5 Jan 2012

Air Tajin buatan Kakak Jane



Masa aku kecil air tajin merupakan makanan (atau minuman kah?? Hehehe) yang tidak bisa melulu dibilang makanan orang susah. Biasanya air tajin ini kami nikmati bukan sebagai pengganti susu atau kalsium sebangsanya tapi lebih seperti makanan selingan, sama juga dengan beras aking. 

Mamaku suka menjemur nasi yang tidak habis kami santap (kadang bisa juga nasi ini sudah basi tapi setahuku tidak begitu parah basinya) lalu kalau sudah kering akan digoreng sampai kering lalu disantap setelah dilumuri gula merah. Gula merah ini optional sih, karena aku bukan penyuka manis biasanya aku lebih suka ‘nasi kering’ goreng tok. 

Oh ya, kami biasanya menyebut manakan ini “nasi kering”. Istilah nasi aking baru aku tau setelah masa-masa krisis moneter ditahun 1997-ke atas, dimana banyak masyarakat yang terpaksa makan makanan bebek –ternyata namanya aking-- ini.

Entah sadar atau tidak aku memang sering menceritakan bagaimana enaknya air tajin ini, toh tanpa diberi gulapun biasanya rasanya sudah nikmat, nah apalagi setelah ditambah gula, memang rasanya hampir sama dengan susu tapi wanginya lebih khas. Dan dari beberapa kali percakapan suamiku juga punya cerita sendiri soal rasa air tajin ini.

Air tajin adalah air yang diambil dari beras yang ditanak sebelum  menjadi nasi, ketika beras akan bertransformasi ke nasi maka air yang tadi dituang 2-3 gelas itu akan mendidih dan menjadi seputih susu pucat, nah inilah namanya air tajin,, Soal ini perlu lah aku sedikit  mengajarkan karna aku tau pasti banyak diantara kita yang tidak tau mengolah ini. #sombong# hehehe,,,

Sore itu sebelum berbenah rumah aku menyuruh si kakak masak nasi, dan aku melihat dia mengerjakanya, setelahnya aku mandi.  Keluar dari kamar mandi suamiku tergeleng-geleng   sambil tertawa kecil kemudian memberi minum bayi Grace
“Kenapa dede?” kataku,
“Jane kasih air tajin” jawab si kakak dengan sumringah.
Suamiku sambil mesem menjelaskan “masak kakak masak air cucian beras terus dikasih adeknya, kata dia itu air tajin”.   

Walau melotot dan memperingatkan bahwa tindakanya tidak tepat, aku tersenyum sendiri membayangkanya. Bisa dibilang ini Kesalahan kami juga karena sering berceloteh tapi tidak menjelaskan “prosesnya” tapi kemudian ada kebanggaanku, paling tidak si kakak berusaha mencari tau walau dengan ‘caranya’ sendiri toh memang di masanya ini "air tajin" bukan suatu yang familiar..

 


Boru China(Ga)


Ada darah china di nadiku, walau kondisi tidak menunjukan itu tapi kenyataan tidak bisa berdusta. Bapakku lahir dari ibunya yang Batak asli dan bapaknya Tiong hwa asli, bahkan sampai hari wafatnya A-kong (begitu kami memanggil kakek ini) tidak pernah fasih berbahasa Indonesia.


Tidak banyak yang bisa kuingat soal A-kong ini, karena beliau wafat saat kebanyakan kami cucu-cucunya masih kecil. Yang aku hapal dan hampir semua orang menceritakan hal yang sama, adalah A-kong ini pemberi dan baik hati. Dalam  segala ketidak mengertianya dalam berbahasa Indonesia maupun bahasa Batak, dia selalu menunjukan kebaikanya pada semua orang. Dan lagi –katanya–, hal ini berbanding terbalik dengan si opung boru (nenek kami yang berkarakter khas Batak: tegas, cerewet dan galak) hehehe…

Aku secara personal tidak terlalu merasakan pengaruh darah China ini ada dalam aliran darahku, kecuali kalau beberapa orang akan bilang “kamu putih ya kaya China” titik  jebret, nothing else. Tidak pernah aku bisa berbasa-basi di Glodok karena ‘turunan ini’, tidak juga bisa menawar barang di Mangga Dua, atau mall manapun dengan mengatas namakan “I am a  chinesse”.. please  deh ah,, #mupeng :p

