21 Apr 2011

Ibu Manager

Bulan Oktober 2007, hari  Jum’at jam 12 kurang.
Gue malas aja turun untuk  makan siang. Jadi setelah ngambil jatah makanan, gue duduk lagi dibangku kerja. Ruang kantor kita engga ada sekat apa-apa, hanya lemari file setinggi 120cm yang memisahkan bagian gue sama bagian Keuangan. 

Samar-samar gue denger orang disebelah sana lagi ngegosip, padahal sih manager lho! Tapi menurut gue, wajar-wajar aja. Sadar diri, gue juga 'penyuka' gosip, hehehe... Tapi lama-lama cerita gosip itu makin panas. Baik bahasannya, baik juga yang ngomongin, dan juga gue. Nah lho,,, Jantung gue mulai dag dig dug. Ada namaku disebut, begitu kata lagu.

Bulan 5 yang lalu, gue pindah rumah. Sekalian  aja gue dan suami setuju buat mindahin sekolah si kakak. Secara gaji gue ‘gede’ banget, tidak cukuplah uang gaji gue menutupi kepindahan rumah plus pindah sekolah. 

Khan di kantor ada yang namanya loan, waktu gue mengajukan siy memang ini pinjaman kantor (pokonya diatas kertas bilang gitu). Tapi karena si ibu Manager ribet dengan system potong gaji yang emang gak seberapa, dan harus berhubungan dengan pihak manajemen. Maka dipembayaran ke-2 dia bikin deal sama gue, “anggap aja kamu minjem sama aku, jadi gaji kamu saya bayar penuh, terus kamu  cicil ke aku aja.”  

Jadilah pinjamam 2jt itu gue cicil ke ibu manager 3x lagi. Done pada waktunya. Gue bukan tipe yang suka menunda hutang. Bahkan kalau ngomong ideal, gue benci berhutang!. “Biar susah gak papa, asal hidup gak ada hutang”, begitu nyokab gue selalu mengajarkan.  

“Dia!! kalo bukan gara-gara gua sudah mampus mereka sekeluarga”.
 “Kalau bukan tangan gua yang ngasih dia duit, dikolong jembatan tuh anjing tinggal”.
“Dasar engga tau diri, engga tau terimaksih. Orang miskin, sombong”.
“Najis gua sama dia, orang kampungan engga berpendidikan”.
“dan bla..bla..bla..”. Yang intinya hinaan dan makian dengan kosa kata lainya.

Sudah beberapa minggu ini, gue lagi keranjingan acaranya Mario Teguh di O Channel. Waktu itu acaranya belum tenar banget, so I like it so much! Banyak kali gue merasa tercerahkan. Nah... Kamis malam Jumat beberapa waktu yang lalu, ada kalimat dia yang gue pegang banget. 

“Segala sesuatu yang tiddak meninggikan, membesarkan dan membangun. Just ignore”.
“Orang tidak suka dengan orang yang bebeda, semua orang berharap orang lain sama dengan dirinya, ketika dia sadari orang lain itu berbeda, dia akan terusik”.
Gue bagilah kalimat ini dengan suami. Dan kemudian dia nasihatin gue, “nah kamu sampai kapan masih akan selalu terpengaruh sama omongan orang? Kamu sadar khan kalu kamu tuh beda?... Inget, umur 20-30tahun adalah masa perubahan karakter, 40an mengejar karir dan 50an menikmati hasil”. 

Sejak pertama menikah, suami gue sudah pernah 'bagi' pemikiran ini ke gue, but I just ignore karena gue merasa ‘baik-baik’ saja. Tapi malam itu I take it so positive.
“Kamu jangan cuma senang dengan kata-kata seperti itu, jadikah rhema dihati. Ubahlah karaktermu, sebentar lagi kamu akan 30tahun. Kalau kamu gak berubah sekarang, kamu gak akan pernah berubah lagi”, begitu lagi kata suami. 

