30 Mei 2011

Little Bro

Doaku hari ini  “Tuhan ajar aku untuk tidak lagi perduli, agar aku bisa lebih tenang melihat Johan, ajar aku untuk berhenti berfikir mengenai masa depan yang dia sendiri tidak pernah perduli.. Tuhan, aku punya anak, suami, teman, rekan dan banyak saudara lain yang masih perlu dibantu baik lewat doa maupun lewat dana”...
Huuuuu, aku muak, jenuh, capek, sakit hati, terhina dengan semua ‘hasil’ atas memikirkan dia.

Aku nangis hari ini, aku nangis kemarin... aku nangis setiap kali selesai bicara dengan Johan. Semuanya terasa mentah, hambar sia-sia , rasanya harga kotoran binatang jauh lebih mahal daripada semua hasil pemikiran ku sama dia…

Ih, Tuhan kok manusia bisa sebegitu sombong dan tololnya. Dirumah sudah tidak ada seorang pun yang mau bicara lagi soal ‘masa depan’ dia... Tetapi setiap kali bicara sama mama  selalu kuingatkan dengan tidak bosan walau terkadang hati tidak yakin juga, bahwa ‘selalu ada harapan” akan ‘ada jalan untuk maju’…

Ciang adikku, dia lebih illfeel daripada yang lain. Yaps, harus dimengerti juga, semua property yang melekat dibadan Johan memang bisa dibilang 80% sumbangan Ciang. Tapi apak akhirnya? Just flowing like water

Setahun yang lalu aku janjikan dia untuk kuliah, tapi jawabanya “ngambang”. Sepertinya, nyalinya ciut, mentalnya tempe atau emang dia gak  punya kepercyaan diri, dan masih ku coba untuk mengerti. Beberapa bulan lalu juga waktu kutawarin kuliah  malam, dia mau tapi JELAS kelihatanya mentalnya tipis... Lalu tidak juga ada jawaban yang pasti.   

Ketika hari ini kutawarin kuliah di kampus “sejuta umat”. Jawabanya begitu sombong  “gue mendingan gini aja dey”... What? Shocking !!!!

Dia malah membalikan kalau janji-janjiku dulu cuma palsu, kalau kalimat-kalimat tawaran kuliah dulu buat dia cuma omong kosong... kalau dia cuma anak terbuang yang tak dipikirkan dan diabaikan dan di singkirkan.. Jiahhh, NAJEZZZ.. kalimatku pasti.

I can run, but I cannot hide.. I can be pretend but I will always care...
Tapi hari ini. Gue tereak sama TUHAN... Lord, give me a heart of stone, give me a hand of an iron... Dimana gue hanya akan say “ooh..” *tanpa ekspresi dan gairah sama sekali demi  melihat semua aliran hidup dia. Then gue cuma akan menjitak kepalanya dengan tangan besi gue kalau sekali lagi dia berfikir gue pembohong... &%^%$#@!

Tapi waktu sadar. Tenyata waktu-ku 'tetap' habis berjam-jam buat surfing di internet. Dan masih terus coba cari kerjaan buat dia... 

Kyaaa, I hate you Jo... hate you so!! But anyway I will always put a lot of dream upon you... since you are my brother, the most stupid one. 
Ugrrrgggg..

