12 Okt 2011

World is a Small Place



World is a small place, secara umum mungkin gue orang yang sangat tidak setuju dengan ungkapan itu. Bagaimana engga, gue ini khan gak hoby banget jalan-jalan, lagi juga gue ini orang yang bisa dibilang hampir gak pernah kemana-mana. Serius boo, paling tidak sampai di bulan April 2011 ini gue belum ngerasain namanya naik pesawat..hiks hiks.. lalu bagaimana bisa dunia ini kecil, dunia ini terlalu luas buat gue!! makanya belum ada 1 tempat pun yang sempat gue singahin…hahaha 
self defence, nge-set bahasa gaulnya cin..

Dan gue tidak menganggap itu sebagai masalah, sama sekali tidak, but honestly I also have a  wish.. if I had a change to go around, I hope it will be spectacular, luar biasa, amazing..yah  pokoknya perjalanan hebat lah, misalnya keliling Eropa, jalan-jalan ke Amrik, wisata ke Afrika.. dan sekarang ini siy gue lagi MEMPE BANGET soal Dubai.. Gila ya, ada Negara Arab yang “kelihatanya” te op pe bangeted. Mimpi gue pengen tour en senang-senang ke Dubai, penasaran dengan kemasyuran kampong Palem yang ada di internet itu, atau naik ke pucak-puncak gedung yang katanya –lagi, dan lagi-lagi kata internet lho- gedung-gedung di Dubai itu sekarang ter ter ter di Dunia.. fuiihhhh. KEREN..

But dunia kecil yang mau gue curhatin hari ini sebenarnya bukan itu sih..hehehe..

Ditahun 2000an awal, setelah lama menganggur dan jauh dari sosialita gue,.. taelaa (Seleb kali sosialita, hehehe..) adalah saudara gue yang nawarin kerja. Cuma buat operator telepon katanya waktu itu, secara dia sendiri staff senior so cumaa… Tapi dasar gue pengen banget kerja..itupun buat gue waktu itu udah lebih dari jadi sekretaris cabinet..hahaha, lebay.. tapi ini serius.

Ikutlah gue dengan-nya naik jemputan di UKI dan sampailah dikantor si tante ini, gak lama kemudian  interview lah dengan orang HRD. Oh ya, gini-gini dari dulu kata orang bahasa inggris gue bagus, -untuk ukuran orang yang tidak pernah officially kursus lho-, makanya dari beberapa sodara si tante menunjuk gue. Ternyata eh ternyata, gue lupa-lupa ingat juga dengan kejadian hari itu, entah apa yang ditanya-tanya si ibu HRD hari itu. Cuman yang pasti gue inget, I speak nothing. Bahasa inggris gue hancur, bahkan gue engga sanggup menatap balik mata si ibu interviewer itu. Parno kali, karena lama gak ketemu ‘orang kantoran’, dan jadwal gue sekarang sibuk dengan cucian, anak dan misua. Padahal dalam hati udah bangga, bakal kerja di perusahaan Prancis… sempet ngayal ngobrol ama bulenya lagi. Walah, ternyata inggris gue aja hancur cur cur.  

Yeah, paling tidak waktu si tante tidak memberi kabar lagi, gue menganggap semua memang kesalahan gue pribadi. So gue appreciated  aja pertolongan dia waktu  itu,   hik hiks hiks…

Tahun berjalan, walau gatot tapi tawaran pernah “hampir” kerja di perusahaan Eropa selalu masuk dalam daftar cerita gue soal track record bekerja… maksadotkom. hahaha 

2010 bulan October, setelah 3 bulan menganggur. Gue ada panggilan kerja di sebuah perusahaan Amerika, sudah beberapa kali interview bahkan sampai psikotest segala tapi setelah 2 bulan dan belum juga ada kabar. Kesan Amerika itu masih melekat kuat dihati gue, walau tetap berharap gue beruntung karna kemudian dapat panggilan disebuat perusahaan Eropa lainya, yang kemudian berjodoh.  Masa probation gue baru habis disini, dan gue baru menikmati ‘menguasai’ pekerjaan sampai 99%, bersenang-senang dengan jam kerja yang padat, mengenal teman-teman dengan lebih baik dan ‘hampir’ ngetop sebagai orang paling ngocol ditempat makan siang..????  ckckckc… hahaha

“kamu masih minat engga dengan perusahaan kami” begitu awal mula suara diujung hape gue sore itu.