Masih hari  Jum’at jam 12-an lewat.
Dugaan gue bener, kalimat itu ditujuakan ibu Manager Keuangan buat gue. Dan sumpah mati sampai beberapa hari kemudian, GUE TIDAK TAU APA ALASAN-NYA. Anehnya, gue cuma deg-deg-an saat memastikan kalu mereka emang lagi ngomongin gue. Setelah yakin, gue biasa aja. Gak takut, gak perduli, gak terusik sama-sekali. 

Sampai jam istirahat selesai. Bahkan sampai jam 5 sore. Ibu Manager ini masih terus menerus memaki dengan sindirannya. Dari nama binatang, segala kemiskinan, segala kekayaan disebutnyalah dengan vulgar. 

“Gua nih anak orang kaya tapi gak sombong”, padahal setahu gue sih dia berasal dari kampong juga. “Emang orang, anak melarat aja sombong, angkuh, penjilat, ular...”. Semakin gue diam, kayanya dia tambah keki. Apalagi pas mau berpapasan (ditoilet, pantry, pintu atau tangga), gue langsung berbalik arah. Makanya dia tambah emosi dan terus (gaya) meludah dan memaki... cuah cuih la pokoknya.

You know what the most great??... Satu kantor diam! Bisu! Ketakutan! Menonton tanpa bereaksi. Hampir 15 orang diruang atas dan ada manager HRD. Bahkan sesama staf, teman-temen gue biasa makan bareng, tidak ada yang berani menegor gue. Bahkan... bahkan kemudian rekan se-department gue, sepanjang ibu Manager masih bekerja, TIDAK pernah sekali pun menegur gue.  

I’ve been totally ignore!!! So, demi kenyamana pribadi, gue pulang naik bus walaupun ada jemputan. Pulangnya, gue SANGAT beryukur sama Tuhan. Gue merasa luar biasa atas apa yang terjadi sama gue sepanjang hari itu. No ill feel at all...

Tapi jujur, ketika hari minggu gue mulai takut. Gue engga yakin, apakah akan bisa tenang lagi besok. Gila man!! Mawar githu lho, jangankan dihina kaya gitu. Ditegor agak gak soapn aja gue gak suka. Lupa diajak temen, gue bisa senewen mampus. Tapi ini, dicuekin TOTAL oleh semua semua teman dan dimaki-maki oleh seorang Manager Keuangan.
 
Kemudian... Sempat muterlah ide-ide konyol diotak gue. Ibu itu khan penyakitan, gue dorong sedikit aja dari tangga bisa guling, atau gue gampar aja trus habis perkara. Atau mobil barunya gue tusuk ban-nya, atau gue lempar aja computer ke kemukanya? palingan PHK... Tapi, tapi gue butuh pekerjaan banget, karena suami gue masih jobless. Tapi harga diri gue, tapi… semua muter liar dikepala gue.

Tibalah hari Senin. Kali ini si Ibu melakukan manuver lain. Dipanggilnya-lah tiap-tiap orang dari semua departemen yang ada untuk ‘dicuci otak’. Bagaimana gue tau? ya iya lah... dengan setengah teriak dan gayanya yang angkuh dia terus meracau, “akan gua hancurkan ya, dikira gua gak bisa bikin orang angkat kaki dari sini, lihat aja nanti. Pak lu tunggu  instruksi gua ya”. Katanya dengan semangat  sama manager HRD, dijawab dengan senyum gak jelas oleh si bapak.

Semua karyawan di interview (atau dicekok-in) diruang meeting, tanpa kecuali. Malah orang HRD dipanggil berkali-kali. Hebatnya lagi,,, tak ada satupun teman yang mau berbagi. I am forgotten at all... Just like last friday.

Cerita ini akhirnya berakhir, walapun gue gak bisa bilang bahagia. Paling tidak, akhirnya gue bisa mengambil hikmah besar. Sebuah pelajaran berharga dan mungkin akan gue kenang sepanjang hidup. 

Dimaki, dicaci, diabaikan, ditolak, ditelikung tanpa alasan yang gak jelas. Dan gue bisa diam.

 Ternyata,,,
Orang bisa gila tanpa perlu alasan. Ada orang yang mengaku  ‘besar’, tapi bisa takut sama orang yang dianggap ‘kecil’.  Untuk alasan yang juga engga jelas.