3 Mei 2011

Guru Biologi-koe

Dapat ilmu bawel dari mana ya???
Suka bingung juga kalau gue ditanya gitu.. kalau soal judes, iya kata nyokab sih dari  kecil gue udah judez beud. Gue gak suka ditanya-tanya, gue langsung marah kalau disuruh makan pake “lauk non selera-koe". Gue suka merampas botol susu kakak gue… kata nyokab, gue suka memaksakan kehendak..  Padahal gue ‘engga ngerasa baget tuh’.. kwkwkw.
Tapi seinget gue, sampai gue SMP pun gue never famous as a talkative person. Gue lebih dikenal karena nama gue nyaris sama dengan nama kakak gue. Jadi banyak guru mengira ada pengulangan nama yang sama. Dan klise... semua guru akan nanya “kamu kakaknya ya?”. Gubrak,, secara postur gue emang lebih besar dari si sist ini dan wajahnya pun lebih imut-imut dari gue. OMG, I can imagine I will said this wonder word, haha..
Adalah guru Biologi gue yang imut-imut, kalau bicara halus lus lus. Suatu hari dikelas beliau kita praktek tanaman, (entah tanaman apalah gue lupa, tapi ada air digelas aqua githu) lalu tanpa sengaja seorang teman menumpahkanya di rok biru gue. Sebagai anak yang perfectionist, panic dan marahlah gue dengan kebasahan yang sebenarnya gak seberapa itu. Tapi si temen itu cuek bebek, bikin gue tambah keki setengah mampus.. Entah bagaimana dan seperti apa kemudian, (gue agak-agak samar dengan kejadian ini) menagislah gue. Dan kemudian, kakak gue ngebelain gue. Kita ngebantah si guru sambil nyalahin temen tadi. Oh ya, waktu kelas 1 SMP kita sekelas lho... Kyaaa.
Diusirlah gue oleh si Guru dari kelas. Kakak gue protes, lalu kena usir pula dia nih... Kebayang dong ‘kosongnya’ perasaan gue seperti apa?. Dunia baru, orang-orang baru, kawanpun belum ada, diusir pula diminggu pertama sekolah. 

Gue pertama-tama masih sebodo amat, tetep gue merasa gue yang terjajah, hihihi... Tapi kakak gue panic (I can see it from the gesture), so gue jadi ketakutan juga. Sepengalaman gue sebagai ABG pertengahan 90-an yang namanya orang-tua dipanggil ke sekolah is a hell. Belum di cap disekolahnya, belum dicaci dirumahnya, belum diungkitnya sebagai dosa –sepanjang masa— OMG, gak bangets.
Setelah 3 atau 4 kali di skors dari pelajaran Biologi, kakak gue ‘memaksa’ kita untuk menghadap si Ibu Imut ini. Dengan yakin gak yakin gue manut usul si kakak. Dengan gaya yang angkuh si Ibu menerima kami, nasihatnya tidak panjang tidak pula melebar. Hanya berinti “saya gak suka ada yang cengeng-cengeng dikelas saya”. Dan satu kalimat indah lagi, “oh, kalian orang Kristen, pantes aja”. Si Ibu menutup percakapan dengan mimik datar dan tangan seperti mengusir. 
Indah ya cin kalimat itu, so siapa yang bilang dikriminasi agama baru ada belakangan ini??.   

 Kemudian, belajarlah kami dengan normal. Ada satu kebiasaan si Ibu ini kalau mengajar, dia suka sekali melempar pertanyaan di kelas. Dia sering memancing murid untuk menjawab dan bertanya, dia suka kalau anak muridnya berinteraksi. Cara yang sangat bagus sih kalau dipikir lagi sekarang. Si Ibu suka kalau kita menjawab, kalau kita bertanya dan lebih senang lagi kalau sesama murid saling melempar pertanyaan.   

Sebagai anak SMP yang oleh orang tua tidak pernah diajarkan soal percaya diri, membangun diri, unjuk gigi dan bersaing, gue kok merasa menjadi murid yang tidak dianggap ya... Apalagi kalau gue mengingat ‘masa skors’ itu. 

Entah perasaan yang datang dari mana, tapi dengan sadar gue merasa ‘ingin dianggap’ oleh si Ibu. Gue ingin dosa gue dilupakan. Intinya ada rasa dihati gue waktu  itu, ‘gue mau dipandang si Ibu dengan tatapan 100%’. But I don’t know how. Tapi rasa itu memaksa maju.

Diawali dengan bertanya kecil, lalu mulailah gue menjawab pertanyaan-pertanyaan simple. Lama kelamaan  gue mulai berani bertanya banyak, bertanya  ribet bahkan  memutar balik pertanyaan... hahaha. Seingat gue inilah awalnya gue mulai bersuara didepan orang.  