Suami gue kecewa berat waktu gue bilang mau keluar, mama, adik, mertua, temen pada komplen setengah mati. Mereka semua tau kalau perusahaan Eropa yang gue kerja ini kasih benefit  di‘luar’ kebiasaan perusahaan Jepang yang gue pernah kerja. Jaohhh….

I love manufacturing company, I wish for increasing career, I hope I can bring others to my new job, I wish I can bless others by higher salary..   itu semua adalah dasar alasan  gue mau pindah, walau alasan dan tetek bengek kecil lainya juga  banyak. Dan kembali American addict gue bilang, seharusnya disana semua lebih menjanjikan. Fuiihh..

Now I am here, yang menarik buat gue adalah bukan cuma karena finally gue ngerasain kerja di sebuah perusahaan Amerika, tapi kemudian gue seperti baru sadar... kayanya gue pernah lihat lorong ini, gue pernah lihat loby, ini gue pernah lewatin jalan kecil ini, gue pernah dengar perintah ini.. waktu di bus jemputan  -seat-belt wajib hukumnya-.

Ternyata It was Schlumberger which is now turn to Itron, 10 tahun yang lalu gue interview buat jadi operator telepon dan melewati tangga yang sama dan hari ini gue masuk sebagai staff. Dan setelah menunggu selama 6 bulan dan sempat berfikir ‘ya sudahlah’,, bahkan berkomitmen pada diri sendiri kalau my Europian Company will be my last career forever atau paling tidak sempat berencana untuk menapaki tangga karir disini, di perusahaan Eropa ini saja, ternyata oh ternyata…   
   
What a small world isn’t it??

Notes:
Schlumberger adalah perusahaan Prancis yang memproduksi meteran Kwh dan sekarang diambil alih kepemilikan sahamnya oleh Itron, yang bermarkas utama di Wasington, AS.
 

6 Okt 2011

My Fren is Rusmana

 

Pertemanan aku dengan seorang Rusmana bisa dibilang aneh, bisa dikata ajaib atau kalimat gila juga cocok, bahkan kalau sampai ada kometar yang mengatakan ‘ada sesuatu antara kami”, yach entahlah.. aku hanya akan menggeleng sedikit, dan akan mengangguk berkali-kali… so, what  the meaning ??  hehehe.. Aku secara pribadi memakai kata sinting sepertinya (agak) lebih tepat.. kalimat sinting ini (menurut aku lho) ada diantara kewarasan dan kegilaan yang 50-50, kondisi yang ambigu, berawarna abu-abu, the thin red line bahasa kerennya, taelaa… jujur, sering kali aku sendiri menyadari kesintingan itu ada diantara kami. Dari kekonyolan tingkah laku dia (yang pastinya aku juga punya andil menimpalinya, hehehe..) pertikaian kita yang sesungguhnya bukan masalah kami, tapi kebiasaan “ngurusin temen susah” ku nyaris membuatku membunuh seorang pria bodoh bernama Rusmana

Pertamakali kenal dengan Mas ini (waktu itu dia masih mas-mas lho…) sama sekali tidak ada yang istimewa, wajahnya tidak, style-nya pun tidak, Cuma yang  cukup eye catchy waktu  adalah gayanya yang feminim, yang kemudian ke feminiman nya inilah yang membuatku menjadi maskulin dan berusaha melindunginya..kyaaaaaa…

Pekerjaan tolol pertamanya adalah mengatur stationary, tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Seharusnya, kecuali dia disuruh oleh bos-nya -seorang perempuan matang yang sama sekali kurang dewasa yang belum juga kunjung menikah saat itu- yang lalu membuat perintah  membuat penyimpanan dengan alas sejenis styrofoam dan agar diatur  semua stationary tersebut berdiri. Dia bingung tapi aku masih menimpalinya wajar, (toh dulu juga aku pernah mengurusi stationary-pikirku) sampai kemudian dia membuat lubang2 kecil itu untuk ukuran pinsil/pulpen, penghapus, cutter dll agar semua posisnya berdiri.. are you kidding me pikirku, ini mulai aneh.  Tidak sampai situ pekerjaan tololnya, membantu melayani teman-teman baik si ibu ini menjadi bagian dari Job desk bapak Rusmana… 