Selama ini kami, (karena aku yakin kalau saudara-saudaraku juga merasakan hal yang sama) lebih mengklaim kami ini sebagai orang Batak sejati. –Ini sama sekali bukan karena bapak sudah ‘membeli’ marganya dalam prosesi adat Batak-, kami memang hanya merasa sebagai orang Batak saja. Walaupun sampai hari ini tidak banyak yang cukup aku mengerti soal tradisi/adat Batak itu. Bahkan dari yang paling mudah yaitu pemanggilan/penyebutan/ pertuturan orang Batak secara garis persaudaraan terdekat, masih sering aku marpasir-pasir . *istilah orang Batak yang artinya kurang lebih risih kaya pasir/belepotan.

“Merasa” sebagai Orang Batak Asli, aku (merasa) diingatkan waktu bapak meninggal di tahun 2005. Adalah kakak bapak, dalam bahasa Batak kami biasa memanggilnya Namboru, tapi kemudian secara Chinesse dia minta dipanggil Kuku, bilang “kalian harus belajar juga adat China, jangan hanya Batak aja kalian tau. Jangan dipungkiri ada darah China sama kalian. Mau 100-pun di potong kerbau tetap kalian China, jangan lupa itu!!” kalimat ini dia ucapkan dengan nada agak kesal. Seperti kami memandang mereka adalah golongan China yang ekslusif, ternyata Kuku pun punya ponten ‘kecewa’ terhadap kami yang terlihat ‘menolak ke-China an’ kami dan terlalu meng’eksklusifkan’ diri sebagai orang Batak.

Semuanya begitu kecil, tapi cukup untuk menyadakan aku kalau telah tiba waktunya diingatkan soal ‘darah keturunan ini’. Dan ‘sayangnya’... aku (entah saudaraku yang lain menaggapinya seperti apa,,,) diingatkan setelah bapak tiada lagi, karena aku percaya keinginan ini juga sebenarnya ada dihatinya, anyway better late than never  toh??

Maka sekarang ketika orang suka bingung dengan nama Batak-ku yang tak ber-marga, adalah karena bapak ku bermarga Hung –yang katanya– dalam bahasa Indonesia menjadi Ang, makanya namaku Angelina Mawar. Bapak bernama China Ang ko hik dan mengambil nama Batak Anggiat Poltak. Bapak mengurus surat-surat kelahiran kami dipertengahan tahun 80-an dan sah mangadati di pertengahan tahun 90-an, hingga hanya adik bungsu perempuanku dan si bontot laki-laki yang disemua documennya bermarga Sinaga.

Saudara-saudara sampai tetangga lama kami mengenali kami dengan nama China kami. Si sulung bernama Lien Hwa/Lengkong, aku Lien Chu (disingkat Lencu), adikku Lien Ciang (karena kesalahan lafal maka sampai sekarang ejaannya menjadi Siang), si bungsu perempuan Lien Ti, lebih dikenal dengan nama Butet dan si bontot laki-laki kami bernama Yohanes, yang ketika lahir Bapak Tua (saudara Bapak paling tua) sempat membuatkan nama China untuknya; Ang Mou En,, nyaris tak tersentuh kelihatanya. Tapi waktu pemakamana Bapak, kuku  kembali mempertegas  “Johan, kaupun punya nama China ya”…

Ya, aku orang Batak keturunan China...aku Lenchu boru Sinaga.
  

Mangkok Baso


Tempat makan baso itu engga terlalu besar, berdasarkan bangku-bangku panjang yang ada plus beberapa bangku tempel kemungkinan bersantap bersamaan, bisa 15-20an orang. Tapi kayanya engga seru juga kali kalau makan dengan posisi duduk lurus, tangan hanya selebar bahu badan terus menikmati baso/mie ayam panas tanpa bisa merenggangkan otot tubuh yang juga kepananasan.. Maka  biasanya tempata baso ANDA akan dipadati 10an orang bergantian, dengan posisi nyaman satu bangku panjang diduduki oleh 3 orang saja.