Mungkin, tepatnya sih bukan mungkin, tapi pastinya ini adalah bakat gue yang sebenarnya, tapi tidak pernah gue ekplorer. Karena ‘suara’ gue lebih sering di definisikan sebagai ‘keanehan’ oleh keluarga gue. Mendengar celoteh-celoteh gue yang kadang menggunakan bahasa ‘benar’ atau kebiasaan vocal lebih sering ditanggapi dengan picingan mata atau bahkan senyum Monalisa, senyum sejuta arti oleh sekitar gue.

Pernah gue berfikir, seandainya gue tidak pernah kena skorsing oleh si Ibu Imut ini, seandainya gue baik-baik saja waktu itu, semisalnya gue mencukupi diri menjadi pribadi yang ‘jangan maksa’ –ajaran ortu gue dulu begitu–. Mungkin gue tidak akan se talkative hari ini. Mungkin gue tidak akan dikenal sebagai Mawar yang bawel, pastinya gue tidak akan ditunjuk-tunjuk sebagi juru bicara masalah...(gue tetap menganggap ini sebagai kehormatan, walau masih dalam level-level sederhana)

Semuanya belum jadi cerita yang istimewa. But somehow, deep in my heart gue senang menjadi pribadi yang suka ngomong. Walau terkadang suara gue cuma dimanfaatkan atau bahkan cuma dijadikan tameng...   , I don’t really care, actually I care that now I know where I want to go, I know how to sound my soul… and I know why I want to talk...  

Someday kalau gue sukses dengan ‘suara’ gue, semoga gue punya kesempatan untuk bilang terimakasih sama Ibu Marfuah, Guru Biologi SMP 158.

 For better or worse, you change my view!!

21 Apr 2011

Ibu Manager

Bulan Oktober 2007, hari  Jum’at jam 12 kurang.
Gue malas aja turun untuk  makan siang. Jadi setelah ngambil jatah makanan, gue duduk lagi dibangku kerja. Ruang kantor kita engga ada sekat apa-apa, hanya lemari file setinggi 120cm yang memisahkan bagian gue sama bagian Keuangan. 

Samar-samar gue denger orang disebelah sana lagi ngegosip, padahal sih manager lho! Tapi menurut gue, wajar-wajar aja. Sadar diri, gue juga 'penyuka' gosip, hehehe... Tapi lama-lama cerita gosip itu makin panas. Baik bahasannya, baik juga yang ngomongin, dan juga gue. Nah lho,,, Jantung gue mulai dag dig dug. Ada namaku disebut, begitu kata lagu.

Bulan 5 yang lalu, gue pindah rumah. Sekalian  aja gue dan suami setuju buat mindahin sekolah si kakak. Secara gaji gue ‘gede’ banget, tidak cukuplah uang gaji gue menutupi kepindahan rumah plus pindah sekolah. 

Khan di kantor ada yang namanya loan, waktu gue mengajukan siy memang ini pinjaman kantor (pokonya diatas kertas bilang gitu). Tapi karena si ibu Manager ribet dengan system potong gaji yang emang gak seberapa, dan harus berhubungan dengan pihak manajemen. Maka dipembayaran ke-2 dia bikin deal sama gue, “anggap aja kamu minjem sama aku, jadi gaji kamu saya bayar penuh, terus kamu  cicil ke aku aja.”  

Jadilah pinjamam 2jt itu gue cicil ke ibu manager 3x lagi. Done pada waktunya. Gue bukan tipe yang suka menunda hutang. Bahkan kalau ngomong ideal, gue benci berhutang!. “Biar susah gak papa, asal hidup gak ada hutang”, begitu nyokab gue selalu mengajarkan.  

“Dia!! kalo bukan gara-gara gua sudah mampus mereka sekeluarga”.
 “Kalau bukan tangan gua yang ngasih dia duit, dikolong jembatan tuh anjing tinggal”.
“Dasar engga tau diri, engga tau terimaksih. Orang miskin, sombong”.
“Najis gua sama dia, orang kampungan engga berpendidikan”.
“dan bla..bla..bla..”. Yang intinya hinaan dan makian dengan kosa kata lainya.

Sudah beberapa minggu ini, gue lagi keranjingan acaranya Mario Teguh di O Channel. Waktu itu acaranya belum tenar banget, so I like it so much! Banyak kali gue merasa tercerahkan. Nah... Kamis malam Jumat beberapa waktu yang lalu, ada kalimat dia yang gue pegang banget. 

