15 Jun 2011

If Love Is Blind

Cinta itu Gila, Cinta itu Buta, Cinta itu Bodoh…

Kalimat yang menurut aku tidak seharusnya jadi aplikasi secara harafiah dalam hidup. Tapi kenyataanya, mata dan kepalaku menjadi saksi betapa gilanya cinta, betapa butanya cinta, betapa bodohnya cinta memilih atau dipilih...  I just don’t get it, I just think stupid love is belong to stupid person. :p

Adalah cinta masa muda, cinta yang pernah ada 12 tahun yang lalu. Cinta yang buat pria baik ini adalah cinta pertamanya. Berbeda dengan si perempuan yang sudah ‘mahir dalam perpacaran’. Ini semua istilah yang aku karang dengan sendiri, jadi tidak usah memaksa untuk menemukan artinya di kamus perbahasaan. Kami, demikian aku mengartikanya, karena kami adalah sekumpulan pasangan yang tidak jelas statusnya tapi mengkalim sebagai pasangan-pasangan yang kebetulan saling berteman. 

Tidak ada yang istimewa dari kisah-kisah percintaan ini. Seperti umumnya saja, ada berantem, ngambek, marah gak jelas, makan bareng, curi-curi ciuman dikampus kecil yang berbentuk ruko itu... (upss, sensor XXXX hehehe..). Juga cabut dari kelas gara-gara pasangan yang satu kebetulan ada dikelas yang sama kalu lagi ‘marahan’... Ow ow ow.

Tapi kisah kami 12 tahun yang lalu sangat istimewa. Karena disisipi banyak adegan yang menurut aku –sebagai anak rumahanagak-agak ekstrim. Misalnya, pertengkaran yang berakhir pemukulan, sampai berdarah-darah segala. Kekesalan (yang entah apa awal mulanya) yang kemudian aku tau adalah teman ku ini akan minum 5-10 macam obat warung yang terkenal dengan dosisi tinggi sambil minum bir, pencobaan bunuh diri, lempar-lemparan property mahasiswa, fuihh...

Kalau dimasa sekarang kebanyakan perempuan menjadikan rokok semacam gaya dalam  begaul. Maka dimasa 12 tahun yang lalu ini, aku melihat temanku perokok ini sebagai  perokok gila bukan ‘perokok gaya’.  Bagaimana tidak, dia akan merokok tanpa melentik-lentikan jarinya, dia akan merokok sambil berbaur dengan tukang-tukang ojek yang mangkal  tidak jauh dari tempat kami. 

Segala macam rokok akan dihisapnya tanpa tedeng aling-aling. Tidak jarang aku memergokinya menghisap rokok yang merk-nya  hanya dikenal di daerah pedalaman yang jauh dari peradaban... hahaha.  Mungkin perokok paling bersih yang pernah kukenal ya perempuan satu ini, hisapan rokonya akan benar-benar sampai di garis batas tembakaunya...

Hitam manis, bertubuh mungil, bibir seksi, rambut panjang. Walaupun otaknya pas-pasan aku selalu menilai teman ‘bokis’ yang punya hobby bohong dan nyanyi ini cantik. Kemudian, kita dan kami semua cuma bisa tertegun ketika  tau dia ‘jadian’ sama anak kelas sebrang yang wajahnya, dompetnya, otaknya… OMG!!



Tanpa bermaksud menjadi pengkotak- kotak orang, tapi sumpah tidak ada bagian yang bisa dibanggakan dari si cowok ini. Malahan isu terakhir, bahkan aku sendiri ikut menyelidikinya. Kalau si cowok ini sudah menghamili orang dan ber-anak (I saw the baby)... So, cinta apa nafsu (birahi) kah??. Aku masih mempertanyakan  ‘cinta’ mereka yang tetap berjalan tanpa geming.

Setelah 12 tahun terpisah, beberapa waktu yang lalu kembali kami berjumpa... Tanpa ada tetesan airmata. Kecuali teriakan-teriakan heboh dan tamparan-tamparan ‘persahabatan”. 

