29 Mar 2012

Mereka memanggil saya


Di peradaban –atau peradatkan kah?– orang Batak, ada sebuah konvensi yang menjelaskan bahwa seseorang yang sudah menikah apalagi kemudian punya anak, PANTANG  untuk dipanggil nama aslinya. Misalnya saya nih, nama kecil saya adalah Lenchu. Setelah menikah dan kemudian punya anak, maka ‘sebaiknya’ saya dipanggil dengan ditempeli nama anak saya. Mama Jane.

Ini diberlakukan untuk semua orang, bahkan kepada orang yang lebih tua daripada saya sekalipun. Apakah dia sepantaran mama saya bahkan sampai setua opung saya. Malahan,  tante atau teman atau saudara saya yang lainya, walaupun misalnya umurnya jauh diatas saya, alangkah ‘tidak sopan’nya jika dia masih memanggil saya dengan nama asli.

Kebetulan, walau saya orang yang tidak pernah percaya adanya ‘kebetulan’ dalam hidup ini. Kakak saya berjodoh dengan nyong Ambon. Dimana mereka punya gaya hidup dan tradisi  pemanggilan yang bertolak belakang dengan kebiasaan Batak.  Kedua keponakan saya biasa memanggil saudaranya yang lebih tua bahkan sampai nenek/kakek dengan namanya. Seperti, “Oma Santi, Opa Yan, tante Mery, tante Ciang”… Yah, pokonya ada nama tersisip dibalik embel pemanggilan itu. Looks not so big deal?  In Batakness  it’s a horrible man. :p


Maka Nona dan Nyong itu sering memanggil saya “tante Lenchu”. Meskipun bukan keluarga yang saklek dalam tradisi, jelas ini menganggu kenyaman mama saya. “Ai aha do halak on, hera dang maradat. Pese-pese dope nga manggoari”. Yang artinya kurang lebih: kalian ini gak sopan banget, masak anak kecil juga  manggil nama. Hmmm,,,

Adalah si Caroline kami yang mulutnya ceriwis setengah hidup. Anak Karo yang ibu-bapaknya pendiam kelas berat. Bingung khan?? Wong saya aja masih suka heran tuh anak dapat ilmu bawel dari mana. Hehehe...

Demi sok kebarat-baratan, mungkin begitu orang akan menilainya. Tapi niat saya dan mama Oline adalah membuat ‘gaya khas’ sendiri. Maka kami mengajari Oline kecil untuk memanggil saya Aunty daripada Mamatua. Karena dia punya dua orang Mamatua.

Antara latah dan keblibet dengan pemanggilan 2 anak ambon tadi, dan entah siapa yang memulai. Apakah Oline atau 2 anak kakak yang Ambon. Mereka jadi memanggilku dengan sebutan: mama Aunty.Ini belum begitu aneh kedengaranya khan?  Mereka juga memanggil suamiku dengan sebuatan: Om Papa. Hahaha…

So, inilah mark kami didepan semua saudara. Mama Anti dan Om papa.

Papa Oline super pendiam. Orang Karo yang modern apa kampungan kah model begitu? Saya tidak tau mendefinisikanya. Hehehe.  sewaktu dia masih pacaran dengan adik saya. Semua anak-anak biasa memanggilnya Om Bakti. Demi sulitnya memulai komunikasi tentang kepantasan pemanggilan dengan si Om Bakti ini. Sampai hari ini, setelah anaknya- 2 pun, kami bersaudara dan anak-anak memanggilnya dengan om Bakti.


Kami memanggil suami si kakak juga dengan pemanggilan  'ala' Ambonse..

Lebih puluhan kali mama sudah mengingatkan. Bahkan beberapa saudara ada yang menaggapinya dengan enteng,  walau juga ada yang berkomentar ‘berat’ sekali. Sampai berlanjut dengan ceramah.