“Segala sesuatu yang tiddak meninggikan, membesarkan dan membangun. Just ignore”.
“Orang tidak suka dengan orang yang bebeda, semua orang berharap orang lain sama dengan dirinya, ketika dia sadari orang lain itu berbeda, dia akan terusik”.
Gue bagilah kalimat ini dengan suami. Dan kemudian dia nasihatin gue, “nah kamu sampai kapan masih akan selalu terpengaruh sama omongan orang? Kamu sadar khan kalu kamu tuh beda?... Inget, umur 20-30tahun adalah masa perubahan karakter, 40an mengejar karir dan 50an menikmati hasil”. 

Sejak pertama menikah, suami gue sudah pernah 'bagi' pemikiran ini ke gue, but I just ignore karena gue merasa ‘baik-baik’ saja. Tapi malam itu I take it so positive.
“Kamu jangan cuma senang dengan kata-kata seperti itu, jadikah rhema dihati. Ubahlah karaktermu, sebentar lagi kamu akan 30tahun. Kalau kamu gak berubah sekarang, kamu gak akan pernah berubah lagi”, begitu lagi kata suami. 

Masih hari  Jum’at jam 12-an lewat.
Dugaan gue bener, kalimat itu ditujuakan ibu Manager Keuangan buat gue. Dan sumpah mati sampai beberapa hari kemudian, GUE TIDAK TAU APA ALASAN-NYA. Anehnya, gue cuma deg-deg-an saat memastikan kalu mereka emang lagi ngomongin gue. Setelah yakin, gue biasa aja. Gak takut, gak perduli, gak terusik sama-sekali. 

Sampai jam istirahat selesai. Bahkan sampai jam 5 sore. Ibu Manager ini masih terus menerus memaki dengan sindirannya. Dari nama binatang, segala kemiskinan, segala kekayaan disebutnyalah dengan vulgar. 

“Gua nih anak orang kaya tapi gak sombong”, padahal setahu gue sih dia berasal dari kampong juga. “Emang orang, anak melarat aja sombong, angkuh, penjilat, ular...”. Semakin gue diam, kayanya dia tambah keki. Apalagi pas mau berpapasan (ditoilet, pantry, pintu atau tangga), gue langsung berbalik arah. Makanya dia tambah emosi dan terus (gaya) meludah dan memaki... cuah cuih la pokoknya.

You know what the most great??... Satu kantor diam! Bisu! Ketakutan! Menonton tanpa bereaksi. Hampir 15 orang diruang atas dan ada manager HRD. Bahkan sesama staf, teman-temen gue biasa makan bareng, tidak ada yang berani menegor gue. Bahkan... bahkan kemudian rekan se-department gue, sepanjang ibu Manager masih bekerja, TIDAK pernah sekali pun menegur gue.  

I’ve been totally ignore!!! So, demi kenyamana pribadi, gue pulang naik bus walaupun ada jemputan. Pulangnya, gue SANGAT beryukur sama Tuhan. Gue merasa luar biasa atas apa yang terjadi sama gue sepanjang hari itu. No ill feel at all...

Tapi jujur, ketika hari minggu gue mulai takut. Gue engga yakin, apakah akan bisa tenang lagi besok. Gila man!! Mawar githu lho, jangankan dihina kaya gitu. Ditegor agak gak soapn aja gue gak suka. Lupa diajak temen, gue bisa senewen mampus. Tapi ini, dicuekin TOTAL oleh semua semua teman dan dimaki-maki oleh seorang Manager Keuangan.
 
Kemudian... Sempat muterlah ide-ide konyol diotak gue. Ibu itu khan penyakitan, gue dorong sedikit aja dari tangga bisa guling, atau gue gampar aja trus habis perkara. Atau mobil barunya gue tusuk ban-nya, atau gue lempar aja computer ke kemukanya? palingan PHK... Tapi, tapi gue butuh pekerjaan banget, karena suami gue masih jobless. Tapi harga diri gue, tapi… semua muter liar dikepala gue.