Maha daya Cinta,,, dengungku berkali-kali sepulang dari reuni kecil itu... Sepasang teman yang kisah percintaanya 12 tahun lalu dipenuhi darah dan air mata (bahasa hyperbola ku sih, hehehe..), sekarang sudah dikarunia 2 orang anak. And they just live happy now. 

Aku begitu exited melihat perubahan sikap si lelaki ini, hilang sudah kesombongan dan kekasaran masa mudanya. “Berubahlah Chu, udah tua udah sadar kali”, kata si istri, yang menurut cerita sekarang ambil alih control rumah tangga. It call love, menurut aku. "Sekarang dia takut ama gue", katanya lagi.

Satu kisah lama yang terjadi dengan teman ku yang lainya.
Hi apa kabar??”, sapa si lelaki dengan hangat dan mencoba akrab.
“Baik”, jawab si perempuan dengan pendek dan santai. Sangat sok cuek menurut ku.
Si lelaki mencoba untuk akrab dan memeluk, tapi dengan alasan “etika agama’ si perempuan menolak. Tidak ada obrolan  khusus antara kedua teman yang eks-an ini. Si perempuan nampak banyak mengalihkan bahasan dan perhatian dari yang dibicarakan… aku banyak menggoda keduanya.

Dalam percakapan-percakapan kami kemudian, banyak kali aku mencuri tatapan rindu dari si lelaki ini. Cinta yang pernah ada 12tahun lalu, aku bisa pastikan masih ada antara mereka. Si perempuan mungkin mencoba menafikkan, tapi dalam ekor matanya aku menangkap ‘masih ada cinta’. Si perempuan mencoba membanggakan anak-anak dan suaminya yang sepaham dengannya, bagaimana mereka begitu saling melengkapi dengan senyum dan canda tawa lepas. Terpaksa, menurutku.

Tapi entah kenapa dan bagaimana. Mungkinkah karena aku merasa bahwa aku sungguh-sungguh bagian dari drama ini, aku ada bersama dengan teman-teman ku ini sepanjang sejarah yang telah lalu. 

Seolah aku bisa  merasakan kemunafikan disana, aku seperti merasakan gairah cinta masa muda 12tahun yang lalu dalam bungkus 'etika'. Bola mata si lelaki dan perempuan ini jelas menyiratkan kerinduan yang dalam, kerinduan yang ingin dipuaskan tapi mungkinkah dan bagaimana bisa?. Kemudian, (sepertinya) mereka tidak tau harus bagaimana??.

Aku menangis dalam hati, seolah ikut menikmati  kegamangan  mereka. Kemunafikan tawa yang mencoba melawan perasaan. Aku seolah merasakan buncahan rindu yang tersedak di-dada… Kyaaa, nampak berlebihan kelihatanya tapi itu yang aku rasakan..

Hari itu aku bilang, maha daya cinta
Cinta masa 12tahun yang lalu, melukai kembali..
Cinta keluarga, memaksa untuk bertahan dalam norna..
Cinta bisa membuat gila..
Kalau tidak buta, bukan cinta namanya… katanya.

Fuihhh, mungkin aku bukan golongan pencinta sejati seperti itu. Akan tapi moment sesaat ini cukup membawaku untuk kembali mengingat  betapa cinta memang bisa membunuh…

(To my beloved dear friends... I love you all just the way you are, 052011)   

3 Jun 2011

3 Idiots

3 Idiots…
Untuk ke-2 kalinya aku menonton film India ini, dan perasaan yang sama kembali membuncah waktu aku melihat adegan per adegan. Pertama, hebatnya film ini adalah dimainkan oleh actor  kawakan India yang (pada jamannya-katakanlah aku -) bisa  dibilang paling ganteng, Amir Khan. 

Hebat ya, diusia kepala 4-an.. dia diubah jadi Rancho yang umurnya 20an. Tidak ada kesan maksa, tidak ada pula pias ketuaan pada wajah si ganteng itu.. Jalan ceritanya luar biasa, akting alami dan pesannya masuk akal, sedikit bikin sirik, banyak bikin kesal tapi sumpah I love it.. I Love it..and, I love it.

