31 Jan 2012

Life is a journey not a destination #proverb


Menjadi kaya tidak pernah menjadi daftar keinginanku. Sejak kecil mamaku teramat sering mengucapkan kalimat ini “tahu diri ya kalian itu anak orang susah, jangan suka sok-sok berlagak seperti orang kaya”. Jadi menjadi kaya seolah adalah sebuah ‘ketidak mungkinan’ bagi kami. Kaya seperti sebuah kesombongan. Makanya sejak kecil kami sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan, apa adanya,tidak pernah maksa dan benar-benar terbiasa menikmati milik sendiri. 

Perjalanan hidupku, berumah tangga diusia muda, tidak pernah kuanggap sebagai kutukan. Karena dalam segala ketegaran tengkuk-ku dalam bersikap aku orang yang berkeyakinan:
selama kita mencukupi diri dengan apa adanya, maka kesusahan hanyalah masalah “keinginan”.

Terlepas dari semua dogma dan pengertianku soal menjadi kaya, ada satu hal yang merupakan ketidak-sengaan yang sebenarnya adalah curkat sedih seorang dosen. Tapi sampai hari ini kisah itu telah menjadi bagian dari paradigma ‘nasib’ yang aku anut.

 
1998. Masih dalam situasi krisis besar setelah penggulingan pemerintahan Orde Baru, bapak presiden Soeharto. Kerusuhan telah terjadi dengan hebatnya disemua lini kehidupan. 

Adalah seorang dosenku yang cantik, dengan tinggi 170cm. Kebetulan, ras batak dengan wajah kebule-bulean dan bertubuh proporsional ala model  tapi tetap berpenampilan simple dan bersahaja. Kami sebagai mahasiswa-nya sudah tau kalau bulan yang lalu Ibu Gultom ini baru saja melangsungkan pesta pernikahan di Sumatera.

Setelah bersalam-salam hangat dan sedikit intermezzo, dengan agak berat tapi tetap dengan nada bersemangat. Si Ibu ini tidak langsung masuk ke pokok pelajaran Bahasa Inggris kami, alih-alih dia malah curhat soal perjalanan pesta perkawinannya.

“Kebetulan suami saya anak tunggal”, awal kisahnya. “Jadi pihak keluarga mertua bermaksud mengadakan pesta  besar-besaran. Sudah sewa gedung, ketring, undang semua kerabat juga teman-teman mertua yang pengusaha-pengusaha China”. Aku tidak mendengar nada ‘pamer’ didalamnya. “Pakaian dan salon yang kami booking juga orang China, jujur kami lebih percaya dengan cara kerja mereka”. Kami menyimak cerita si Ibu dengan seksama.

“ Apa mau dikata, ternyata sejak semalam sudah terjadi kerusuhan. Penjarahan dimana-mana, jalan-jalan utama banyak ditutup. Semua orang mencongkel lumbung-lumbung dan banyak toko dijarah. Tapi kami tidak bisa mundur, jam 10 harus sudah siap digereja. Perias salon yang kami pesan tidak bisa datang, karena takut. Katanya banyak China-China yang dianiaya. Waduh... akhirnya saya sasak-an dengan salon seadaanya, orang batak... Aduh Tuhan, mau saya tampar rasanya, sakitnya bukan main. Tarik sana tarik sini... ah pokonya beda sekali-lah dengan cara kerja orang China”. Ini asli cerita Ibu Gultom, karena aku tidak biasa bersalon, jadi tidak terlalu paham bedanya, hehehe…  Sesaat kami terkekeh bersama.

“Baju pengantin yang dipesan juga tidak ada, akhirnya saya pakai yang seada-nya saja, mobil kawin yang sudah dipesan juga batal. Dan akhirnya kami beriringan dengan mobil seadanya, itu juga Puji Tuhan bisa berjalan, karena disebelah kanan-kiri, mata kepala saya melihat penjarahan dimana-mana”.
“Akhirnya kami sampai digereja, tapi sepi. Banyak tamu yang belum datang. Setelah pendeta memberkati kami, satu-satu datanglah teman mertua saya. Mereka datang dengan keadaan compang camping. ada yang datang dengan pakaian seadanya. Jadilah kami bertangis-tangisan", kisah si Ibu.