Yang paling membuat aku gemas adalah bagaimana dia curhat dengan segala ‘kekejaman dan kekasaran” si Ibu Bos wannabe ini, dan sebenarnya walaupun tidak curhat dengan mata telanjangpun sehari-hari kami semua bisa melihat, bagaimana seorang laki-laki diperlakukan dengan sangat bodohnya. Angkat telephonelah salah, simpan file salah, tulisan salah, fotocopy salah dan entah kesalahan-kesalahan apa saja yang selalu semua pekerjaan Rusamana salah. That’s for sure.. sampai kemudian ada anekdot diantara akami mengenai ‘nasibnya’..
“schedule hari ini apa ya?? Hmmm, pagi diomelin, siang diomelin, sore diomelin…” 

Sering kali dengan amat sedih hati dia bercerita bagaimana ketakutanya dia dengan  pagi. Rasanya berangkat kerja menjadi suatu momok yang menakutkan, terus berpikir ketololan apa lagi yang akan diterimanaya, hinaan apalagi yang akan diguyonkan si Ibu dengan tak berperasaannya, dan bagaimana teman-teman baik si Ibu akan ikut mempermalukanya. Berbulan-bulan aku hidup dalam keluh kesahnya, dan aku secara Pribadi memang sudah muak dengan kelakuansi Ibu GA ini… OMG, jangankan dengan orang selemah Rusmana (paling tidak begitu aku menilainya) dengan alasan dia orang lama  dari pada teman-teman lain di kantor, dia memang  memegang  kuasa penuh atas semua aturan dan UU perusahaan. Tentunya teman-teman baiknya juga boleh mendapat privilege khusus, itulah selalu jadi tamengnya bahw dia fair play. Aku dulu menyebutnya  senioritas “model plonco SMA”

Akhirnya aku (dan sebenarnya sebagian teman-teman lain juga) menyarankan Rusmana untuk resign.. setauku sesungguhnya seorang Rusmana bukan orang susah yang tak makan tanpa bekerja, Bapaknya toke beras didaerah Karawang, kakak-kakaknya punya usaha sendiri.. mungkin karna kemanjaanya inilah dia bangga dengan pekerjaan yang didapatnya, tempat dimana dia “berharap” bisa beraktualisasi diri tapi kenyataanya???....    

Disinilah aku mulai kecewa dengan Rusmana, setelah resign 2 hari, seperti kami duga sebelumnya  Ibu GA ini kelimpungan dengan pekerjaanya, lalu mencari tau soal Rusmana… berharap dia kembali lagi (walau kami tau kebodohan si Ibu ini, dia tetap dengan sikap arogan-nya)… kemudian bagian paling aku benci, Rusmana tau dia dicari, kemudian dengan (entah apa orang lain mengartikan  ini,..) - aku menyebutnya tolol- dia menelpon si Ibu dan besoknya dia bekerja lagi. Tidak ada pemintaan maaf  disini!! Not to me tapi ke Rusmananya…
 

Demi tau aku akan protes dengan keputusan ini, Rusmana dan si Ibu Nampak mulai berkolaborasi, tidak lama kok tepat seperti yang aku selalu tebak. Tingkah si ibu makin rusuh karena sekarang bukan hanya dia yang  ‘memerintah’ Rusmana dengan konyol tapi ada seorang teman baik si Ibu ini yang juga diberi kuasa untuk menekan teman –bodoh-ku ini.
Jadilah aku ada ditengah-tengah, mendapat keuntungan dengan “kesalahan-kesalahan” yang ada diantara si Ibu dan Rusamana. So sesaat aku memegang falsafah “musuh dari musuhku adalah teman ku.”  fuiihh…walau banyak mengutuk kebodohan Rusmana dan sering “bermain mata” dengan si Ibu, pada dasarnya heart never  lie, aku tetep menempatkan Rusmana sebagai my real block.

Tapi kondisinya terlanjur basi, dengar sadar aku tau dia punya hak memilih jalan hidupnya, dia berhak menikmati pembodohan-pembodohan si Ibu, bukan urusanku pula kalau dia jadi sering memuja si Ibu dan menyelahkan dirinya yang memang teledor,.. tapi kenyataanya aku tetap sakit hati tiap kali melihat pembodohan itu terjadi, kemudian aku akan tetap mendengarkan curhatnya kalau dia ada masalah dan  kemudian kegeraman ku akan timbul lagi saat dia luluh dengan ‘kebohongan’ si Ibu ini… demikianlah bertahun-tahun kami lalui pertemanan ini persis dengan penggalan lagu BBB “putus nyambung, putus nyambung..”.. dan sesungguhnya ini adalah 2 orang dengan kebodohan yang sama… hmmmm

Oktober Oh Oktober

October 1979, bulan dan tahun aku lahir.