Apa yang membuat film ini istimewa?, buat aku pesan yang disampaikan “hampir” atau kalau mau jujur siy aku bilang "semuanya" (tapi kesanya aku kok  kayak sok tehe banget ya?? Hehehe)... persis apa yang aku pikirkan selama ini. Ketika (sering kali) Sekolah Tinggi itu Cuma jadi ajang  “harga diri”, kemudian mengesampingkan “nilai belajar” itu sendiri. Ketika kamu sesuai trend, ini disebut pintar tapi ketika kecerdasanmu diatas rata-rata orang justru akan bilang “kamu bodoh” bahkan ada yang bilang “bahaya”. 

 Lama aku hidup dalam pemikiran bahwa aku merasa cukup pintar dengan semua ‘kebisaan’-ku. Merasa aku pekerja keras, penuh inisiatif, siap dengan tantangan, tidak takut dengan tanggung jawab dan satu kelebihanku yang (tidak jarang) jadi kelemahanku juga adalah.. aku merasa berani memutuskan segala seuatu. Aku berani memutuskan sesuatu bahkan yang beresiko. 

Aku berfalsafah bahwa tidak ada kebenaran atau kesalahan yang abadi. Lalu yang perlu aku lakukan hanya-lah “memutuskan”, lalu kemudian biarkan waktu yang menjawab.

Tapi kemudian aku sadar cuma dengan bekal ijasah SMA, kepintaran-ku tidak akan pernah mengintip pintu lain untuk diberi kesempatan untuk memperlihatkan ‘apa yang bisa aku lakukan'. Sekolah tinggi tetap akan menjadi ‘syarat mutlak’, yang sampai hari ini pun aku masih menganggapnya sebagai suatu kemutlakan yang sangat bias..

Tahun 2007, aku putuskan untuk kuliah. Dengan harapan: sesuai dengan budjet-ku dan yang juga ‘sesuai keinginanku’... Ternyata sulit. Kemudian pilihan mengerucut pada 2 hal: biaya atau minat. 

Ketika kita memilih dalam kondisi yang sudah tidak sendiri lagi, banyak hal yang harus aku pikirkan... Dan klise, biaya menjadi pilihan utama. Lalu berharap suatu saat nanti dengan berbekal Sekolah Tinggi ini aku akan berjumpa dengan bidang ‘minat’ ku…

Banyak kalimat dalam film 3 Idiots yang membangkitkan gairah jiwa, tapi hanya sedikit yang sempat ku tulis. Kita perlu menantang hidup, karena kita buka robot... Hampir sama dengan kalimat Pastor Stephen Tong, hanya ikan mati yang ikut arus, ikan hidup akan melawan arus. Bukankah Salmon merupakan salah satu ikan paling mahal dan apa yang membuat Salmon begitu istimewa padahal didaratan kanada ikan ini begitu berlimpah?? (kalau lihat di chanel National Geographic, ini bahkan jadi santapan beruang). Salmon begitu dikenal sebagai ikan yang melawan arus, dia akan mencari hulu air terjun untuk menetaskan telur-telurnya.. Wahhh, ikan pintar khan?? (apa kurang kerjaan ya?? Hehehe.. cool).

Masalah tidak selalu selesai, tapi paling tidak kita tidak takut menghadapi masalah… keren khan?. Menikah muda, ‘terpaksa’ mandiri, hidup pas-pas-an, harus 'bisa'... semuanya sudah aku jalanani. Bahkan lebih banyak lagi dan sekarang aku telah sampai pada pemikiran ini.. masalah emang gak akan selesai, maka tabrak aja. 

Kembali mengutip kalimat ibu gembala Cipinang, “sepanjang manusia hidup, akan kontrak mati dengan persoalan!!”.  So what should I worried about?... 

Kyaa, gak seindah itu juga sebenarnya, banyak kali aku merasa takut dan bimbang. Tapi kemudian aku mencoba membangun diri dengan kalimat itu, “semua akan berlalu, masa expired masalah akan tiba segera”... kalau 3 Idiots bilang, “semuanya akan baik-baik saja”.