Keterdesakan bisa membuat kita tambah kuat, berjaya dan mandiri. Namun  satu hal yang paling gue ambil ilmunya adalah: gue akan lebih menghormati teman. Gue akan lebih menghargai orang lain. Gue engga akan pernah melupakan teman.


Karena jujur, bagaimanapun gue merasa sakit hati sekali. Gue teluka-hati dalam karena diabaikan teman dikala susah waktu itu. Gue merasa dibuang, dihempas dan dilempar kesampah hari itu. Lalu... kemudian gue berikrar sama diri sendiri... gue akan selalu berusaha ada saat siapun lagi susah, selama gue bisa. Tidak akan meninggalkan orang yang sedang sekarat. Semoga...


Perempuan oh Perempuan...

Sering kali aku merasa kurang cerdas atau mungkin bahasa ‘kurang adil’ lebih  tepat, dalam menilai kaum ku, perempuan. So many times atau kalau bisa menyamaratakan-nya, kebanyakan kami ini jalan ditempat walaupun kami sudah menyuarakan langkah ke-3. 

Kenapa, karena dari banyak pengalaman aku dengan perempuan-perempuan disekitarku, mereka bahkan tidak tau cara menghargai diri sendiri. Kalimat aku ini bisa diartikan dualisme sebenarnya, tapi sebagai perempuan seringkali aku merasa  gerah dengan cara perempuan itu sendiri menempatkan dirinya.
Salah satu contoh yang ter dan paling simple adalah di toilet. Aku masih suka bingung dengan para perempuan yang ‘malu’ dengan desis suara pipisnya sendiri. Banyak dari teman-teman yang aku kenal akan mengeluarkan bunyi-bunyi lain untuk ‘menyamarkan’ suara  BAK-nya. Ada yang mem-flush berkali-kali, membuang air semprot-an dengan posisi tinggi bahkan ada yang berklining-klining berisik dengan tempat tissue roll. 

Buat aku ini kekonyolan kecil tapi tetap aja konyol. It’s our nature, nothing wrong with that! Mari coba bandingkan dengan para lelaki yang sesukanya bisa buang air kecil disegala pojok. Apa ada yang komentar, apa ada yang menyindir?? Mereka engga akan perduli. Aku tidak membahas ini dalam kapasitas alat reproduksi laki-laki dan perempuan, tapi bagaimana kita perempuan tidak memposisikan diri 'normal' walaupun ‘suara pipisnya berisik’.

Adalagi kebiasaan perempuan yang suka ’martir’ atas nama keluarga. Banyak perempuan, khususnya ibu-ibu yang sering kali kurang menikmati hidup, karena alasan yang  klise. Misalnya, banyak ibu-ibu yang merasa jalan-jalan ke mall, atau nonton bioskop sebagai hal yang 'luar biasa’ dan mendekati pantang.  Tapi waktu suaminya nonton dangdutan sambil saweran ini dianggap ‘biasa’.

Aku merasa, seharusnya perempuan BENAR-BENAR menempatkan dirinya sejajar dengan lelaki-‘nya’. Aku secara pribadi menegaskan ‘nya’ ini sebagai kata milik, entah suami, pacar, rekan sekerja, pokoknya 'nya' dimana kita selayaknya mempunyai ‘hak dan tanggung jawab’ yang sama.  
Ayolah para perempuan… menyisihkan  uang belanja untuk membeli tas bukan dosa, nonton bioskop dan menitipkan anak pada mertua juga bukan perkara jahat. Mari sedikit menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Mari tetap tampil menarik dan cantik, walapun kita melahirkan dengan cara normal, walaupun gelambir sudah kentara dikulit. Jangan lagi pula ditutupi dengan daster kumal. Sedikit berteman dengan teknologi juga bukan sok-sok-an. Begitu memang kita seharusnya.
Ada pula hal lain yang sering membuat aku tidak kalah sedih melihat para perempuan. Korban iklan! Menurut pengalaman saya, perempuan lebih banyak dijajah oleh dunia komersialisasi. Fenomena  sesar, putih itu cantik, mahal itu sempurna, slim is cool, kaya itu bahagia… fuih. 