20 tahun kemudian.
December 1999, aku melahirkan bayi perempuan pertamaku yang kami namai Jane, terinsppirasi oleh nama Jean, tokoh dalam cerita yang diadopsi oleh srigala dan berjiwa ksatria.  Lahir diusia aku masih labil, penuh emosi dan gairah usia muda, sedikit pengalaman dan lebih banyak percaya pendapat orang.

10 tahun setelahnya,
October 2009, Baby Grace,  bebeb, princess.. begitu aku membiasakan memanggil anak ketiga kami,putri ke duaku. Lahir ditengah usia ku yang –menurutku- jauh lebih matang, kondisi ekonomi yang jau lebih baik daripada 10 tahun yang lalu. Lebih berpengalaman, dan sudah banyak baca Koran serta mengerti buka internet… huuu

Grace Mona Rachaellea, sejak awal kami (dan banyak orang lain juga) menduga bahwa bayi yang akan  lahir ini adalah laki-laki, katanya karena bentuk perutku yang bulat dan juga karena lamanya aku mengandung yaitu 42 minggu, meleset 3 minggu dari perhitungan kami juga bu bidan. –kata orang-orang siy bayi laki-laki suka lahir lewat dari 39 minggu--.

Benjamin Jala Lincoln, nama yang sudah aku matangkan dalam perumusan juga doa sekarang menjadi uap. Untuk sesaat aku dan suami kebingungan,  tapi entah bagaimana nama Grace mendadak begitu lekat dikepalaku. Suami sempat agak protes dan menginginkan namanya ada disisipan nama bayi kami.  (ini sih obsesinya sejak dulu..hadeh..)  Setelah merangkum ide ku dan pemikiranya, tercetuslah nama Grace Mona, (nama bapaknya Monang) Rachaellea (yang ku kutip dari nama Ibu bangsa Israel yang pertama Rahel dan Lea tapi dalam spelling Inggris).

Pertumbuhanya bisa dibilang lambat, bahkan dibanding si Abang (yang menurut kami juga agak lambat jika dibanding si Sulung) angkat kepala diusia hampir 6 bulan dan berjalan umur 1,5 tahun. Tapi dalam semuanya aku sangat bersyukur, emosiku jauh lebih terkendali, pengetahuanku tidak lagi “kata orang” makanya aku tidak terlalu memepersoalkan semuanya.

Sering aku sedih mengingat bagaimana aku membesarkan Jane 10 tahun yang lalu dibanding dengan Grace saat  ini, kasihan gadis kecilku yang sudah beranjak gadis itu. Banyak luka yang tanpa kusadari sudah aku torehkan dalam dihati dan fisiknya.. Momie loves you  Jane, so much..buah cinta mula-mulaku, kebanggaanku sebagai perempuan yang pertama, dan oabat luka hati  yang paling manis sepanjang masa..

October 2011
Setelah 2 tahun, kami mulai merasa ada yang salah dengan perkembangan baby Grace, dia sangat abai ketika dipanggil namanya, tapi  sering juga dia sigap dengan suara pesawat terbang atau suara motor si papa. Memang kalau  coba ingat-ingat lagi, dia lebih banyak cueknya ketimbang terganggunya walaupun banyak suara hingar binger disekelilingnya.

Walau berusaha sabar, ayolah aku harus bangun dan realistis.. 2 tahun adalah masa lucu-lucunya bayi dengan segala celoteh dan kecentilanya, dan itu hanya sedikiiit sekali kami rasakan dalam pertumbuhan Grace. Kelucuanya lebih kepada kebiasaanya meniru apa yang dia lihat, misalnya gaya tinju si kakak atau smackdown nya si abang atau rajinya si Oppung (gak bisa lihat sapu, piring, gelas atau barang apapun semua akan dibuang) hehehe… 
Sempat kami duga autis dan bawa ke dokter, sebenarnya jawaban si dokter tidak juga cukup memuaskan tapi belajar dari referensi internet dan penjelasan yang sedikiiiiit dari dokter, mata bayi kami berbicara dan matanya menangkap tatapan lawan. She is not autism..