Biasanya aku suka mampir sepulang dari gereja, walau kadang-kadang juga emang niat iseng sekedar makan baso karena kangen atau ‘ngidam’, hehehe, didaerah “setengah kampung” sepertiku banyak ditemui tempat-tenpat baso yang enak tapi yang satu ini adalah pilhan ke-2 ku setelah yang satu lagi dekat sekolah SD si kakak. Menu kesukaanku adalah mie ayam super pedas, suamiku baso full aksesorisnya. Biasanya dia tidak akan  menghabiskan kuah nikmat berkaldu baso itu, lalu akan menuangkannya ke mie ayamku –salah satu alasan lain tidak bisa mengkurus-  hehehe

Tidak selang beberapa lama datanglah sepasang suami istri , sebenarnya melihat ‘kematangan wajahnya’ aku tidak bisa bilang mereka pasangan muda tapi jelas anak-anak yang dibawanya masih masuk katergori bayi. Satu bayi dalam gendongan, mungkin 7-8 bulanan, si kakak sekitar 2-3 tahun. Yah aku pastikan itu karena jalanya saja masih suka tersungkur. Si ibu berbadan agak tambun dengan baju yang menutupi seluruh tubuh dari atas kepala sampai kaki, aku tidak bermaskud mengomentari pakaianya secara khusus, hanya melihat bagaimana riwehnya si ibu dengan pakaian besar, mengendong bayi dengan kain dan menuntun si kakak yang lincah. Tidak ada senyuman diwajah mereka.

Acara makan mereka membuatku mendelik, “kenapa sih ibu-ibunya gak bilang aja sama suaminya, bantuin kek” desisku ketelinga suami. Huss, demikian terus suamiku menjawab komentar-komentar geregetanku. Jangankan bisa menikmati si baso panas, bayinya rewel, si kakak juga aktif, maka pemandanganya adalah: si ibu ‘berusaha’ menikmati basonya sambil ‘lebih banyak bediri’ karena harus mengoyang-goyangkan badan menenangkan si bayi dan menaikan si kakak yang terus saja turun dari bangku setelah setiap kali mengaduk-aduk sang baso tanpa kuah itu tanpa menelan makanannya. Si bapak: makan baso dengan tenang, sedikit bergeser waktu si kakak mau turun sehingga tubuhnya menyenggol tubuh besar ayah, dan setelah selesai makan si bapak pindah bangku untuk cari tempat “mengepulkan asap dengan mulut”.  Sampai baso selesai disantap, adegan ini tidak berubah juga, si ayah tidak secuil pun menyentuh anak-anak itu.

Kelihatan sepele ya buat orang lain, dan mungkin akan ada yang bilang “lu aja kurang kerjaan gitu aja dikomentarin” but for me, ini bentuk-bentuk bias penjajahan gender. Emang kenapa sih kalu bapak bantuin si anak sesekali, emang kenapa juga kalau bapak gendong dulu si bayi sampai si ibu selesai makan, apa yang salah  kalau bapak-bapak berbagi “pekerjaan perempuan” bersama. Kalimat pekerjaan perempuan ini juga kudunya direvisi langsung dari PEMERINTAH karena secara tidak sadar telah menjadi UU yang berlaku timpang dimasyarakat.  

Adegan makan baso itu hanya sepenggal contoh yang sering kujumpai dalam ketidak seimbangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan di beberapa kelompok tertentu ~kebetulan yang aku jumpai adalah laki-laki dengan model celana dan wajah khas itu~ dalam kapasitas yang kelihatan "kecil". Keusilan ku diakhiri dengan komentar  kesal pada suami ~mewakili kaum laki-kali, asumsiku sore itu~ “lo bikin gitu sama gue Bang, akan gue banting tuh mangkok ”… Lho kok lari ke ‘mangkok’ ya padahal yang salah bukan si mangkok khan, hehehe,,,

4 Jan 2012

Njlimet atau simple ???


Beberapa orang bilang gue ribet dan pemaksa yang njlimet, tapi menurut gue, sebenarnya gue cuma simple mind and act as I can do. Dan banyak hal yang gue lakukan sesungguhnya bukan karena ke-jlimetan dan pemaksaan tapi justru karena gue melihanya dengan sudut pandang yang mudah.