"Ada yang baru saja bangkrut hari itu, semua isi tokonya habis dalam hitungan detik. Ada yang dipaksa keluar dari rumahnya dan kendaraan-nya dibakar… Kamu bisa bayangin gak sih harga sebuah spare part?”, ujarnya sambil menjentikan jarinya. “Itu satu biji aja bisa ratusan ribu dan sekarang satu tokonya dijarah habis-habisan. Kamu bisa bayangkan pencarian seumur hidup orang hangus dalam hitungan detik, hasil keringat selama ini tidak bersisa sama sekali??”.

Zapp,,, seperti sebuah busa yang menyerap air dengan lembut, begitulah kisah si ibu  begitu mengena dihatiku. Semakin  memperdalam dogma ku tentang  ‘menjadi kaya’. Kisah ini  begitu kuat dan mengkristal dikepalaku sampai hari ini. Hidup ada perjalanan bukan tujuan semata... karena akan selalu ada syukur diatas syukur. :-)

30 Jan 2012

Kenapa Kaleb Kristen ??


Pertengahan 80-an, pertamakali kami sekeluarga  menginjakkan kaki di Kota Jakarta. Seingat saya waktu itu ‘toleransi’ masih merupakan pelajaran WAJIB disekolah, juga di lingkungan tinggal saya. Maka jika terjadi perselisihan dalam pertemanan anak-anak, ketika saya dihina dengan kata “gereja” maka adalah lumrah ketika saya membalas “mesjid” (demikianlah lagu berantemnya anak-anak jaman dulu :P, hehehe).  Ketika dikatakan “pendeta t*i”, kemudian tidak ada kesalahan berarti juga  jika saya mejawab “kyai juga t*i”. Dan demikianlah selanjutnya, dari mengata-ngatai fisik bangunan, orang ketiga yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan perkelahian kita (seperti si pendeta dan kyai itu) tapi demikianlah kami – anak-anak usia 7-10 tahun- tahun 1980-an bertengkar. Sering kemudian memaksa menarik benang merah ke unsur SARA.

Misalnya: Entah apa awal mulanya perkelahian itu, biasanya akan berujung pada kontak verbal seperti : dasar batak makan babi sekaleng, China matinya dibakar, China lo, Kristen Tuhanya tiga, orang batak gila. Jangan temenan sama China, jangan dekat-dekat yang makan anjing –haram–, orang kampung dan sebagainya. Mengingat waktu itu balas-membalas  juga bisa diterima kedua belah pihak, maka jarang (bahkan sejauh pengalaman saya tidak pernah sih) ada masalah seperti ini berujung pada keributan antara keluarga apalagi golongan. Sekalipun waktu itu tetangga kami hampir 99% adalah muslim dan mereka rata-rata pendatang dari tanah jawa.

Semakin bertambahnya tahun, atas nama demokrasi, Hak Asasi Manusia dan hukum, telah  dikeluarkan konvensi (karna dasar UU-nya yang mana saya tidak paham betul) yang melarang mengeluarkan statement-statement yang berisi unsur   SARA. Tapi kenyataanya hinaan, intimidasi, cela-an (semua sekarang dirangkum dalam satu kalimat: bullying) ini memang masih saja marak terjadi. Hanya sekarang dalam chasing yang berbeda: mayoritas kepada minoritas, yang berkusa kepada yang kurang berkuasa. Kalau jaman dulu mayoritas dan minoritas bisa sama-sama saling mengejek demi meluapkan kesal maka sekarang yang ‘boleh’ menghina, menyudutkan dan menjatuhkan hanyalah kaum mayoritas dan kaum yang lebih ‘merasa” kuat  dengan dalil kepentingan orang banyak.

Adalah Kaleb, anak lelaki  yang sejak kecil memang tumbuh dengan segala kelembutanya.  Dia biasa jadi bahan olok-olok temannya, karena tidak pernah memanjat pohon atau pagar,  tidak juga (saya biarkan) ikutan main layangan di jalan. Dia biasa jadi samsak sepupunya atau korban keusilan temannya.  Kuakui Kaleb sejak kecil termasuk anak iseng, misalnya menggoda anak perempuan (menyembunyikan mainan atau sendal), merecoki si kakak  jika bermain tanpa mengajaknya. Semua dengan kenakalan verbal (sejauh ini anak-anak ku tidak berbicara ragunan dan kasar) tapi ‘sepengetahuan’ kami  Kaleb bukan pemain fisik, sama sekali bukan!!