Kenapa kita mesti bersekolah hanya demi sebuat “gelar”? kasihan.  Fenomena yang umum terjadi saat ini. Kenapa kita tidak mencoba member makna pada gelaran S1 itu, kenapa kita tidak memberi nilai pada tiap buku yang kita baca, kenapa kebanyakan kita takut ‘bersuara’, kenapa kebanyakan kita bangga jadi follower sejati, bangga dengan sensasi yang tidak bermutu, kita takut dengan provocative yang tidak melulu salah, kebanyakan kita takut keluar dari zona nyaman… dan bla..bla... Kita banyak takutnya.

Aku merasa menjadi Rancho di film 3 Idiots ini. Rancho dengan segala sikap dan cara pandangnya terhadap hidup dan sekolah, kecuali  tentunya tingkat kecerdasan-nya jauh diatas aku. Hmmm. Ini mengingatkanku juga pada tokoh Lintang di buku Laskar Pelangi. Manusia-manusia dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa seperti ini selalu melekat dihatiku, bukan karena kepintaranya semata tapi bagaimana mereka memaknai kepintaranya.

Yah, mungkin Lintang tidak seberuntung Rancho (maklum film, semua harus happy ending..)... tapi aku tetap merasakan kesan yang kuat dari film ini. Kepintaran seakan mengangkat derajat manusia satu level dari yang lainya, tapi bukan kepintaranya yang membuat Rancho menjadi ‘istimewa’.  Dia hebat, selain karena dia orang miskin yang cerdas  adalah karena dia mau belajar, dia mau menjadi lebih dari yang dia bisa tanpa mejadi arogant. Akhir film juga tidak menggambarkan Rancho yang yang jadi pengusaha kaya raya karena ijasahnya, tapi dia bertambah pintar karena dia terus belajar.

Aku bermimpi dalam dunia nyata, aku dan kamu, dan kamu dan kamu… dan banyak dari kita mempunyai semangat Rancho. Semangat untuk pintar, untuk bisa, untuk tahu secara nyata.. bukan hanya nama dan gelar diatas selembar ijasah. Tapi dengan kepalan semangat untuk maju... dan tentunya tanpa harus menjadi sombong...

  

30 Mei 2011

Little Bro

Doaku hari ini  “Tuhan ajar aku untuk tidak lagi perduli, agar aku bisa lebih tenang melihat Johan, ajar aku untuk berhenti berfikir mengenai masa depan yang dia sendiri tidak pernah perduli.. Tuhan, aku punya anak, suami, teman, rekan dan banyak saudara lain yang masih perlu dibantu baik lewat doa maupun lewat dana”...
Huuuuu, aku muak, jenuh, capek, sakit hati, terhina dengan semua ‘hasil’ atas memikirkan dia.

Aku nangis hari ini, aku nangis kemarin... aku nangis setiap kali selesai bicara dengan Johan. Semuanya terasa mentah, hambar sia-sia , rasanya harga kotoran binatang jauh lebih mahal daripada semua hasil pemikiran ku sama dia…

Ih, Tuhan kok manusia bisa sebegitu sombong dan tololnya. Dirumah sudah tidak ada seorang pun yang mau bicara lagi soal ‘masa depan’ dia... Tetapi setiap kali bicara sama mama  selalu kuingatkan dengan tidak bosan walau terkadang hati tidak yakin juga, bahwa ‘selalu ada harapan” akan ‘ada jalan untuk maju’…

Ciang adikku, dia lebih illfeel daripada yang lain. Yaps, harus dimengerti juga, semua property yang melekat dibadan Johan memang bisa dibilang 80% sumbangan Ciang. Tapi apak akhirnya? Just flowing like water

Setahun yang lalu aku janjikan dia untuk kuliah, tapi jawabanya “ngambang”. Sepertinya, nyalinya ciut, mentalnya tempe atau emang dia gak  punya kepercyaan diri, dan masih ku coba untuk mengerti. Beberapa bulan lalu juga waktu kutawarin kuliah  malam, dia mau tapi JELAS kelihatanya mentalnya tipis... Lalu tidak juga ada jawaban yang pasti.   

Ketika hari ini kutawarin kuliah di kampus “sejuta umat”. Jawabanya begitu sombong  “gue mendingan gini aja dey”... What? Shocking !!!!