Tibalah hari Senin. Kali ini si Ibu melakukan manuver lain. Dipanggilnya-lah tiap-tiap orang dari semua departemen yang ada untuk ‘dicuci otak’. Bagaimana gue tau? ya iya lah... dengan setengah teriak dan gayanya yang angkuh dia terus meracau, “akan gua hancurkan ya, dikira gua gak bisa bikin orang angkat kaki dari sini, lihat aja nanti. Pak lu tunggu  instruksi gua ya”. Katanya dengan semangat  sama manager HRD, dijawab dengan senyum gak jelas oleh si bapak.

Semua karyawan di interview (atau dicekok-in) diruang meeting, tanpa kecuali. Malah orang HRD dipanggil berkali-kali. Hebatnya lagi,,, tak ada satupun teman yang mau berbagi. I am forgotten at all... Just like last friday.

Cerita ini akhirnya berakhir, walapun gue gak bisa bilang bahagia. Paling tidak, akhirnya gue bisa mengambil hikmah besar. Sebuah pelajaran berharga dan mungkin akan gue kenang sepanjang hidup. 

Dimaki, dicaci, diabaikan, ditolak, ditelikung tanpa alasan yang gak jelas. Dan gue bisa diam.

 Ternyata,,,
Orang bisa gila tanpa perlu alasan. Ada orang yang mengaku  ‘besar’, tapi bisa takut sama orang yang dianggap ‘kecil’.  Untuk alasan yang juga engga jelas.


Keterdesakan bisa membuat kita tambah kuat, berjaya dan mandiri. Namun  satu hal yang paling gue ambil ilmunya adalah: gue akan lebih menghormati teman. Gue akan lebih menghargai orang lain. Gue engga akan pernah melupakan teman.


Karena jujur, bagaimanapun gue merasa sakit hati sekali. Gue teluka-hati dalam karena diabaikan teman dikala susah waktu itu. Gue merasa dibuang, dihempas dan dilempar kesampah hari itu. Lalu... kemudian gue berikrar sama diri sendiri... gue akan selalu berusaha ada saat siapun lagi susah, selama gue bisa. Tidak akan meninggalkan orang yang sedang sekarat. Semoga...


Perempuan oh Perempuan...

Sering kali aku merasa kurang cerdas atau mungkin bahasa ‘kurang adil’ lebih  tepat, dalam menilai kaum ku, perempuan. So many times atau kalau bisa menyamaratakan-nya, kebanyakan kami ini jalan ditempat walaupun kami sudah menyuarakan langkah ke-3. 

Kenapa, karena dari banyak pengalaman aku dengan perempuan-perempuan disekitarku, mereka bahkan tidak tau cara menghargai diri sendiri. Kalimat aku ini bisa diartikan dualisme sebenarnya, tapi sebagai perempuan seringkali aku merasa  gerah dengan cara perempuan itu sendiri menempatkan dirinya.
Salah satu contoh yang ter dan paling simple adalah di toilet. Aku masih suka bingung dengan para perempuan yang ‘malu’ dengan desis suara pipisnya sendiri. Banyak dari teman-teman yang aku kenal akan mengeluarkan bunyi-bunyi lain untuk ‘menyamarkan’ suara  BAK-nya. Ada yang mem-flush berkali-kali, membuang air semprot-an dengan posisi tinggi bahkan ada yang berklining-klining berisik dengan tempat tissue roll. 

Buat aku ini kekonyolan kecil tapi tetap aja konyol. It’s our nature, nothing wrong with that! Mari coba bandingkan dengan para lelaki yang sesukanya bisa buang air kecil disegala pojok. Apa ada yang komentar, apa ada yang menyindir?? Mereka engga akan perduli. Aku tidak membahas ini dalam kapasitas alat reproduksi laki-laki dan perempuan, tapi bagaimana kita perempuan tidak memposisikan diri 'normal' walaupun ‘suara pipisnya berisik’.

Adalagi kebiasaan perempuan yang suka ’martir’ atas nama keluarga. Banyak perempuan, khususnya ibu-ibu yang sering kali kurang menikmati hidup, karena alasan yang  klise. Misalnya, banyak ibu-ibu yang merasa jalan-jalan ke mall, atau nonton bioskop sebagai hal yang 'luar biasa’ dan mendekati pantang.  Tapi waktu suaminya nonton dangdutan sambil saweran ini dianggap ‘biasa’.