Tapi sejak kelas 3, sudah hampir 2 tahun ini. Saya beberapa kali dipanggil oleh Ibu guru karena tingkat kenakalan Kaleb sudah melebihi batas. Misalnya: dia sekarang mulai memalak, berani menyerang beberapa anak yang bergerombol, pernah membawa pisau lipat (entah dimana dia menemukanya, karena kami tidak mengenali barang itu), menilep uang yang dia bilang untuk bayar ‘sesuatu’ disekolah, belum lagi bejibun PR nya yang tidak mau disentuhnya.

Saya tidak bermaksud membela Kaleb, saya  tipikal orang tua yang  lebih suka menata ulang dapur sendiri daripada menyalahkan orang lain. ‘Membenarkan’ anak apapun alasanya bahkan sekalipun si anak  benar sama sekali bukan gaya saya. Saya orang yang mencoba mendidik anak saya untuk tangguh dengan ‘kekuatanya’ sendiri.  Tapi sebagai ibunya, saya ‘merasa’ cukup tahu karakter Kaleb. Dia masih dibawah 10tahun, saya tau siapa dia,,, Isengnya, iya. Malas, memang kadang-kadang, dan yang paling parah adalah menggoda orang (meledeki lebih tepat).

Seringkali  saya coba bicara hati ke hati kenapa dia melakukan semua ini. Sejak pertama kali  jawabanya adalah  “kesal selalu dikata-katai”, dan tidak terlalu saya gubris.  Tapi semakin dia besar, dengan tingkat kenakalan yang sulit saya toleransi,,  walaupun  gambaran yang berbeda-beda, jawabanya seragam!!
Dikata-katain, dihina dan dicela. Apa lagi yang bisa saya pikirkan ??? 
Kisahnya seringkali: abang kesal dikatain Yesus-Yesus mulu, banyak tikus dirumah Yesus, orang Batak makan babi, Kristen-kristen lo,,,  menurut cerita,  ejekan berbau agama lebih sering dilontarkan dari pada soal ras oleh teman-temanya.

Kaleb ber-TK disebuah TK umum, PAUD begitu tulisan spanduknya.  Tapi kenyataan, pelajaran  ilmu agama (bukan agama kami) lumayan banyak. Sejak awal dia sudah menunjukan kekesalannya, belum lagi  seragam-nya yang segmented. Namun dengan segala keterbatasan ekonomi kami tidak punya banyak pilihan. Maka dengan segala macam pengertian dan kisah perumpamaan kami terus membangun  paradigm-nya  bahwa: serupa bukan berarti samatinggal didalam bukan berarti menjadi.

 Tapi bagaimanapun, anak usia 7 tahun sulit menerima terpaan ledek-an yang nyaris tiap hari. Kebetulan kami tinggal didaerah semi perkampungan. –Umumnya–  dimana anak-anak ‘minim’ diajari toleransi tapi lebih ke fanatisme beragama.. 

Sekali lagi tanpa bermaksud membenarkan tindakan-nya. Karena semua hukuman tetap saya tanggungkan kepada-nya, baik secara verbal, time off, kurangi uang jajan sampai hukuman fisik.  Saya mengerti, selemah apapun Kaleb dia tetap laki-laki. Harga dirinya terusik karena status minoritas yang bukan pilihan-nya harus menjadi momok yang siap mengejarnya hampir tiap hari.

Berulangkali  melapor, guru tetap melihat Kaleb sebagai pelaku utama, tidak bisa juga kusalahkan. Kaleb setipe dengan ku –defensif–, jika bisa membalas dia akan cepat membalas. Jika tidak,  maka kenakalan-nya  semakin menjadi.  Ditambah laporan beberapa orangtua yang anaknya terimbas kenakalan Kaleb. 

Ibu guru angkat tangan, saya juga pasrah. Akhirnya yang (bisa) saya bilang adalah “kalau memang dia pantas dipukul, silahkan bu”. Dan kepada Kaleb “kalau ada yang ngatain agama lagi, lapor aja ke ibu Guru”,, padahal saya sangat  tahu,, ini tidak pernah berhasil!!! Karena bullying  adalah bagian dari bahasa pergaulan (golongan).

Mencoba mengingat cerita, beberapa pelajar  yang melakukan penembakan massal dibeberapa sekolah di luar negeri (yang  paling saya hapal adalah Virginia Tech), hal itu dilakukan oleh seorang pelajar  Korea yang sepanjang waktu selalu menjadi bulan-bulanan teman-temanya. Pada saat tertentu dia sampai pada batas kemampuanya menahan bullying dari teman sekolahnya.