So sekarang kami membawanya ke dokter THT saja, memastikan adakah yang salah dengan pendengaranya. Karna hanya kata “mama” yang belepotan dan bahasa planet lainya yang dia kuasai diusianya yang sudah 2 tahun ini.. .hmmm. Apa yang aku pelajari saat ini adalah, apapun adanya my Baby Grace… inilah aku yang mengaku sudah lebih dewasa dan matang secara emosional, lebih mengerti rencana Tuhan ketimbang 10 tahun yang lalu. Aku harus lebih siap dengan segala kondisi, tidak perlu ada malu, takut, tertuduh atau perasaan martir lainnya atas segala yang terjadi.. perasaan yang seharusnya sejak 10 tahun lalu aku sadari..atau (miliki lebih tepat)..

Love you all kids..
Dedicate for : My daughters..Jane and Grace Siregar   
    

28 Sep 2011

Antara Getar dan Geram....

Drrrt..drrrttt, fuihhh.. iya walaupun sudah ku setting benda super hebat abad ini ke ‘tanpa suara’ tetap saja aku akan tetap bisa tau kalau ada pesan yang masuk, bahkan tidak jarang setelah sengaja ku tinggal dikamarpun suara bereppppbb nya itu akan mendesis disanubariku (kyaaaa…) dan kemudian memaksaku untuk menjamahnya.. sebenarnya ini kesalahan siapa pun patut direview ulang lagi, karna namanya juga handphone, alat komunikasi alat yang abad ini paling banyak membuat orang gatal untuk punya seri terbarunya. 

Ya memang guna utamanya adalah  untuk komunikasi, kalau kemudian fungsi ini menjadi dual.. misalnya ‘jembatan merah’ dengan selingkuhan, penantian atas sebuah ‘harapan’ yang saya maksud –panggilan interview lho—hehehe, dan lain lain yang kalau dirunut-runut memang akan berujung pada komunikasi juga sih tapi kemudian manfatnya lebih banyak  kepada urusan personal tendesius (syukur-syukur yang ditunggu diujung sana, atau yang diujung sana yang diharapkan kalu justru sebaliknya maka jadi lah handphone ini kehilangan visi utamanya) apaan  siyyy..

Untuk kesekian kalinya, dibilang ratusan berlebihan..memang pula gak sampai seratus tapi dalam tahap aku bukan banci handphone (klaim aku siy begitu) pusing bin kesal juga kalau sms yang kuterima dari orang yang sama ini sudah lebih dari 8X. Pesanya pun kurang lebih sama “jangan lupa ya,” “tolong gue dong”, “bisa sekarang gak loe hubungin”, “bisa kah, dapatkah, adakah…” bla bla bla..

Ini bukan kali pertama aku menghadapi hal-hal sedemikian, sisi kemanusiaanku selalu tergugah untuk menjadi ‘penolong siapapun’ selama aku bisa, aku pantang tidak membalas SMS dari kawan, aku berusaha ada terutama waktu teman susah bukan hanya pada masa keemasanya saja.
Tapi tidak jarang aku merasa tolol sendiri, aku merasa berlebihan dengan segala jiwa ‘pahlawan kesiangan’ ini. Pernah aku kerepotan sampai ribut sama adik ku soal pulsa telpon rumah yang membengkak waktu aku setengah mati mencarikan pendeta untuk teman yang MBA. Atau sampai melewatkan jam malam demi tidak mau ketinggalan mengucapkan HAPPY BIRTDAY pas di jam 12 malam buat teman, yang kemudian dia jawab “thanks ya bu, gue baru baca kemarin siang, HP gue mati”… mampus!! Batinku mencela diri sendiri. 

Sebenernya itu masih  tidak seberapa, pernah pada suatu  masa disekolah, aku, sebagai ketua kelompok heboh dengan “thema” upacara yang akan datang, yang ‘katanya’ biasanya dicanangkan sehari belum hari H-nya. Jadilah 2 hari itu, aku sok sibuk nonton acara berita yang sama sekali tidak aku mengerti demi “sang thema”, setelah dapat paginya aku tergopoh-gopoh kesekolah, dan Cuma heran waktu MC-nya sudah duduk ditempat, kemudian kata kakak senior bilang dengan enteng “udah dapat dari kepala sekolah”. Masih kental dalam ingatanku, scene pagi itu… what’s wrong apa who’s wrong actually.