Aku merasa, seharusnya perempuan BENAR-BENAR menempatkan dirinya sejajar dengan lelaki-‘nya’. Aku secara pribadi menegaskan ‘nya’ ini sebagai kata milik, entah suami, pacar, rekan sekerja, pokoknya 'nya' dimana kita selayaknya mempunyai ‘hak dan tanggung jawab’ yang sama.  
Ayolah para perempuan… menyisihkan  uang belanja untuk membeli tas bukan dosa, nonton bioskop dan menitipkan anak pada mertua juga bukan perkara jahat. Mari sedikit menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Mari tetap tampil menarik dan cantik, walapun kita melahirkan dengan cara normal, walaupun gelambir sudah kentara dikulit. Jangan lagi pula ditutupi dengan daster kumal. Sedikit berteman dengan teknologi juga bukan sok-sok-an. Begitu memang kita seharusnya.
Ada pula hal lain yang sering membuat aku tidak kalah sedih melihat para perempuan. Korban iklan! Menurut pengalaman saya, perempuan lebih banyak dijajah oleh dunia komersialisasi. Fenomena  sesar, putih itu cantik, mahal itu sempurna, slim is cool, kaya itu bahagia… fuih. 

Yeah, buat sebagain kalangan mungkin ini lumrah. Tapi untuk perempuan-perempuan sekelas aku. Ini bisa jadi masalah, ini penyakit.  Dan ini banyak sekali  aku temui disekitar ku.
Para perempuan memaksa putih dengan krim pemutih murahan yang entah apa efeknya besok. Cara melahirkan sesar sudah menjadi trend karena mahal (padahal itu juga dibayarin asuransi kantor), dan alasan estetika semata. Paling tidak ada kebanggan mengucapkan “melahirkan sampai 15jt” atau “supaya suami lengket”… Kok mau dihargai cuma selebar 'jalan lahir' dan 'seputih' wajah?.
 
Hilang sudah norma kesusilaan. Karena alasan ingin kaya, ibu dan anak gadis saling mendukung dalam 'kehebatan matrealisme', demi lelaki kaya. Maka soal cinta, iman dan karakter jadi nomor kesekian.
Aku secara pribadi tidak anti dengan semuanya itu. Aku juga berharap anak gadisku akan tumbuh cantik nantinya, kalau bisa dapat orang kaya dapat pekrjaan yang bagus dengan jaminan asuransi kesehatan yang terbaik. Tapi harapanku, semua terjadi dengan apa adanya bukan karena aku “mempermak” atau mendoktrinya untuk menjadi seperti itu.
Ditempat yang ‘biasa’ aku lihat. Para perempuan ini ingin dicintai tapi kemudian focus hanya pada fisik (mari endapkan dulu soal inner beauty..). Diet mati-matian kemudian merasa cantik, padahal kalau kita jujur ternyata tidak semua orang cocok dengan tubuh kurus. Mengoles krim pemutih, putihlah wajahnya tapi lehernya tetap sama… khan maksa ini namanya. Apa yakin setelah semua “perjuangan” ini suami-suami akan tetap setia??
Banyak perempuan yang Ingin diperhatikan laki-laki tapi tidak mau bertanya, ingin diakui tapi diam, ingin sesuatau tapi diam, diam dan diam tapi jadi pendengar dan mau melaksanakan dengan patuh tanpa bertanya  semua ‘harapan’ si laki-laki.
Buat aku, perempuan itu seharusnya bersuara. Berkata-kata dengan lelaki-‘nya’, bersikap atas setiap kejadian yang terjadi, berdiri diatas kaki sendiri, berpijak karena keyakinan sendiri. BERINTERAKSI DAN MENGATUR RUMAHNYA.
Perempuan.. menjadi cantik bukan dengan  ‘memaksakan’ diri tapi menikmati hidup. Perempuan adalah penolong bagi laki-laki, seharusnya perempuanlah yang lebih kuat. Jangan mau dijajah oleh modernitas yang cuma memaksa kita dinikmati 'luar'nya oleh dunia. 