Tidak berharap semuanya akan menjadi separah ini, hanya berharap dan TERUS menghimbau kita semua para ibu, para bapak, tante, kakak yang hidup dalam ruang dan budaya yang mejemuk, TOLONG ajari anak kita, saudara kita, adik kita.. berbeda  bukan menjadi alasan untuk saling menindas, membedakan dan mengkotak-kan apalagi mencela,  ke-mayoritas-an juga bukan pembenaran untuk menjadikan  batasan adalah milik kalian. 

Yang saya perlukan (sebagai minoritas) hanyalah biarkanlah  kehidupan saya, tanpa meminta kalian   –para mayoritas– untuk (bisa) menerima saya (baca:kami dan atau Kaleb).

27 Jan 2012

Setengah hati yang lain


Teringat percakapan  dengan beberapa teman yang adalah ibu-ibu dimeja makan kantin beberapa hari belakangan ini, membuatku merasa seperti manusia setengah dewa (setengahnya lagi iblis dong?? hehehe). 

Sesungguhnya perasaan ini bukan ada karena terpancing omongan para ibu-ibu baik itu dijam makan siang. Karena pada dasarnya sejak pertama kali kejadian di Tugu Tani dibicarakan dan aku menyaksikan (di tivi) bagaimana dasyatnya akibat yang telah diakibatkan oleh sipelaku, aku (masih) sempat memikirkan: bagaimana ya perasaan oranguanya??

Dan ini jugalah yang akhirnya dilontarkan beberapa teman kerja yang adalah ibu-ibu dijam makan siang kami, sambil terus menyaksikan siaran tivi yang masih saja gencar menyiarkan berita ini. Apa gerangan yang dihati si ibu, bagaimana gejolak perasaanya waktu tahu anaknya sudah menwaskan 9 orang,, bagaimana jiwanya menerima semua ini??

Bagaimana ya perasaan si ibu, perempuan yang selama ini mengenal anaknya sebagai anak yang baik, bahkan merupakan contoh bagi si adik (begitu kata berita lho). Bagaimana luka diatas luka, takut diatas takut dan khianat diatas khianat. Demi Tuhan!! seperti geramnya aku pada pelaku, aku juga merasakan bulu kudukku meremang membayangkan hantaman kekecewaan dan kaget-nya si ibu ini. 

Sempat juga aku coba menafikan perasaan iba ini dengan bermacam praduga pura-pura (tradisi di Indonesia, ibu-ibu jualan air mata dan kerudung didepan media jika sedang ditimpa masalah), tapi tetap saja isak si ibu membuatku ikutan menitikan air mata. Masya Allah, isak si ibu berkali-kali. Serasa begitu berat tanggungannya.

Teman-teman sesama ibu-ibu kembali menyadarkan ku (yang tadinya mencoba pingsan, hmm). Perasaan semua ibu memang sama, perasaan perempuan memang akan meleleh jika melihat  perempuan lain terluka. Ku coba bayangkan perasaan si ibu yang sudah dibohongi, padahal ibu sudah mencoba memahami anaknya dengan baik, katanya: saya kenal teman-temanya, mereka semua baik-baik walaupun mereka suka pulang malam tapi itu hanya karena pekerjaan. Begitulah kira-kira bela sang ibu. 

Si sudah ibu dihianati, segumpal kotorang paling najis telah dilemparkan si anak wajah ibunya yang masih juga memikirkan yang terbaik, sebongkah batu bata telah dengan telak dilempar si anak ke kepala ibunya, dan si ibu tidak juga kehilangan keyakinan (dengan tetap memberika dukungan pada si anak).

Seperti pepatah Job Steve: sometimes life hits you in the head with a brick – don’t lose faith. Dalam segala marah dan dendamku (entah untuk apa dan untuk siapa, aku hanya merasa masih marah pada si pelaku, si anak jahat ini). 

Tapi sisi lain ku, sisi perempuanku yang juga ibu membuatku ingin berbisik kuat ditelinga si ibu baik hati ini: don’t lose faith mom… 

Karena aku tau dukungan adalah hal paling utama yang diperlukan seorang perempuan yang gundah, andai aku bisa ikut memeluknya, merasakan sedikit getir yang terus mebuncah dihatinya, memegang tangannya dan bilang “saya juga ibu..saya juga ibu, dan saya tau doa ibu buat anaknya”,,,