Yeah, buat sebagain kalangan mungkin ini lumrah. Tapi untuk perempuan-perempuan sekelas aku. Ini bisa jadi masalah, ini penyakit.  Dan ini banyak sekali  aku temui disekitar ku.
Para perempuan memaksa putih dengan krim pemutih murahan yang entah apa efeknya besok. Cara melahirkan sesar sudah menjadi trend karena mahal (padahal itu juga dibayarin asuransi kantor), dan alasan estetika semata. Paling tidak ada kebanggan mengucapkan “melahirkan sampai 15jt” atau “supaya suami lengket”… Kok mau dihargai cuma selebar 'jalan lahir' dan 'seputih' wajah?.
 
Hilang sudah norma kesusilaan. Karena alasan ingin kaya, ibu dan anak gadis saling mendukung dalam 'kehebatan matrealisme', demi lelaki kaya. Maka soal cinta, iman dan karakter jadi nomor kesekian.
Aku secara pribadi tidak anti dengan semuanya itu. Aku juga berharap anak gadisku akan tumbuh cantik nantinya, kalau bisa dapat orang kaya dapat pekrjaan yang bagus dengan jaminan asuransi kesehatan yang terbaik. Tapi harapanku, semua terjadi dengan apa adanya bukan karena aku “mempermak” atau mendoktrinya untuk menjadi seperti itu.
Ditempat yang ‘biasa’ aku lihat. Para perempuan ini ingin dicintai tapi kemudian focus hanya pada fisik (mari endapkan dulu soal inner beauty..). Diet mati-matian kemudian merasa cantik, padahal kalau kita jujur ternyata tidak semua orang cocok dengan tubuh kurus. Mengoles krim pemutih, putihlah wajahnya tapi lehernya tetap sama… khan maksa ini namanya. Apa yakin setelah semua “perjuangan” ini suami-suami akan tetap setia??
Banyak perempuan yang Ingin diperhatikan laki-laki tapi tidak mau bertanya, ingin diakui tapi diam, ingin sesuatau tapi diam, diam dan diam tapi jadi pendengar dan mau melaksanakan dengan patuh tanpa bertanya  semua ‘harapan’ si laki-laki.
Buat aku, perempuan itu seharusnya bersuara. Berkata-kata dengan lelaki-‘nya’, bersikap atas setiap kejadian yang terjadi, berdiri diatas kaki sendiri, berpijak karena keyakinan sendiri. BERINTERAKSI DAN MENGATUR RUMAHNYA.
Perempuan.. menjadi cantik bukan dengan  ‘memaksakan’ diri tapi menikmati hidup. Perempuan adalah penolong bagi laki-laki, seharusnya perempuanlah yang lebih kuat. Jangan mau dijajah oleh modernitas yang cuma memaksa kita dinikmati 'luar'nya oleh dunia. 

Padahal jauh sebelum tuntutan dunia metropolis ada perempuan memang sudah cantik. Kesuksesan seorang pria, dilahirkan oleh seorang wanita. Jadi jangan terbodohi oleh  anti-emansipasi yang terselubung dalam 'kepatuhan' sebagai perempuan.  

Mintalah dicintai laki-laki karena kita perempuan, karena kita memang layak dicintai, karena kita punya nilai. Bukan karena perangkat topeng  kita yang bernilai.
Kesempurnaan seorang wanita adalah
ketika dia dicintai apa adanya dengan sepenuh hati!!!

20 Apr 2011

Gossip or Pet??


Gosip = Jahat.
Menurut gue engga juga..  ya mungkin karena gue punya hobby ngemeng. Dimana engga jarang kalau kita kebanyakan ngemeng ujung-ujungnya ke gossip. Hehehe. .

Kadang kita perlu gossip juga lho, menurut gue! Karena dari gosiplah kita tau perkembangan orang lain... Nah masalahnya, perkembanganya bagus atau buruk yang itu sih relative sama orangnya. Kalau gue pribadi adalah tipe yang ngomongin apa aja, baik yang baik ataupun jelek.. So kalu emang bagus, gue gak tutup mata lah. Walaupun soal iklas atau engga-nya, biar itu jadi ‘urusan gue sama Tuhan’ (standard khan?? Hihihi). Dan kalu emang jelek.. ya yang jeleklah yang gue omongin. Tapi satu hal yang gue pegang, gue berusaha untuk tidak hanyut sama alur 'ngomongin' orang itu.