Satu kali teman baikku berkisah, betapa sedihnya dia dengan masalah keluarganya.. terpikirlah olehku sepanjang  malam, sampai searching-an di internet bagaimana hal-hal sedmikian bisa terjadi.. agak mengejutkan ketika melihat  status “bahagia” dengan suami tercinta. Again I ask my self, what’s wrong, whos’ wrong.. did I take it too much. Did I have different brain di banding manusia normal lainya.

Kembali ke handphone diatas… taelaaa.. hahaha…

Sebulan yang lalu aku menawarkan pekerjaan “pembantu” di kantor ku yang (kembali menurut aku) lumayan elite. Lumayanlah, kerja kantoran, gaji cukup sama dengan SPG-SPG di Mall tapi tidak berdiri  tidak kepanasam, tidak pula kelaparan. Enough I guess when you are jobless. Mungkin I will loved to have it when I am in the same position. Dengan enteng si teman bilang “sorry War, gue maunya yang status jelas, lu bantu gue buat kerjaan yang lebih  pasti, lu masukin lamaran gue buat yang posisi bagus” dan semua sudah pula aku lakukan sebulan yang lalu. Tapi belum ada jawaban, sedangkan yang ini aku pastikan malam  ini  pun pasti langsung kerja. Kita menyebutkan  temporary helper.

Dengan sedikit kesal, ku oper penawaran ini ke saudara yang “ilmu kantoranya” jauh dibawah standard bahkan lebih mendekati tidak bisa. God save the Queen (artinya???? Hehehe) She’s  not so bad actually.
Sebulan kemudian si teman baik ini bertanya, bilakah ada perkerjaan  untuknya, apa saja, model apa saja.. sangat-sangat butuh. Terbersit kesal dihatiku mengingat kejadian yang lampau dengan kemudian berencana -cuekin aja-   tapi  kemudian aku baru sadar kalau ternyata aku sudah terlibat dalam usaha pencaharian kerja untuk si teman ini, sms harianku paling tidak lebih dari 15X berisi tanya jawab mengenai perkembangan lowongan yang ada…I hate it, I am  getingt suck, I am disturbing but I am still here, menjawab sms dengan sejuta ‘kemarahan’ di alam bawah sadar.. didunia HADES….urghhh

Padahal belum lekang diingatanku setahun lalu ketika keadaan masih terbalik, ½ mati aku sms dan telepon sekedar menanyakan lowongan yang dia tawarkan, balasannya  5 banding 100.. mau ketemuan pun sulitnya minta ampun... fuihhh, mau marah rasanya tapi hak dia khan?? 
What’s wrong with me.. aku tipikal orang sibuk dan senang menceritakan bahagiaku, dukaku, pengetahuanku  pada teman-teman baikku,, bukan tidak jarang dicela, dibalikin, diseloroh menjengkelkan. But I still love it, aku akan selalu senang bercerita seperti aku senang mendengarkan kisah mereka. I am in love with all my friend.

Padahal bukan 1 atau 2 kali teman baikku akan bertanya “anak lu kelas berapa?” padahal baru kemarin aku bercerita atau “eh, ini khan bagus” padahal itu yang  minggu kemarin kita perbincangkan. Atau memforward email yang 1-2 bulan  yang lalu aku kirim ke alamat “teman-teman special”.
Aku Ratu Repot kata suamiku, aku akan heboh merencanakan segala sesuatu dengan baik dan sempurna, aku berharap semua puas semua senang (Huuuu..nampak sombong but I suer it’s real!!), kurencanakan setiap detail dengan sempurna,, aku ratu kecele kataku. Yang ditungu juga gak ingat, yang diperhatiin  ya lupa, yang aku anggap teman juga no act, yang aku jaga-jaga melenggang tanpa ‘sadar’ (apa tidak mau sadar, I just don’t know ??)

Banyak kali, sering kali, kemudian aku sadar telah ditololi oleh kebodohan ku sendiri, aku dijatuhkan oleh sok pahlawan kesiangan ku sendiri. Dan sampai hari ini, suami ku masih menyayangkan over concerning-ku yang keseringanya sia-sia, dan sampai hari ini pun aku masih dengan kekesalan atas kebodohan ku itu.. but then I don't know how to ignore. Aku Cuma bisa berteriak marah pada bantal dikamar.. huh.. 