26 Jan 2012

1,2,3,4,5,6,7,8,9.. jangan memaki



Tragedi Tugu Tani yang baru saja terjadi, —diluar konteks kejadian— sedikit membuat saya kesal dengan beberapa stament ‘mulia’  yang bilang “jangan memaki”. Malah  banyak juga yang berucap : “intropeksi diri”,, ayolah buka mata hai dunia!! 9 orang mati ditempat tanpa melakukan kesalahan (karena mereka memang sudah berjalan di jalur MANUSIA) ditabrak pula,,,

Intropksi??? SAYA SETUJU tidak ada 1 orangpun didunia ini berharap ada kejadian seburuk itu terjadi,, tapi buka mata HAI DUNIA,, itu supir kesetanan, itu supir gila, itu supir bukan orang. Sekali lagi,, ayolah DUNIA, kita bisa lihat di tivi bagaimana polosnya muka mba supir setelah keluar dari mobilnya yang baru saja menggilas 14 orang HIDUP.

Ini bukan masalah sok suci dan tidak ngaca: ini masalah spontanitas ketika kita melihat suatu kejadian yang luar biasa kemudian ditanggapi dengan biasa saja oleh si pelakunya.. #panas gak siy.
Kita khan gak tau hati dia??,, yang komen juga gak bawa sampe mati kok, gak ngoceh sampe ke WC juga kaleee. Yang jelas at the time, (gw lah mewakili para pemaki) merasa marah, kesal, terluka, aneh, sedih, emosi jiwa, kecewa, terkagum, amazing dan semua rasa yang tidak bisa ditawarkan dengan satu kata “karena takdir”..
kami marah, saya marah dan banyak mulut lain yang marah dan tanpa sadar memaki dengan hebat.

Jujur, kalau bahasa (makian) saya masih sekitaran kebun binatang  dan saya termasuk yang tidak setuju dengan makian berbasis fisik, (toh soal fisik bukan ukuran mentalitas apalagi moral),, berasa juga gak sih disebut-sebut “tragedy Xenia”,, kenapa pula pakai type mobil. Karena Xenia itu (paling tidak sejauh saya melihatnya) adalah mobil kelas 3 atau kelas 2-kah? (yang biasa dipakai para ekonomi menengah dan biasanya juga sebagai mobil operasional kantor, karena keefisienannya). Kalau typenya yang ‘mahalan’ kira-kira jadi brand juga gak ya??

Pernah lihat gak siy para penonton konser yang nangis bombay, atau penonton dangdut yang otomatis goyang pinggul (padahal dari rumah udah sumpah mampus gak akan ikutan joget), bagaimana terpananya orang menyaksikan penampilan boyband/girlband yang  tidak (saya) bisa lihat dimana mutunya, pernahkah menangis karena  liat sinetron atau  tivi … ada kah yang salah???

Itulah spontanitas kami (sekali lagi kalau yang lain tidak setuju, minimal saya) yang amazing dengan tragedy few second tapi akan membawa duka sepanjang masa baik bagi keluarga korban juga pelaku. Jadi saya tidak bermaksud untuk menjadi hakim yang sok suci, hanya luapan perasaan ibu yang menjerit  (jika) anak 2.5 tahun tewas dengan menggenaskan, emosi jiwa yang (gak kebayang) jika 4 orang kerabatnya meninggal disaat yang bersamaan.  Jika suami, saudara bahkan kenalan saya adalah satu dari para korban.

Dan kali ini saya masih mau memaki sekali lagi, dengan hukuman 6 tahun dan bayar denda 12 juta,,untuk 9 orang nyawa.. 1,2,3,4,5,6,7,8,9… God for shake!!   *mau teriak sekuat  tenaga rasanya. Bahkan tidak 1 nyawapun dihargai lebih mahal dari sebuah handphone… Arghhttt!!!
Dear all, ajari saya kepada siapa tepatnya saya melemparkan makian ini, atau ajari saya mengekang mulut ini dengan semua  makian yang siap terlontar diujung lidah.

24 Jan 2012

Indonesia my lovely country


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya!!,,, begitu kalimat yang diserukan oleh bung Karno.

Tapi,,, tanya (kan) kenapa??

Bangsa yang besar adalah bangsa yang hobi ikut-ikutan.  (Sepertinya) capek dengan semua yang berbau kebule-bulean, sekarang anak-anak mudanya disibukkan dengan trend keputihan (pek tay kalii, hahaha) para artis korea yang udah jelas-jelas internet bilang mereka gak ada yg original. 