Dia malah membalikan kalau janji-janjiku dulu cuma palsu, kalau kalimat-kalimat tawaran kuliah dulu buat dia cuma omong kosong... kalau dia cuma anak terbuang yang tak dipikirkan dan diabaikan dan di singkirkan.. Jiahhh, NAJEZZZ.. kalimatku pasti.

I can run, but I cannot hide.. I can be pretend but I will always care...
Tapi hari ini. Gue tereak sama TUHAN... Lord, give me a heart of stone, give me a hand of an iron... Dimana gue hanya akan say “ooh..” *tanpa ekspresi dan gairah sama sekali demi  melihat semua aliran hidup dia. Then gue cuma akan menjitak kepalanya dengan tangan besi gue kalau sekali lagi dia berfikir gue pembohong... &%^%$#@!

Tapi waktu sadar. Tenyata waktu-ku 'tetap' habis berjam-jam buat surfing di internet. Dan masih terus coba cari kerjaan buat dia... 

Kyaaa, I hate you Jo... hate you so!! But anyway I will always put a lot of dream upon you... since you are my brother, the most stupid one. 
Ugrrrgggg..

3 Mei 2011

Guru Biologi-koe

Dapat ilmu bawel dari mana ya???
Suka bingung juga kalau gue ditanya gitu.. kalau soal judes, iya kata nyokab sih dari  kecil gue udah judez beud. Gue gak suka ditanya-tanya, gue langsung marah kalau disuruh makan pake “lauk non selera-koe". Gue suka merampas botol susu kakak gue… kata nyokab, gue suka memaksakan kehendak..  Padahal gue ‘engga ngerasa baget tuh’.. kwkwkw.
Tapi seinget gue, sampai gue SMP pun gue never famous as a talkative person. Gue lebih dikenal karena nama gue nyaris sama dengan nama kakak gue. Jadi banyak guru mengira ada pengulangan nama yang sama. Dan klise... semua guru akan nanya “kamu kakaknya ya?”. Gubrak,, secara postur gue emang lebih besar dari si sist ini dan wajahnya pun lebih imut-imut dari gue. OMG, I can imagine I will said this wonder word, haha..
Adalah guru Biologi gue yang imut-imut, kalau bicara halus lus lus. Suatu hari dikelas beliau kita praktek tanaman, (entah tanaman apalah gue lupa, tapi ada air digelas aqua githu) lalu tanpa sengaja seorang teman menumpahkanya di rok biru gue. Sebagai anak yang perfectionist, panic dan marahlah gue dengan kebasahan yang sebenarnya gak seberapa itu. Tapi si temen itu cuek bebek, bikin gue tambah keki setengah mampus.. Entah bagaimana dan seperti apa kemudian, (gue agak-agak samar dengan kejadian ini) menagislah gue. Dan kemudian, kakak gue ngebelain gue. Kita ngebantah si guru sambil nyalahin temen tadi. Oh ya, waktu kelas 1 SMP kita sekelas lho... Kyaaa.
Diusirlah gue oleh si Guru dari kelas. Kakak gue protes, lalu kena usir pula dia nih... Kebayang dong ‘kosongnya’ perasaan gue seperti apa?. Dunia baru, orang-orang baru, kawanpun belum ada, diusir pula diminggu pertama sekolah. 

Gue pertama-tama masih sebodo amat, tetep gue merasa gue yang terjajah, hihihi... Tapi kakak gue panic (I can see it from the gesture), so gue jadi ketakutan juga. Sepengalaman gue sebagai ABG pertengahan 90-an yang namanya orang-tua dipanggil ke sekolah is a hell. Belum di cap disekolahnya, belum dicaci dirumahnya, belum diungkitnya sebagai dosa –sepanjang masa— OMG, gak bangets.
Setelah 3 atau 4 kali di skors dari pelajaran Biologi, kakak gue ‘memaksa’ kita untuk menghadap si Ibu Imut ini. Dengan yakin gak yakin gue manut usul si kakak. Dengan gaya yang angkuh si Ibu menerima kami, nasihatnya tidak panjang tidak pula melebar. Hanya berinti “saya gak suka ada yang cengeng-cengeng dikelas saya”. Dan satu kalimat indah lagi, “oh, kalian orang Kristen, pantes aja”. Si Ibu menutup percakapan dengan mimik datar dan tangan seperti mengusir. 
Indah ya cin kalimat itu, so siapa yang bilang dikriminasi agama baru ada belakangan ini??.   