Maksudnya??...
Buat gue teman is lasting. Tapi kalu ada teman gue yang pelit ya gue omongin lah kepelitannya, secara disindir baik-baik engga kena. Tapi itu tidak membuat gue jadi menjauhi dia apalagi benci sama dia. Gue mengartikan ini ‘menerima’, tapi gue tidak berusah tutup mata kalau dia itu pelit. And that’s a disease...  I just don’t like stingy person la..atau adakah yang suka?? That’s all, itu buat gue lho.

Atau, ada temen gue yang pernah bercerita. Bahwa she ever ML dengan few person (catet: dia wanita baik-baik lho????). Apa lantas gue melabeli dia ‘pelacur’, engga tuch!!  Cuma disisi kehidupan yang lain gue suka aja membahas "bagaimana bisa seorang perempuan 'baik-baik' bercinta tidak hanya dengan suaminya". Gue masih berteman sama dia, gaul bareng and I love her, we are best friend... Dan gue gak pernah pengen nyebut namanya.

Munafik?? hmm...
Tergantung bagaimana orang menyikapinya aja menurut gue. Karena gue tipikal orang yang paling suka ada waktu teman susah... Gue pengen ada disetiap bagian teman, and I am a jealous guy. I really love all my friend. Sering kita debat, tapi gue tau kalau gue sayang sama semua teman-teman gue. Kalu gue sangat ingin semua ‘baik-baik’ saja... tanpa harus 'maksa' nrimo.

Jahat menurut gue adalah 
  • Melepaskan  binatang peliharaan lu berkeliaran, sementara orang banyak pada ketakutan. 
  • Mebiarkan anjing lu pup depan rumah orang, dan kemudian komentar “namanya juga anjing.” Trus   yang miara?? Orang apa bukan?..
  • Pakai alasan “cuma anak-anak” untuk membenarkan tindakan kriminalitas anak terhadap anak lainnya.
  • Gak mau bayar utang, padahal yang diutangin juga orang susah.
  • Menghina/merugikan orang lain dalam kapasitas agama, suku, ras, gender bahkan fisik.
  • Mengkotak-kotak, hidup berkelompok, pilih kasih, pandang bulu dan sejenisnya
  • Selalu laper mata sama milik orang lain
  • Dan kejahatan lain yang tertulis di UU dan bible, hehehe..

So kalau karena “ngomongin” orang sampai dilaporkan sebagai kejahatan.. gue akan perlu mouth sealed nich kayanya… hahaha.

Important… Keep your pet from annoying others!!!

Give Thanks

Pengertian mengucap syukur buat gue adalah, perjalanan mundur.  Refleksi hidup karena sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi. Dimasa kejatuhan iman gue sebagai manusia ber-Tuhan, berkenalan lah gue dengan seorang pendeta ‘aneh’, ya ya.. Gue lebih suka memakai istilah itu, karena emang menurut gue dia aneh. Seorang pendeta dengan gaya bicara sok pinter tapi gaul, kaya orang slank. Penampilanya pun tidak seperti pendeta, lebih mirip supir. Tapi akhirnya gue menyadari kalau dia pendeta sejati, karena sekasar apapun gue berargument dia tetap akan melayani gue.
Satu pelajaran yang sangat gue inget dari beliau, disaat keuangan gue sedang NOL BESAR. Dan gue berdua masih jobless adalah : Bersyukur saja