28 Mar 2012

Piece of (much) unpredictable


Perpanjangan tangan Tuhan yang paling berasa tuh, menurut gue…  bukan karena gedenya atau banyaknya pertolongan itu dikasih. Karena, kadang-kadang ada orang yang emang Tuhan kirim just in time nya kita butuh. Pun kadang ini bukan kebutuhan yang amat sangat mendesak dan Urgent. But tetep harus diakui, saat ini ‘diinginkan’ maka that small things will mean a lot.  

Dan buat gue, yang merasa sebagai ‘penikmat’ kehidupan even in small package, I love to be there. Dan seperti gue pengen bisa nolong orang disaat yang tepat, gue juga akan sangat thank full saat pertolongan tak terduga itu datang.  Apalagi datangnya dari orang yang engga pernah gue pikirkan.

Semisalnya, waktu jaman-jamannya gue nganggur. Asli, terharu-sangat dengan sms beberapa teman-teman yang engga gue ‘perhitungkan’ sama sekali, dan mereka kasih support  dengan bilang, “sabar ya”...  Lalu , soal itu sandiwara atau bukan, gue engga mau jadi hakim disini. Just thank God ada yang inget gue. Swear, it felt like life in live.

Ini juga mengingatkan gue juga pada suatu kejadian Natal dan Tahun Baru beberapa tahun yang lalu. 

Sebagaimana keuangan gue yang agak-agak langka, maka bikin kue diwaktu Natal cuma hayalan buat gue. Suatu kali teman-teman serombongan gereja bilang kalau mereka mau  datang Tahun baru-an. Tentu gue persilahkan dengan senang hati,  padahal gue engga bikin kue apa-apa.

Dengan entengnya gue minta ‘sumbangan’ kue sama nyokab gue, yang kalau Natalan biasa bikin kue kayak buat sekelurahan.  Kayanya nyokab masih terngiang-ngiang, karena dulu tinggal dilingkungan ramai yang  98% masyarakat-nya muslim.  Dimana kalau lebaran kita akan kebanjiran kue lebaran sampai selemari penuh, so kalau natal kita wajib ‘kerja keras’ ngebagi-bagi kue buat semua tetangga itu. I called it, tolerance.
Nah sekarang, dengan tetangga dekat yang kurang dari 10 keluarga,  nyokab masih suka lanjut dengan kebiasaanya itu.  Tapi ini rejeki juga buat gue sebenarnya, pikir gue.

Maka dengan tanpa malu-malu gue minta kue sama nyokab buat menjamu para tamu gue. Pikiran gue, gak lucu juga beli (walaupun sebenarnya bisa dengan kue-kue yang agak murahan). karena  menurut gue,  (lagi-lagi pikiran sepihak bow…)  ada kue nyokab yang sangat banyak itu, dan pasti jauh lebih pantas dan enak buat dihidangkan.

Ternyata eh ternyata, jawaban nyokab kayak belati yang langsung merobek jantung gue. Hehehe…  Lebay deh. Tapi asli, setelah pulang dari rumah nyokab, air mata gue terus bercucuran.  Perasaan sih gue engga pengen nangis, tapi kok air mata jatuh dan jatuh aja.  Hati berasa  perih banget.  Jantung  gue deg-degan tingkat keluarahan, rasanya nyesek, muka terasa panas demi menahan malu yang  tak berperi. Karena nyokab ngomong didepan sodara dan adik gue. Gue berasa kaya kambing yang salah masuk kandang terus diusir dengan kasar.

“Pede banget kau minta-minta kue, emang ada yang kau kasih”, begitu kata nyokab gue dengan mimik muka yang angkuh dan mendelik. Dan sampai detik ini, gue gak ngerti kenapa, bagaimana emak gue yang biasa ‘baik hati’ sama orang sekampung  itu bisa ‘takut’ kuenya gue  pinjem atau pun  minta.