Padahal jauh sebelum tuntutan dunia metropolis ada perempuan memang sudah cantik. Kesuksesan seorang pria, dilahirkan oleh seorang wanita. Jadi jangan terbodohi oleh  anti-emansipasi yang terselubung dalam 'kepatuhan' sebagai perempuan.  

Mintalah dicintai laki-laki karena kita perempuan, karena kita memang layak dicintai, karena kita punya nilai. Bukan karena perangkat topeng  kita yang bernilai.
Kesempurnaan seorang wanita adalah
ketika dia dicintai apa adanya dengan sepenuh hati!!!

20 Apr 2011

Gossip or Pet??


Gosip = Jahat.
Menurut gue engga juga..  ya mungkin karena gue punya hobby ngemeng. Dimana engga jarang kalau kita kebanyakan ngemeng ujung-ujungnya ke gossip. Hehehe. .

Kadang kita perlu gossip juga lho, menurut gue! Karena dari gosiplah kita tau perkembangan orang lain... Nah masalahnya, perkembanganya bagus atau buruk yang itu sih relative sama orangnya. Kalau gue pribadi adalah tipe yang ngomongin apa aja, baik yang baik ataupun jelek.. So kalu emang bagus, gue gak tutup mata lah. Walaupun soal iklas atau engga-nya, biar itu jadi ‘urusan gue sama Tuhan’ (standard khan?? Hihihi). Dan kalu emang jelek.. ya yang jeleklah yang gue omongin. Tapi satu hal yang gue pegang, gue berusaha untuk tidak hanyut sama alur 'ngomongin' orang itu.

Maksudnya??...
Buat gue teman is lasting. Tapi kalu ada teman gue yang pelit ya gue omongin lah kepelitannya, secara disindir baik-baik engga kena. Tapi itu tidak membuat gue jadi menjauhi dia apalagi benci sama dia. Gue mengartikan ini ‘menerima’, tapi gue tidak berusah tutup mata kalau dia itu pelit. And that’s a disease...  I just don’t like stingy person la..atau adakah yang suka?? That’s all, itu buat gue lho.

Atau, ada temen gue yang pernah bercerita. Bahwa she ever ML dengan few person (catet: dia wanita baik-baik lho????). Apa lantas gue melabeli dia ‘pelacur’, engga tuch!!  Cuma disisi kehidupan yang lain gue suka aja membahas "bagaimana bisa seorang perempuan 'baik-baik' bercinta tidak hanya dengan suaminya". Gue masih berteman sama dia, gaul bareng and I love her, we are best friend... Dan gue gak pernah pengen nyebut namanya.

Munafik?? hmm...
Tergantung bagaimana orang menyikapinya aja menurut gue. Karena gue tipikal orang yang paling suka ada waktu teman susah... Gue pengen ada disetiap bagian teman, and I am a jealous guy. I really love all my friend. Sering kita debat, tapi gue tau kalau gue sayang sama semua teman-teman gue. Kalu gue sangat ingin semua ‘baik-baik’ saja... tanpa harus 'maksa' nrimo.

Jahat menurut gue adalah 
  • Melepaskan  binatang peliharaan lu berkeliaran, sementara orang banyak pada ketakutan. 
  • Mebiarkan anjing lu pup depan rumah orang, dan kemudian komentar “namanya juga anjing.” Trus   yang miara?? Orang apa bukan?..
  • Pakai alasan “cuma anak-anak” untuk membenarkan tindakan kriminalitas anak terhadap anak lainnya.
  • Gak mau bayar utang, padahal yang diutangin juga orang susah.
  • Menghina/merugikan orang lain dalam kapasitas agama, suku, ras, gender bahkan fisik.
  • Mengkotak-kotak, hidup berkelompok, pilih kasih, pandang bulu dan sejenisnya
  • Selalu laper mata sama milik orang lain
  • Dan kejahatan lain yang tertulis di UU dan bible, hehehe..

So kalau karena “ngomongin” orang sampai dilaporkan sebagai kejahatan.. gue akan perlu mouth sealed nich kayanya… hahaha.

Important… Keep your pet from annoying others!!!