Bangsa yang sudah 7 turunan dijajah Belanda. Bangsa yang keranjingan sama semua made in barat.  Sadar gak sih sepatu merk Barat itu kebanyakan tuh diproduksi  di Indonesia. Oleh para buruh Indonesia, dengan gaji sebanding dengan harga sepotong rotinya si Tiger wood, yang jadi bin(a)tang iklan-nya. kok sewot sih?? iya nih belakang kita tau khan, kalau duit si jago golp sedunia itu ternyata habis buat para PSK-nya yang bertebaran dimana-mana.

Bangsa yang malas menjaga ‘ciri khas’nya, sukanya liat yang galamour kaya dibarat sana. Giliran orang lain mengagumi atau bluffing langsung panas ‘sok nasionalis’. Bangsa yang sibuk ngurusin negara orang lain, tapi gak sadar juga disisi lain anak bangsa tiap hari diperkosa massal. Oleh bapaknya, anaknya, kakeknya juga oomnya. Mungkin juga oleh tetangganya. Aku masih bingung soal ‘kemufakatan’ pemerkosaan ini, apa janjian dulu di bb group apa gimana ya?? Tapi kisahnya sama: perkosaan massal!!!

Bangsa yang bicara keadilan social yang berazaskan Pancasila, dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Bahkan tidak berani menindak perampas hak keyakinan umat lain dirumahnya sendiri. Para 'petugas negara', yang hanya jadi penonton di kursi panas. Yang jadi pemandu sorak bagi tindakan premanisme berspanduk “TUHAN”. Bangsa yang pemain sepakbola dihargai karena ‘agamanya’.

Pejabat bangsa yang baru akan pakai produk local saat akan pemilu dan turun tahta. Para anggota parlemen bangsa yang hobi makan uang rakyat kecil dengan alasan ‘demi penunjang TUGAS’ .  Kejaksaan yang seneng-nya menuntut pencuri sandal, pencuri kelapa, pencuri voucer pulsa yang 10-rb tapi mendadak kurang bukti jika menuntut koruptor kelas kakap.

Hampir seriap hari kita disuguhi adegan tawuran di segala lapisan masyarakat. Ddari kuli tak bersekolah sampai pelajar berpendidikan tinggi, tapi entah kenapa aku (barangkali pengetahuan umumku tidak cukup luas) belum menemukan satupun orang indonesia yang menjadi juara dunia diajang martial art,,,*please,, correct me if I am wrong...

Pemimpin bangsa yang akan sempat-sempatin mengomentarin artis yang katanya ditawan sama suaminya. (ditawan kok ya nempeeel trus kaya perangko) Tapi tidak secuil kalimatpun keluar ketika anak bangsa sejati yang mati dibunuh oleh dosennya karena niat mencuri hak ciptanya. Kalau aku gak salah si pemimpin ini juga sempat mengkomentarai foto pornonya si artis, “yang tidak mengaku juga”. Tetapi aku tidak melihat ‘bapak beliau yang terhormat’ ini mengeluarkan pernyataan ketika para TKW sudah bernasib diujung parang, (sampai kemudian ada yang mati ).

Bangsa yang 350 tahun dijajah, kemudian 32 tahun dibodoh-bodohi. Dan banyak tahun dalan kebohongan publik. Bermental pembantu, ABS, sukanya cari aman sendiri. Selama gue masih makan ngapain ngurusin begituan, gak ada untungnya (apa-apa dilihat untung-ruginya). 

Dengar orang (baca:teman) naik status, kepala langsung pening (tapi janji semanis madu,,), giliran  ada yang komentar dibilang LANCANG/IRI. 

Paling anti dengan kritikan (usil dan sirik: bahasa khas-nya) tapi mabuk dengan pujian. 
Maka pengkritik=sirik karena tak mampu, si pemuja=jujur dan mengerti... Tidak berbuat apa-apa, tapi bilang (sedang) sabar (menunggu).  Sukanya tarik selimut dan lanjutkan tidur dengan nyenyak dan ‘ngedumel dibelakang --dengan alasan image--  jika dipaksa bangun. Giliran komentar opositer menang, semua anti dan sekutu menimpali komentar “seperti yang saya pikirkan juga” halaah,,,  

Indonesia my lovely country,,, Indonesia yang dengan sengaja dan tidak, juga mencipakan manusia-manusa bawel dan rese seperti aku, *pasang seringai kesal dengan tertahan --demi untuk (ikutan) jaga image -- ,,, #follower mode on.  
Hanya berani berkata-kata di dunia maya-ku yang punya pengunjung tidak banyak ini,,