 Kemudian, belajarlah kami dengan normal. Ada satu kebiasaan si Ibu ini kalau mengajar, dia suka sekali melempar pertanyaan di kelas. Dia sering memancing murid untuk menjawab dan bertanya, dia suka kalau anak muridnya berinteraksi. Cara yang sangat bagus sih kalau dipikir lagi sekarang. Si Ibu suka kalau kita menjawab, kalau kita bertanya dan lebih senang lagi kalau sesama murid saling melempar pertanyaan.   

Sebagai anak SMP yang oleh orang tua tidak pernah diajarkan soal percaya diri, membangun diri, unjuk gigi dan bersaing, gue kok merasa menjadi murid yang tidak dianggap ya... Apalagi kalau gue mengingat ‘masa skors’ itu. 

Entah perasaan yang datang dari mana, tapi dengan sadar gue merasa ‘ingin dianggap’ oleh si Ibu. Gue ingin dosa gue dilupakan. Intinya ada rasa dihati gue waktu  itu, ‘gue mau dipandang si Ibu dengan tatapan 100%’. But I don’t know how. Tapi rasa itu memaksa maju.

Diawali dengan bertanya kecil, lalu mulailah gue menjawab pertanyaan-pertanyaan simple. Lama kelamaan  gue mulai berani bertanya banyak, bertanya  ribet bahkan  memutar balik pertanyaan... hahaha. Seingat gue inilah awalnya gue mulai bersuara didepan orang.  

Mungkin, tepatnya sih bukan mungkin, tapi pastinya ini adalah bakat gue yang sebenarnya, tapi tidak pernah gue ekplorer. Karena ‘suara’ gue lebih sering di definisikan sebagai ‘keanehan’ oleh keluarga gue. Mendengar celoteh-celoteh gue yang kadang menggunakan bahasa ‘benar’ atau kebiasaan vocal lebih sering ditanggapi dengan picingan mata atau bahkan senyum Monalisa, senyum sejuta arti oleh sekitar gue.

Pernah gue berfikir, seandainya gue tidak pernah kena skorsing oleh si Ibu Imut ini, seandainya gue baik-baik saja waktu itu, semisalnya gue mencukupi diri menjadi pribadi yang ‘jangan maksa’ –ajaran ortu gue dulu begitu–. Mungkin gue tidak akan se talkative hari ini. Mungkin gue tidak akan dikenal sebagai Mawar yang bawel, pastinya gue tidak akan ditunjuk-tunjuk sebagi juru bicara masalah...(gue tetap menganggap ini sebagai kehormatan, walau masih dalam level-level sederhana)

Semuanya belum jadi cerita yang istimewa. But somehow, deep in my heart gue senang menjadi pribadi yang suka ngomong. Walau terkadang suara gue cuma dimanfaatkan atau bahkan cuma dijadikan tameng...   , I don’t really care, actually I care that now I know where I want to go, I know how to sound my soul… and I know why I want to talk...  

Someday kalau gue sukses dengan ‘suara’ gue, semoga gue punya kesempatan untuk bilang terimakasih sama Ibu Marfuah, Guru Biologi SMP 158.

 For better or worse, you change my view!!

21 Apr 2011

Ibu Manager

Bulan Oktober 2007, hari  Jum’at jam 12 kurang.
Gue malas aja turun untuk  makan siang. Jadi setelah ngambil jatah makanan, gue duduk lagi dibangku kerja. Ruang kantor kita engga ada sekat apa-apa, hanya lemari file setinggi 120cm yang memisahkan bagian gue sama bagian Keuangan. 

Samar-samar gue denger orang disebelah sana lagi ngegosip, padahal sih manager lho! Tapi menurut gue, wajar-wajar aja. Sadar diri, gue juga 'penyuka' gosip, hehehe... Tapi lama-lama cerita gosip itu makin panas. Baik bahasannya, baik juga yang ngomongin, dan juga gue. Nah lho,,, Jantung gue mulai dag dig dug. Ada namaku disebut, begitu kata lagu.

