secara nyata.. bukan hanya nama dan gelar diatas selembar ijasah. Tapi dengan kepalan semangat untuk maju... dan tentunya tanpa harus menjadi sombong...