Drrrt..drrrttt… kesal ku tertahan, sms teman datang.. dengan kesal aku membalas.. suami ku geleng-geleng di pintu kamar,,

10 Agu 2011

1 Jam Bersama

Sore itu aku terganjal pengiriman e-mail yang bermasalah, alhasil pulanglah aku agak telat. Dikantor kami setelah kamu telat beberapa menit, ini akan menjadi beberapa jam kemudian. Kerena selisih antara bus pengantar  karyawan  jam kantor  resmi dengan  mobil  tambahan  pengantar  staff  berbeda  sampe 3 jam kemudian.

Seharusnya aku Cuma selisih 30 menit (bahkan kurang) dengan jam pulang utama, tapi apa daya.  Peraturan sudah menetukan demikian. Sembari menunggu mobil ke-2 dengan agak sebal aku menunggu di loby.

Sejam kemudian aku melihat Ibu sekretaris (tapi dikantor kami lebih disebut Personal assistant) akan beranjak keluar. “Mau pulang bu?”, tanyaku. Dia mengangguk ramah sejurus kemudian aku minta ijin menumpang dengan ibu PA ini dan diperbolehkan.

Perjalanan dari antara Cikarang - Bekasi ini kemudian menjadi begitu berbekas dibenak aku.
Ternyata si ibu PA yang umurnya 1-2 tahun lebih muda dari aku ini nyaris punya pemikiran yang sama denganku. Dari beberapa kali pertemuan dengan ibu ini, aku lebih menilainya cuek dan agak berkesan judes. Tapi  setelah bercakap-cakap hampir 1 jam kesan itu memang tidak menjadi hilang, tapi kemudian ada banyak hal yang aku salut dengan si ibu ini.

“Susu anak gue juga Danxxx, So what?”.
“Gue belum butuh BX Maw, henpon gue masih berfungsi kok”.
“Gue engga mau”, katanya berkali-kali.
“Belum mau kali ?”, bantah ku
“Emang gue engga mau. Ngapain mesti punya credit card kalau pake debit juga bisa”, katanya.
“Gak tuh, gak kepengen iseng selingkuh, gak mungkin juga kali ada yang mau sama ibu-ibu”, enteng dia berucap sambil senyum tulus.

Usianya belum lagi 30th, rumah ada, mobil ada, karir ada, suami juga bekerja, tinggi sekitar 165-an cm dengan berat sangat-sangat ideal.

“Gue gak kepengen satu NPWP sama suami, harus ada pembagian harta”.
“Maksudnya ?”, tanyaku rusuh. Karna menurut aku harta gono-gini identik dengan pengertian cerai... hohoho.
“Ya engga aja, semua harta harus atas nama gue... ya mobil, rumah, motor.”
“Karena emang lak-laki juga gak bakal mau ngurusin gituan khan ?”,  imbuhnya lagi
“Makanya elu yang bawa mobil tiap hari ?”, tanya aku lagi.
“Ya iyalah. Ayolah dia khan laki-laki biarin aja naik jemputan... kecuali penting banget baru dia bawa mobil deh”.
“Yah punya laki mah jangan terlalu manja kali, gue khan cewek masak gue ngalah naik  jemputan daripada laki gue”, tambahnya dengan semangat.

Aku terdiam, bukanya bingung bukanya gak setuju, tapi INI GUE BANGET pikirku!! Walau dalam beberapa hal ibu PA ini masih lebih extreme. Prinsipil mungkin lebih tepat ??.

“Semua harta atas nama gue. Yang nyicil, ya laki gue lah.. Gue mah urusan rumah tangga”, tawa kami sama-sama tergelak.
“Dasar nenek lampir”, canda ku dalam kekaguman.
“Ya war, emang harus gitu kali. Khan perempuan wajar dong dapat privilege lebih”.



I love it… absoloutly. Perempuan sudah SEWAJARNYA (aku tidak bilang 'seharusnya' lho disini ...) dapat privilage lebih. Kenapa, karna... emang harus begitu kali. Begitulah kata teman aku tapi kalau menurut aku karena perempuan punya tanggung jawab lebih.

Ini adalah ironi dari pada kebanyakan pemikiran perempuan lain yang kukenal.
“Lo tau gak sih, anak gue masak susunya SXX, padahal gue kenalin dengan susu Bexxx”
Aku sih mengartikan 'masak'-nya ini seolah-olah merk susu itu diciptakan bukan untuk kelas-nya dia.
“Sepatu gue kelihatan murahan ya? kemarin gue abis beliin dompet laki gue yang harga 300rb...”
Dan aku pernah menemaninya belanja. Dan OMG, aku nyaris  gak percaya dia bisa menghabiskan duit 300rb untuk sebuah dompet yang terselip dipantat. Sedangkan untuk yang menempel ditubuhnya... cara menawarnya… unspeakble, only God knows!!!