Bulan 5 yang lalu, gue pindah rumah. Sekalian  aja gue dan suami setuju buat mindahin sekolah si kakak. Secara gaji gue ‘gede’ banget, tidak cukuplah uang gaji gue menutupi kepindahan rumah plus pindah sekolah. 

Khan di kantor ada yang namanya loan, waktu gue mengajukan siy memang ini pinjaman kantor (pokonya diatas kertas bilang gitu). Tapi karena si ibu Manager ribet dengan system potong gaji yang emang gak seberapa, dan harus berhubungan dengan pihak manajemen. Maka dipembayaran ke-2 dia bikin deal sama gue, “anggap aja kamu minjem sama aku, jadi gaji kamu saya bayar penuh, terus kamu  cicil ke aku aja.”  

Jadilah pinjamam 2jt itu gue cicil ke ibu manager 3x lagi. Done pada waktunya. Gue bukan tipe yang suka menunda hutang. Bahkan kalau ngomong ideal, gue benci berhutang!. “Biar susah gak papa, asal hidup gak ada hutang”, begitu nyokab gue selalu mengajarkan.  

“Dia!! kalo bukan gara-gara gua sudah mampus mereka sekeluarga”.
 “Kalau bukan tangan gua yang ngasih dia duit, dikolong jembatan tuh anjing tinggal”.
“Dasar engga tau diri, engga tau terimaksih. Orang miskin, sombong”.
“Najis gua sama dia, orang kampungan engga berpendidikan”.
“dan bla..bla..bla..”. Yang intinya hinaan dan makian dengan kosa kata lainya.

Sudah beberapa minggu ini, gue lagi keranjingan acaranya Mario Teguh di O Channel. Waktu itu acaranya belum tenar banget, so I like it so much! Banyak kali gue merasa tercerahkan. Nah... Kamis malam Jumat beberapa waktu yang lalu, ada kalimat dia yang gue pegang banget. 

“Segala sesuatu yang tiddak meninggikan, membesarkan dan membangun. Just ignore”.
“Orang tidak suka dengan orang yang bebeda, semua orang berharap orang lain sama dengan dirinya, ketika dia sadari orang lain itu berbeda, dia akan terusik”.
Gue bagilah kalimat ini dengan suami. Dan kemudian dia nasihatin gue, “nah kamu sampai kapan masih akan selalu terpengaruh sama omongan orang? Kamu sadar khan kalu kamu tuh beda?... Inget, umur 20-30tahun adalah masa perubahan karakter, 40an mengejar karir dan 50an menikmati hasil”. 

Sejak pertama menikah, suami gue sudah pernah 'bagi' pemikiran ini ke gue, but I just ignore karena gue merasa ‘baik-baik’ saja. Tapi malam itu I take it so positive.
“Kamu jangan cuma senang dengan kata-kata seperti itu, jadikah rhema dihati. Ubahlah karaktermu, sebentar lagi kamu akan 30tahun. Kalau kamu gak berubah sekarang, kamu gak akan pernah berubah lagi”, begitu lagi kata suami. 

Masih hari  Jum’at jam 12-an lewat.
Dugaan gue bener, kalimat itu ditujuakan ibu Manager Keuangan buat gue. Dan sumpah mati sampai beberapa hari kemudian, GUE TIDAK TAU APA ALASAN-NYA. Anehnya, gue cuma deg-deg-an saat memastikan kalu mereka emang lagi ngomongin gue. Setelah yakin, gue biasa aja. Gak takut, gak perduli, gak terusik sama-sekali. 

Sampai jam istirahat selesai. Bahkan sampai jam 5 sore. Ibu Manager ini masih terus menerus memaki dengan sindirannya. Dari nama binatang, segala kemiskinan, segala kekayaan disebutnyalah dengan vulgar. 