Soal body gue yang agak –hard to say- melebar, mungkin orang akan berprediksi I am an eater kelas berat, actually engga banget, why karena jika dipagi hari gue sudah sarapan maka the lunch akan jadi jam 12an keatas dan malamnya gue bisa –seringannya sih- engga makan. Ngemil juga engga gila abis lah –melihat beberapa teman yang punya body smaller than- waktu gue lihat dia punya menu makan,, Oh Gosh,,, save the queen,, hehehe apaan coba. 

Selain karena idealisme gue you know why gue gak pernah “ngotot” mengecilkan body,, because my hubby never complaint about it. Big is beautifull  kata dia, but for me: it’s make me laziest. But most of all Suami gue engga pernah ‘mengecilkan’ gue hanya karena urusan body ini. lucky me or bad for me???

Suatu kali seorang temen komplen dan bilang “lo gak anggap gue temen ya, to put none of my name in the list”… maka dengan simple mind gue berfikir: owh, I should write hers once dan tentunya dalam kapasitas pertemana gue dengan dia.. terjadilah seperti yang gue rencanakan. Ting nong,, tidak lama kemudian gue terima komplen keras –karena kemudian ini melebar kemana-mana-. Jangan terlalu sembarang bikin nama orang, ini bukan milik elo sendiri dan FYI some people juga engga terima bla bla !! ups.. sumpah mampus gue speechless,  padahal gue cuma mengartikan dengan simple ‘permintaan’ itu. (sekarang gue sadar itu bukan permintaan). 

Ketika ternyata salah, gue cuma bisa bilang “ya maaf deh gak ada maksud apa-apa” dan God for shake emang gak ada NIAT apa-apa, dan entah kenapa dia menganggap ini 'apa-apa', karena yang gue tulis juga bukan “kejahatan”.. anyway hak dia toh, dan gue cuma penasaran “kemarin maksudnya apa ya??” hmmm...  #basa-basi yang absurd,, hik hiks

Sering beberapa teman klaim bahkan sampai menjudge gue perempuan ‘kejam’, karena memang sejak melahirkan sampai punya 3 orang anak, gue punya kapasitas bangun malam gak sampe 30%. How come?? Karena suami dan mertua gue telah melakukanya buat gue. 

Percaya atau tidak, hanya sekitar 6 bulanan sejak punya bayi pertama gue kehilangan berat badan lumayan banyak, tapi sesudahnya tidak pernah lagi. Karena memang gue gak pernah melek malam secara khusus buat jaga bayi. Semua akan dilakukan oleh suami gue, dia ganti popok bayi malam, dia buat susu bayi malam, dia yang iyung-iyung waktu anak-anak sakit de el es be,, bahkan waktu gue masih bertetangga dangan mertua, (sekarang sih udah satu rumah).

Kalau anak-anak sakit maka mertua gue akan datang dan begadang jaga anak-anak bersama anaknya –suami gue maksudnya, hehehe-. Lalu kok bisa ya gue dengan tanpa dosanya cuek aja??.. awalnya adalah karena mertua dan suami punya pandangan yang sangat beda soal anak sakit sama gue. Buat gue biarin aja dia nangis dan gelisah karena memang rasa sakit itu engga nyaman, cukup ditemanin dan dijagain ajah. Akan tetapi suami dan mertua punya prinsip bayi sakit pantang ditaroh dengan alasan takut setep, so  karena memang mereka mau bekerja keras,  kubiarkalah mereka apa adanya dan terpujilah Tuhan, kebiasaan itu terjadi sampai hari ini,,, what you say it?? Lucky me or lazy me?? Hahaha...

Sampai hari ini gue engga bisa bawa motor, ada temen yang komen “segitu premannya elu gak bisa naik motor?” hah, apa hubungannya ya sebenarnya?.. tapi gue cuma mesem-mesem aja. Bukan 1-2 kalimat ‘engga nyambung’ gini yang gue terima karena perihal “gue gak bisa naik motor”... tahun 2004 pertama kali kerja jauh, suami gue dibekali kendaraan operasional Vesva tua yang gagah dan gue sudah berkali-kali diajarin, kemudian jawab gue “entar aja kalu udah punya bebek”, thank God kemudian ter-kreditlah motor bebek, waktu diajarin di lapangan kosong sih okey-okey aja tuh, mencoba membawa motor pulang dari Rawamangun ke Pondok Kopi jam 1 pagi (pulang dari rumah teman) gue bisa kok. 