Ya iya lah, lu engga nganggur bantah gue waktu itu (dalam hati sih), gue cuma  mencibir aja.  “Lihat anak-anak kamu sehat, suami kamu baik dan kamu sehat. Apa bedanya seribu dan sejuta?? Cuma cara kamu memaknainya. Khan Rasul Paulus bilang, aku tau apa artinya berkelimpahan dan apa artinya berkekurangan”
Puiih, jijay bajay gue dengernya waktu itu. Pengen emosi tapi kok ya engga pantes sama pendeta. Aduh,,, ini sih nasihat klasik untuk orang miskin batin gue. Meski pada akhirnya dia jugalah orang yang memperkenalkan gue pada dunia kerja, dengan pelayanannya dia ‘menitipkan’ gue pada salah satu jemaatnya yang pengusaha.
Bertahun-tahun kemudian, kalimat itu jadi rhema dihati gue. Gue coba bandingkan anak lelaki gue yang 3 tahun, yang menurut gue super cengeng dengan anak tetangga.. OMG, anak gue gak pernah teriak, memaksa apalagi sampai guling-gilingan untuk minta sesuatu. Dia juga engga pernah minta gendong, engga jorok seperti kebanyakan anak seumurnya, pun dia tidak meminta sesuatu dengan merengek.
Lalu anak perempuan gue, yang engga pernah malu-maluin. Anak-anak gue memang engga gue biasakan untuk meminta/minjam milik orang lain. Ajaran gue: kalau kamu mau seperti milik orang lain, pulang dan bilang sama mama. Boleh atau tidak itu nanti, tapi minta dirumah!!. 

Ke-2 anak gue tidak pernah ditegor tetangga karena alasan mengambil mainan, merampas, memukul, iseng (paling tidak sampai anak cowok gue SD kelas 2). Anak gue hospitally, apalagi yang pertama.. she’s belong to the neighborhood. Bahkan kita sekeluargaa dikenal karena anak gue, bukan karena dia anak pertama tapi karena emang dia sangat-sangat ramah. Anak sekecil itu udah keliling kampong gue tanpa pengawalan ortu.    
Ada satu kisah luar biasa. Suatu kali anak pertama gue yang waktu itu berumur 3 atau 4tahunan minta ikut gue ke kantor pos. Jarak dari Layur ke Kantor Pos hampir 1km, lewat pinggir kali, sepi dan banyak pohon bamboo. Sepulangnya dari kantor Pos kita sama-sama jalan lagi, kira-kira 20meteran gue baru ingat kalau ada yang ketinggalan dikantor pos. 

Karena gue bukan type “ibu penggendong”, gue tawarkan dia opsi, “kakak mau ikut apa pulang sendiri”. Seumur hidup engga akan gue lupa, tatapan bingungnya. Kelihatanya dia kasihan sama gue. “Nanti dekat rumah Abang Oo kakak belok ya”, ingatku berkali-kali. Lalu dia mengangguk dan berputar punggung dengan gue
Anak kurang dari 4 tahun man!! (gue ingat banget, karena waktu gue belum kerja, dan gue mulai kerja saat dia berumur  5 tahun lewat sebulan). Gila, gila dan gila... gue aja bingung sama gilanya gue, (teganya teganya teganya...). Dia beribu-bapak lho, bukan gelandangan yang terpaksa ‘berani’ karena keadaan, tapi memang Tuhan kasih gue anak yang amat sangat luar biasa.
Berapa banyak suami yang melek malam 100% untuk jaga bayi, atau masak nasi goreng meskipun lu mintanya tengah malam, masakin indomie plus teh manis sebelum lu bangun pagi. Atau ngurutin tiap kali lu kecapean, dan masih mau menasihati baik-baik ketika lu berteriak sama ibunya???
I’ve been bless with all these things, I’ve been graced by smart kids, I’ve been loved with purity.
Sampai sekarang gue belum kaya, hehehe….. pekerjaan suami gue juga belum membanggakan tapi bukan itu jawaban. 