“Gua nih anak orang kaya tapi gak sombong”, padahal setahu gue sih dia berasal dari kampong juga. “Emang orang, anak melarat aja sombong, angkuh, penjilat, ular...”. Semakin gue diam, kayanya dia tambah keki. Apalagi pas mau berpapasan (ditoilet, pantry, pintu atau tangga), gue langsung berbalik arah. Makanya dia tambah emosi dan terus (gaya) meludah dan memaki... cuah cuih la pokoknya.

You know what the most great??... Satu kantor diam! Bisu! Ketakutan! Menonton tanpa bereaksi. Hampir 15 orang diruang atas dan ada manager HRD. Bahkan sesama staf, teman-temen gue biasa makan bareng, tidak ada yang berani menegor gue. Bahkan... bahkan kemudian rekan se-department gue, sepanjang ibu Manager masih bekerja, TIDAK pernah sekali pun menegur gue.  

I’ve been totally ignore!!! So, demi kenyamana pribadi, gue pulang naik bus walaupun ada jemputan. Pulangnya, gue SANGAT beryukur sama Tuhan. Gue merasa luar biasa atas apa yang terjadi sama gue sepanjang hari itu. No ill feel at all...

Tapi jujur, ketika hari minggu gue mulai takut. Gue engga yakin, apakah akan bisa tenang lagi besok. Gila man!! Mawar githu lho, jangankan dihina kaya gitu. Ditegor agak gak soapn aja gue gak suka. Lupa diajak temen, gue bisa senewen mampus. Tapi ini, dicuekin TOTAL oleh semua semua teman dan dimaki-maki oleh seorang Manager Keuangan.
 
Kemudian... Sempat muterlah ide-ide konyol diotak gue. Ibu itu khan penyakitan, gue dorong sedikit aja dari tangga bisa guling, atau gue gampar aja trus habis perkara. Atau mobil barunya gue tusuk ban-nya, atau gue lempar aja computer ke kemukanya? palingan PHK... Tapi, tapi gue butuh pekerjaan banget, karena suami gue masih jobless. Tapi harga diri gue, tapi… semua muter liar dikepala gue.

Tibalah hari Senin. Kali ini si Ibu melakukan manuver lain. Dipanggilnya-lah tiap-tiap orang dari semua departemen yang ada untuk ‘dicuci otak’. Bagaimana gue tau? ya iya lah... dengan setengah teriak dan gayanya yang angkuh dia terus meracau, “akan gua hancurkan ya, dikira gua gak bisa bikin orang angkat kaki dari sini, lihat aja nanti. Pak lu tunggu  instruksi gua ya”. Katanya dengan semangat  sama manager HRD, dijawab dengan senyum gak jelas oleh si bapak.

Semua karyawan di interview (atau dicekok-in) diruang meeting, tanpa kecuali. Malah orang HRD dipanggil berkali-kali. Hebatnya lagi,,, tak ada satupun teman yang mau berbagi. I am forgotten at all... Just like last friday.

Cerita ini akhirnya berakhir, walapun gue gak bisa bilang bahagia. Paling tidak, akhirnya gue bisa mengambil hikmah besar. Sebuah pelajaran berharga dan mungkin akan gue kenang sepanjang hidup. 

Dimaki, dicaci, diabaikan, ditolak, ditelikung tanpa alasan yang gak jelas. Dan gue bisa diam.

 Ternyata,,,
Orang bisa gila tanpa perlu alasan. Ada orang yang mengaku  ‘besar’, tapi bisa takut sama orang yang dianggap ‘kecil’.  Untuk alasan yang juga engga jelas.


Keterdesakan bisa membuat kita tambah kuat, berjaya dan mandiri. Namun  satu hal yang paling gue ambil ilmunya adalah: gue akan lebih menghormati teman. Gue akan lebih menghargai orang lain. Gue engga akan pernah melupakan teman.


Karena jujur, bagaimanapun gue merasa sakit hati sekali. Gue teluka-hati dalam karena diabaikan teman dikala susah waktu itu. Gue merasa dibuang, dihempas dan dilempar kesampah hari itu. Lalu... kemudian gue berikrar sama diri sendiri... gue akan selalu berusaha ada saat siapun lagi susah, selama gue bisa. Tidak akan meninggalkan orang yang sedang sekarat. Semoga...