Tapi untuk sehari-hari bawa motor dan beraktifitas sendiri, I cannot  dan guenya juga engga pengen maksa bisa, why: karena suami gue selalu ada setiap detik gue butuhin… sekarang sih dia udah agak sibuk gak bisa 100% selalu ada, tapi 90% itu akan selalu ada. Waktu duluuuu menikah, tanpa hp dan pager gue suka pengen ke wartel, dengan baik hati dan tidak sombongnya suami gue akan selalu bilang “aku antar” atau kalau dia sedang kerja “tar sore aja, aku antar pulang kerja”. Padahal waktu itu kita belum punya kendaraan apa-apa loh, dan antarnya juga sama-sama by sikil tapi suami gue selalu mau nemenin gue!! Dan tau gak sih Wartel itu Cuma berjarak 50meter dari rumah yang agak jauhan Cuma 200meteran kok. Halahh,, pertama-tama sumpeknya setengah ampun, gue paling gak suka dikawal-kawal tapi lama-lama ini jadi habit bahkan addict gue.

Waktu kerja di Pluit, kalau sudah pulang jam 8 gue pasti tidak akan kebagian kereta dan kalau lagi malas jalan gue akan minta suami jemput ke Pluit. He will just come, tidak jarang cuaca lagi hujan. Bekasi to Pluit @night. Waktu akan kerja di Karawang pun demikian, memang ada jemputan di titik tertentu tapi demi mengantisiapi kejadian diluar dugaan, suami gue jauh-jauh hari sudah survey lapangan. Melihat bagaimana posisi perusahaan ke jalan raya dan sebagainya. Dan dia Cuma jalan kaki demi membaca ½ sikon kawasan industri sampai Karawang Barat, kota terdekatnya.

Penyakit paling parah gue adalah malas masak, maka jika mertua sedang tidak ada dirumah, menu pasti kami adalah: telur, mie, sop, sate dan chicken-chicken-an. Sering mama gue –yang bertetanggaan dengan gue ngurut dada, karena kasihan liat anak-anak gue dan suami-. Dan kemudian akan ‘menyumbang’ kami dengan masakannya. Suami tau gue malas masak, maka kalau libur konsentrasi gue akan lebih ke cucian kotor dan setrikaan (ini sih bawaan orok gue,, kwkwkw,) karena menyadari ‘kemalasan ini special case’ suami gue cukup logowo dan gak pernah komplen soal makanan,, that simple only toh.

Biasanya gue lebih mereply apa yang dilempar orang, kalu tidak suka ya just say it than I’ll stop it, kalu diam, gue sih mengartikanya setuju atau paling tidak abstain. Kalau kemudian ada keberatan bin protest,, ya sorry, gue emang gak bisa baca bahasa hati orang lain apalagi kalu didepanya semua manis seperti biasanya. 

Njlimetnya gue –menurut beberapa orang- mungkin adalah lebih ke cara gue memandang sesuatu yang kelewat in too depth. Tapi sebenarnya reply ini bisa gue dapat karena refleksi  tindakan pelakunya aja kok, cos sometimes eyes speak a lot,  gesture never lie and because I saw everything to depth then I can see this sight. Dan kebanyakan orang gak sadar kalau bahasa tubuh adalah bahasa yang mudah dikenali tapi sering tanpa sadar disampaikan kepada orang lain.     





3 Jan 2012

Me and Sex and the Siti(h)


Tulisan ini terinspirasi setelah aku membaca salah satu blog penulis yang paling diminati di Indonesia, namanya ada dari 10 daftar blogger paling laris. Blog-nya menuliskan  kisah pertemanan para pemain film Sex and the city  yang keakraban persahabatanya  terlihat begitu dalam. Bener gak sih ada yang begitu ??
 Bahkan setelah jarak dan status berubah dalam kehidupan mereka,  pertemanan ke 4 wanita cantik ini masih saja mulus dan lancar, semulus wajah-wajah mereka dilayar bioskop, hehehe. Mereka masih saja menyisakan waktu yang sedikit itu diantara urusan keluarga dan problematikanya,  pekerjaan dan target-targetnya untuk bertemu, berbagi dan pastinya memperlihatkan temuan-temuan baru mereka baik dalam ide maupun fesyen.
 