Dalam keadaan kesal seorang teman pernah bercerita…
“Kurang ajar khan, gue yang nyicil mobil selama ini.. dia tinggal pake, kok berani-beraninya dia tipu gue” kata teman perempuanku ini. Urusan dia siy, tapi waktu itu ceritanya benar-benar membuat aku patah hati… what you call it??? Aku masih gak ngerti sampai detik ini…

Dengan gaji cukup-buat pandangan aku mungkin lebih kesahajaan atau ke-cuek-an si ibu PA ini cukup menohok aku. 3 pasang sepatunya yang terhambur di mobil juga bukan merek yang “wah” banget, masih sama dengan kemampuan kantong aku. 

Jika dibanding dengan beberapa teman wanitaku yang gajinya... sekali lagi hanya Tuhan yang tau— dan penerima slip gaji pastinya... Tapi merk sepatunya “maksa”, menurut aku.. ow ow ow.

Selama ini aku merasa menjadi orang yang cukup bersahaja, walau gajiku belum sangat besar sebenarnya. Tapi jika dibanding dengan pendapatanku tahun lalu ini memang peningkatan. Seharusnya aku sudah mulai bisa mencicil  beberapa gadget kelas menengahan sekarang, tapi belum aku laksanakan. Bukanya belum mau tapi entah kenapa yaa.. belum terlaksana aja.

Sejujurnya ada 2 arus kuat dikepalaku (atau dihati kah?? ya gitu dey...) :p

Aku mengkalim diriku tetap sebagai orang sederhana yang gak mau maksa, aku MAU bukan karena latah/trend tapi karena BUTUH…titik.  Itulah Idealisme aku!!!
Tapi sisi yang lain, begitu kuat memaksaku untuk latah dengan trend... Ayolah, teman-teman tau standard ku sudah mulai naik. Seharusnya aku juga mulai menyesuaikanya, aku juga perlu dunk sedikit pamer dengan “keadaanku yang baru”… Aku benar-benar “sempat” merasa menjadi pribadi yang ingin maksa, pemer dan  sok-sok an... But thank God karena keadaan pula semua belum terlaksana. 

Tapi pada kenyataanya, terakhiran ini keingina maksa itu sempat mengacau pikiranku. Makanya sempat 2 kali aku mulai apply kartu kredit. Walau sebenarnya juga ini bukan buat latah-latahan tapi karna ada keperluan yang mendesak. Tapi lagi-lagi sempat  terlintas dipikiranku untuk  lebih maksa 'keinginan yang lain'  jika kartu kredit ada ditangan, hehehe…

So, sejam dengan ibu PA seperti memaksa aku untuk mereview siapa dan bagaimana aku sebenarnya. Why should bother dengan komentar ‘barang murahan’?  Ternyata juga aku bukan alien  kok walau tidak pakai hanpon model sekarang ?... mungkin ketika saatnya tiba aku baru akan beli, dan gak masalah juga ketika ‘masa’ itu akan tidak bersamaan dengan trend di masyarakat... gak penting juga khan? 
Juga bukan  merk susu mahal yang akan membuat  'kelas' otak  anakku naik. Dan yang paling aku selalu ingin bagikan dengan semua perempuan adalah SUAMI+ISTRI=SEDERAJAT. Sama-sama punya tanggung jawab yang sama dalam chasing yang berbeda. 

Maka WAJAR kalau perempuan menerima sedikit (atau sykur-syukur banyak seperti ibu PA ini) privilege dari setiap ‘kerjasam' keluarga. Kalimat ini sudah sering sekali berserakan tapi hanya sedikit orang yang benar-benar memaknainya,

“perempuan diciptakan bukan dari kaki laki-laki untuk bisa diinjak, bukan pula dari kepala laki-laki untuk selalu dijunjung.. tapi dari tulang rusuk laki-kali untuk dapat berjalan sepadanan dan  “berbagi jiwa” bersama”..

Aku suka menambahkan kata “berbagi jiwa” karena kebanyakan perempuan cukup bahagia karena bisa 'berbagi tubuh' dengan suami padahal  jiwanya belum benar-benar saling berbagi.

Cikarang, 8 Agustus 2011