Akhirnya setelah perjalanan panjang baru gue menyadari semua ucapan pendeta itu.  Makanya gue tidak pernah pusing dengan kaos gue yang harga 15rb-an, gue juga gak malu pamer sepatu gue yang harga 35rb-an, atau maksa pake henpon model sekarang walau (rasanya sih gue udah mampu). Juga gue tidak maksa kepingin seperti teman-teman gue yang hoby  ‘nyetarbuck'. Gue tidak pusing memilih tas buat dibawa kemanapun, yang penting ada dan gue tidak menyoal harganya yang 'hanya' 100rb per 3 biji.
Akhirnya, gue sampai juga pada pengetian, aku tau apa artinya kelimpahan dan apa itu kekurangan. Semuanya tetap dalam proses pertambahan kedewasaan juga siy,,, tapi secara manusia biasa yang normal yang juga punya banyak keinginan, gue merasa bahwa gue adalah type orang yang bersyukur, melihat kebawah, dan mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Artinya, gue gak perlu lagi melihat pager tetangga untuk menghitung seberapa banyak berkat dia. Karena ternyata   BERKAT GUE JAUH LEBIH BANYAK…. Dalam segala ucapan syukur gue, pastinya!!!

Bapak

Bapak saya itu orang yang skeptis, sinis, galak dan blak-blakan. Pokoknya sangat tidak menyenangkan. Begitulah saya menilai dia sepanjang diusia menjelang remaja. Dia bakal tega marahin teman atau tetangga yang bikin salah. Aduhh,,, pokonya bikin malu banget. 

Suatu ketika kakak saya bolos sekolah, dan ketika datang kerumah dibawanyalah salah satu temanya, berawal dari pertanyaan ringan. Entah gimana mulanya bapak ujug-ujug menuduh (walaupun menurut kami siy mungkin-mungkin aja), kalau dia adalah teman yang ngajakin kakak saya cabut dari sekolah. Dimarahilah anak itu, sampai disuruh pulang dan belajar sama orangtuanya dulu. Konyol khan???
Ada pula kisah sampah yang sembarangan dibuang orang ke got, dan tempat sampah yang udah penuh. Sebagai ketua RK dan memang bapak orangnya rajin, kemudian dia membersihkan sampah itu. Setelah bersih dibuatnyalah tulisan dipapan, “dilarang buang sampah disini kecuali anjing”. OMG, mama juga melotot sambil marah-marah, kami yang tidak berani protes ya Cuma bisa bergunjing dikamar. Keterlaluan!!
Suatu ketika saat sudah menikah, setelah temperamen saya mereda saya bertanya pada suami saya

Aku marahnya kaya bapak ya?”

Banget, kamu itu pesis sama amang”

Jawaban itu tidak coba saya debat, tapi cukup menjadi cermin kecil buat saya. Saya ini kesayangan bapak (entah dari mana awal kalimat itu), yang pasti sejak saya kecil sayalah yang digelari ‘kedan-kedannya’ bapak. Dan karena banyaknya kesamaan karakter kami, persinggungan kami jauh lebih tinggi dibanding dengan saudara-saudara yang lain.  Diawal tahun baru ditahun sekian, menjelang kami masuk SMP kami membuat perjanjian dengan bapak agar tidak lagi main tangan dalam menyelesaikan masalah.    

Oh ya, sejak kecil kami termasuk biasa dengan hukuman pukulan. Baik dengan fisik langsung juga dengan alat, dan karena memang itu terjadi hampir tiap hari, kami sebagai anak-anak tidak merasa itu adalah bentuk penganiayaan.
Tapi perjanjian itu tidak pernah berlaku buat saya. Hampir setiap bulan saya masih kena pukulan fisik. Sampai pada suatu klimaks ketika saya kelas 3 SMA. Kami ribut besar lalu bapak menampar dan mendorong saya ke dinding kamar. Karena memang dinding kamar kami hanya triplek, maka saya jatuh terpental kebelakang. 

Saya ingat sesudahnya saya bagun, dan saya tunjuk mukanya “inget ya, ini terakhir kali lu mukul gue, dan inget cuman gue satu-satunya perempuan batak yang bisa digebukin  bapaknya dan bisa maafin” kalimat saya dalam geram yang menyala.
Sempat saya merasa luka batin yang dalam karena semua sikap bapak. Sempat disatu masa saya berdoa supaya bapak lebik baik mati saja. Selalu ada saat dimana saya berpikir kalau bapak adalah manusia paling jahat didunia. Makanya seumur hidup saya 'menajiskan' laki-laki batak dalam list pacar.