Ini yang kemudian aku ingin komentari:  it’s just a movie.

Karena didunia yang aku tinggali ini, kamu akan segera diabaikan! they will just ignore you when you stepped out from the community. For a moment, okelah akan seperti pertemanan yang tiada akhir tapi kemudian entah bagaimana dan kenapa it wil out of memory dan mulailah saling menunggu (lu sih gak sms gue, lu engga bilang, lu engga..lu engga) then,,, blame each other and this for absolute.

Sedikit  menilik kisah diatas berbanding nasibku baru saja. Bagus cuma diabaikan, aku malah yang dimusihi (ada yang bilang siy begitu…) dengan alasan: karena pernah tanpa tedeng aling-aling aku membuat tulisan yang mengambarkan teman-teman –yang tidak banyak ini- dalam sebuah blog. Hehehe, 

Isinya adalah deskripsi soal mereka dalam kacamata jujur aku  dan isinya juga fair kok, ada hal buruk juga baik -yups ada baiknya lah, masak berteman cuma ingat buruknya aja-,,, #relative lah#.  Ispirasinya adalah Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi yang dengan enaknya  menuliskan bagaimana karakteristik ke-10 anak pedalaman itu dalam bahasa yang lugas, langsung dimengerti dan dikenali, la wong pake nama toh…

Ternyata (masih kata teman ini) mereka sangat marah dan kecewa, bahkan menolak aku secara Pribadi, karena aku telah “menuliskan  dengan keterbukaan yang terlalu tajam” bahkan e-mail soal toleransi yang sering aku kirimkan –kata si teman lagi- kepada teman-teman yang lain  ternyata telah membuat mereka gerah … hmmmm.

Pikirku sih tadinya: khan setiap orang punya kacamata yang tidak bisa disamakan dan semua kacamata pasti punya pandangan untuk dilihat hanya saja sebagian ada yang  lebih suka menyimpan kacamatanya dengan diam-diam dan yang lain dibuka. Dan yang paling penting,, dan alasan kenapa aku belum “sadar juga” mereka tidak pernah bilang apa-apa, bersikappun normal, tidak terlihat ada ‘penolakan’… omong kosong kalau mereka mendadak menilai “aku tidak terima komplen”, untuk ukuran orang setegas aku, siapapun bebas menilai dan mengomentari  sikapku, baik secara langsung maupun pemberitahuan tertulis. Dan ini sudah sering terjadi.


Yeah, aku tidak bilang aku tidak salah sih… mengaku salah, mungkin nilai toleransi beberapa orang beda, pengambaran tiap orang akan dirinya selalu melebihi kejujuran orang lain tapi kok tragis banget ya nasib ku.. DITOLAK, diharap agar TIDAK DATANG diacara XXXXX dan beberapa acara lain yang biasa kami bertemu,  si temen sih bilangnya  “mereka yang bilang”. 

Siapa  “mereka”,, aku pilih pura-pura tidak tau. Walau sempat  engga yakin juga setelah pertemanan yang -menurut aku-  sih gak kalah  daleem sama kisah pertemanan  Sex and the city itu,,, tanpa peringatan tanpa sindiran tanpa nasihat tanpa  teguran,, I am not allow to follow this community for more.. but  si teman ini engga pernah bohong kok?? Hope so,, hehehe

What can I say, blog udah kutulis (awalnya –sumpah- tidak ada niat untuk dibaca publik) tapi  udah terbaca (oleh tokoh yang aku jelek-jelekan, istilah teman begitu..) lalu keluarlah UU (karena sakit hati massal)..  I must stay away from them…*herder kali gue, hahaha* permintaan maaf ku di 2x lebaran sudah tidak mempan, semua tawaran pertemanan  juga sudah tidak berguna lagi,, so here I am,, facing reality, menahan sejuta tanya yang tidak tau akan dikirimkan kemana dan kepada siapa. Blog kutulis di awal 2009, aku resign 2010 dan aku baru tau “dosa” ini diakhir tahun 2011,,, hhmmm…