Mulak balging, kata orang batak. Yang artinya kurang lebih pulang dengan kesia-siaan. Gue pulang dengan (perasaan) sih, perasaan gue legowo. Nyokab gue emang suka agak-agak ‘nyelekit’ kalu ngomong sama gue. Mungkin menurut  dia karena gue orangnya  kasar dan keras kepala, so gak bakal punya stok air mata dan ‘sakit hati’. Hiks hiks… kyaaaa, hehehe.. :p

Tapi ternyata sepanjang jalan air mata gue berderai-derai. Gue berasa kayak  pelem India yang habis putus cinta. Padahal gaya gue sok tegar dan muka  juga sok cuek, tapi ternyata…  gue nangis bombay tanpa suara.

Tiba-tiba datanglah tetangga gue ngedeketin. Seorang ibu gendut yang di per-tetangga-an kami agak-agak dianggap menjengkelkan. Karena dia itu suka banget bertamu, minjem, nebeng, numpang, yach…   pokonya segala kegiatan yang lumayan annoying tetangga lainnya. Dari minjem sabun lah, minjem Indomie, minjem shampoo, rinso, bayklin, minta sayur,  minta lauk ...  apa aja lah yang sedang dia butuhin. Sukur-sukur  kalau dia  inget mulangin kalu engga,  dan seringannya sih engga.  Hanya Tuhan dan dia lah yang tau-tau semua itu. Hmmm,,,

Dia juga suka pamer bikin kue ini, kue itu, bisa begono, bisa begini tapi gak pernah sekalipun tetangga ‘mencicipi’. Tapi kalau ibu beliau ini, halaaah… rasanya semua dapur orang sudah ditandanginya. But secara umum, gue tau dia baik, gue akuin dia suka nolong. Tapi sebagai pemberi?  sama sekali tidak!!

“Kenapa mak Jen?”, sapanya lembut.  Mengimbangi air muka gue yang merana. Tambah sedihlah gue ditanya gitu. Maka dengan isak dan sesegukan gue ceritakan kejadian beberapa menit yang lalu itu. “Ya ampun, jangan nagis dong sayang. Nih bawa kue aku”, dia bangun lalu menyodorkan 2 toples kue kering. Dia pinter bikin kue, jadi sudah pasti kue dia lebih enak dari bikinan nyokab gue yang cuma ‘bisa’ bikin kue.

Hati gue rasanya kayak diperas, seperti ampas santan yang sudah kehabisan minyak. Tapi kali ini beda makna, gue terharu, gue begitu ditelanjangi dengan paradok gue soal ibu ini selama ini. “Udah gak papa bawa sana, nanti khan tamu kamu mau datang. Mandi sana sudah jangan sedih. Engga usah dipikirin, aku bikin kue banyak kok”, sambungnya lagi. Padahal gue tau pasti, dia bikin kue palingan 4-5 toples. Sedangkan dirumah emak gue, kalu ditoplesin model ginian kue bisa jadi 20-an toples. Lebih malah, karena macamnya yang banyak.

Sampai para tamu berdatangan, entah kenapa air mata gue terus aja bercucuran. Padahal gue sama sekali engga kepengen nagis.  Sampai ada seorang teman bilang, “wah ibu Mawar semalam acara Tahun Baruanya seru ya, masih terharu aja kayanya”.

Only God knows, haru-biru dan sakit-hati  jadi satu hari itu. Pertolongan ‘kecil’ tapi tepat pada waktunya, dari orang yang sama sekali engga gue perhitungkan.

26 Mar 2012

Apakah sukses itu??


Percakapan seperti ini biasa aku dan suami lakukan. Walau bukan tipikal keluarga model per-sinetron-an Indonesia. Dimana saat menjelang malam, semua anggota keluarga akan berkumpul didepan tivi. Dengan posisi Bapak yang asyik dengan pekerjaanya atau kebiasaanya baca-baca buku dan atau koran, lalu si ibu dengan hangat memeluk anak-anak sambil nonton tivi. Hihihi, drama dech.

My real world is… aku dan suami bisa bercakap-cakap ‘normal’. Walaupun suamiku sedang sambil mandi di kamar mandi. Yaps, dengan ukuran kontrakan kami, maka ini sama sekali bukan masalah. Dengan suara yang tinggi dan tidak saling melihat wajah, obrolan dan cerita-ceritaan kami bisa terus berlanjut.