Ketika menikah dan punya anak, orang yang selalu saya rindukan adalah bapak. Saya seperti  baru tersadar kalau selama ini bapak punya sisi yang lain. Sisi yang seringkali tidak mau saya akui. Saya seperti mengerti sekarang, bahwa semua yang dilakukan bapak cuma bentuk proteksi, perlindungan yang berlebihan. Dia terlalu sering melakukan hal yang salah untuk sebuah maksud baik. 

Mungkin karena sejak kecil sampai besar, 4 orang anak perempuan dan seorang anak laki-lakinya selalu ada dan bertumbuh dihadapanya. Bapak seperti lupa kalau kami ini sudah besar. Ternyata menjaga 1 anak aja bagiku terasa seperti menjaga telur emas, tidak jarang saya melakukan banyak kebodohan demi 'alasan' anak. Lalu bagaimana dengan bapak saya, yang ditanggungkan 4 orang anak perempuan.
12 December 2005,
10 hari sejak bapak jatuh dari pohon yang tidak tinggi. Beliau dibawa berobat ke dukun tulang di Ciawi. Dan hari itu rumah dibersihkan dan dipasangi tikar-tikar, karena bapak akan pulang. Dan rencananya, kami akan mengadakan ucapan syukur. 

Saya masih dikantor waktu adik saya telpon dari rumah. “Bapak, bapak, bapak. Chu bapak …” cuma itu kata-kata yang keluar dari mulut adik saya dan coba saya artikan sendiri. Kemudian saya mengerti bahwa sangat tidak mudah mengatakan kalimat yang tidak ingin kita katakan. Plan berubah 180°... Bapak menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan pulang.
Dalam banyak hal saya sangat bersyukur. Sejak melahirkan anak ke-2, saya banyak berekonsiliasi dengan bapak. Kami banyak membahas  masalah-masalah keluarga kami, kami mulai bertukar pikiran soal masa depan adik-kakak saya. Bahkan sebelum berangkat ke pengobatan, saya masih sempat membersihkan badan bapak dengan washlap dan membuang air seninya dari botol. Malahan bapak minta saya memimpin doa pagi itu sebelum dia dinaikan ke mobil.
Sekarang yang paling saya sesali adalah, kemana saya 10 hari terakhir itu. Kenapa saya tidak pernah mencoba disana. Menjaganya dan melihatnya. Kenapa selama ini saya tidak mau melihat  bapak dari sisi yang lain.  padahal saya tau sekali kalau bapak itu perhatiannya luar biasa, empatinya tinggi. Kenapa kami anak-anaknya belum bersatu waktu bapak pergi, kanapa saya belum bisa membanggakan apa-apa pada bapak. Begitu banyak kenapa??
Setelah bapak wafat. Kami menemukan bayak selipan-selipan kertas yang berisikan nama, tanggal lahir dan nomor telpon kami. Ada anak-anaknya, keponakanya, adiknya, kakaknya bahkan sampai sampai saudara-saudara-nya yang saya juga gak yakin kenal–. Ada juga potongan-potongan ayat alkitab.  

How he’s care!! seharusnya saya tahu kebiasaan ‘perduli’ bapak ini... kita semua tau, juga merasakanya. Tapi kenapa tahun-tahun yang terlewati kemarin keperduliannya seperti duri bagi kami, jadi momok yang menciptakan ‘sosok menyebalkan’ setiap hari.
Dalam kesemua semua itu, ada satu ayat yang setiap kali membacanya pasti akan membuat saya menangis terisak-isak. Kami temukan ayat ini di halaman depan alkitab yang biasa bapak pakai. Ternyata kerinduanya agar anak-anaknya mencari Tuhan sangat besar. Ternyata doa-doa dan aktifitas gerejanya selama ini bukan isapan jempol.  

He just has a strong and straight character. Tapi dia punya hati yang bersih, hati yang sungguh-sungguh mengasihi semua orang, hati yang selama ini mencari teman tapi tidak pernah didapatkan dari kami, dari anak-anaknya, juga tidak dari orang terdekatnya. Itu yang selalu saya sesali.     
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, 
bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran (3 Yoh 1;4)