Setelah baca blog si Mba- yang menurut aku bagus-, kok kemudian aku seperti dibangunkan dari tidur ya. Aku mendapat pencerahan yang terang benderang. Aku saja yang selalu berlebihan, berharap semua hal terus berjalan seperti dulu ketika aku memulai dengan para teman-teman yang priceless ini, berharap diusia –yang tidak muda ini- tetap menikmati persahabatan seperti masa SMA, menghayalkan persahabatan seperti dikebanyakan sinetron-sinetron (jahat bersama, baik juga berjamaah, yaela).. karna kenyataan membuktikan, sedekat apapun persahabatan ketika status berganti, misal dari belum menikah ke menikah pasti akan ada jarak yang tercipta, pindah sekolah, naik kelas, ganti komunitas, pindah daerah,sampai pindah rumah. 

Dan aku sudah pindah kerja pula, sebenarnya tanpa alasan “blog yang –katanya- menyakiti hati itupun I will ignore sooner or later. So apa yang kelihatan di Sex and the city ya Cuma sedikit dari “mukzizat” yang diciptakan manusia *mencontek nasihat “tuhan” pada Bruce yang bermimpi menjadi “almighty”.

All I need to do now is change my paradigm up to 180°, aku menanggapi pertemanan dengan semua orang seperti anak SD, when you close it’s must be real close, when you share it’s must be a real share, friendship will never die, friends are everything,, it’s too much actually karna dalam tiap fase (belajar dari blog si Mba  yang nulis gini:  Aku yakin, seiring usia kita yang bertambah, seiring pendidikan yang kita serap, juga seiring jenis ‘community’ dimana kita bergaul, maka ‘definisi’ teman atau sahabat yang kumiliki pun berubah dari tiap level kehidupan (misal: kanak-kanak (SD), remaja (SMP-SMA), awal dewasa (kuliah), dan setelah itu.) Maka jika ditanya, “what kinda ‘friends’ have you got so far so that you ‘label’ them friends?” tentu tidaklah mudah aku menjawabnya. But mungkin ada satu hal yang mungkin semua orang akan setuju untuk kriteria ‘teman’: “nyambung ketika ngobrol” tentang apa saja)

Then my fault is nyambung gak nyambung, walau aku tau mereka –sering- maksa (since I was so berisik person dan beberapa dari mereka so quite) I always  put them as friend in my heart. Dan ketika “pertemanan” tidak seperti yang aku definisikan, I just felt hurt.  But now I got it beibe,, teman kerja dan sahabat memiliki definisi yang berbeda, paradigm pertemanan kala masa SMA dan SMP juga beda, karna dimasa itu kita melihat hidup sama-sama dari kacamata tulus dan pertemanan semata, dan diusia matang dunia bekerja kita sama-sama sudah punya kacamata kehidupan yang lebih nyata maka nilai pertemanan itu ‘memang sudah sepantasnya’ memiliki degree-nya sendiri. And my second fault is : I don’t have degree, semua pake bahasa hati,, hmmm lebaydotkom.

Hatiku jadi jauh lebih legowo dengan ‘penolakan teman-teman’ itu sekarang, gak ada yang salah dengan mereka, semua hanya masalah waktu dan kejujuran hati. Dan senang aku sudah mendapat jawabanya lebih cepat dari yang aku duga,, “Avoid people who make you feel insecure to be yourself.” (kutipan Mba Nana yang –katanya- beliau juga mengutip-nya, hehehe). At list I proud of my self, I show them only the REAL ME, tidak pernah ada kemunafikan apalagi ‘keterpaksaan’ dan ‘kepura-puraan’…

Mengutip lagi sebuat quote (nemunya di bbm jadi gak yakin sumbernya, hahaha..)
Don’t Trush Too Much, Don’t Love Too Much, Don’t Hope Too Much Because That Too Much Can Hurt You So Much,, 
 
Diakhir aku ingin berkomentar: Thanks Mba Nana, your blog inspired me a lot… (padahal doi gak kenal gue juga sih, cuma iseng-iseng pengen baca blog terkenal dan nemu deh tulisannya, hahaha..)