Sekali lagi, memang bukan seperti sinetron Indonesia yang rumahnya 3 lantai. Tapi hal seperti ini bukanlah kemustahilan. *Sinis amat?? hehehe… Artinya, aku cuma mau mengingatkan kita semua.  Bahwa komunikasi, percakapan dan dialogue rumah tangga, baik soal pekerjaan, teman dan sekedar remeh-temeh bukan hanya milik sinetron, orang pintar atau keluarga dengan sikon yang ‘mendukung’. Ini seharusnya terjadi dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja dan dirumah model apa saja. We need to talk each other. Seperti yang aku biasakan dirumah.

Dengan keadaan letih setelah seharian berkuli, dan anak-anakku ngambrug didepan tivi kamar. Sesekali terdengar teriakan iseng si kakak dan tangis cengeng si abang. Ada juga suara rusuh oppung yang diganggu si adik didapur. Opung sedang ada urusan didapur, dan bayi ku yang tidak lagi mungil itu akan terus membuntutinya. Sesekali si oppung terdengar kesal sambil gemas.

Sebagai keluarga ‘biasa’ saja, aku dan suami biasa membahas masa depan, cita-cita dan hayalan tingkat tinggi kami secara ‘luar biasa’. Sebagai orang ber-Tuhan, kami sama-sama percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Perjalanan kehidupan kami sudah mengajarkan kami, bahwa keadaan akan selalu lebih baik. Walaupun seringkali, setelah badai yang tidak mengenakan menghampiri. Juga tidak langsung seperti harapan kami sebagai manusia biasa.

Perjalanan rumah tangga kami yang dari minus (bukan sekedar nol), benar-benar mengajarkan kami untuk selalu bersyukur atas setiap unsur kecil dalam kehidupan kami. Seperti pekerjaanku yang sekarang sedang kami bahas malam ini.  

Katanya, menurut interview yang aku hadapai dimuka dulu. Diperusahaan ‘mimpi’ku ini, ada yang namanya jenjang karir, juga regional exchange employee . Maka aku dan suami berandai-andai.
 “Wah, keren kali ya kalau gue bisa kerja di regional company…”, diawali aku yang  baru tau kalau disini ternyata walaupun ‘cuma’ staf  tapi bisa juga di mutasi ke luar negeri. Yah…  kelasnya memang baru Asia Tenggara. Tapi sebagai seorang yang (lagi-lagi aku akui..), luar negeri adalah satu dari sekian banyak mimpi liarku, maka berita ini langsung membuatku merasa berbunga-bunga.
“Keluarga dibawa khan?”, sambar suami-ku cepat.
“Yaelah,,,”,  balasku dengan agak kesal.

Menurut aku suamiku lebay. Dia berlebihan dengan ‘ketakutanya’ berpisah dengan aku dalam bentuk apapun. Ini bukan drama, kami memang tidak terbiasa saling berjauhan. Mungkin karena sindrom awal-awal pernikahan kami yang super sulit. Dimana keadaan memaksa aku dan suami banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Jadilah ini salah satu buah simalakama kami bersama, atau mirip juga lagu “Jatuh Cintanya” eyang Titik Puspa. Karena, kalau berjauh-an kami akan saling kebingungan, tapi kalau dekat bawaanya gerah. Hahaha…

Pokonya, kami memang tidak bisa jauh-jauhan dan untuk itu aku sepakat. Akan tetapi, demi rejeki bekerja di luar negeri gak masalah kale… kata batinku dengan sewot. Ya lah sewot, khan teorinya kalaupun, seandainya, semisal  aku sampe di ‘kontak’ bekerja diluar negeri, statusku tetap ‘cuma’ staf. Dimana-lah ada jatah staf  ‘paket keluarga’.

Nyebelin deh pertanyaan si abang ini. Aku jawab kemudian dengan gaya ku yang khas, panjang, melebar dan pake urat,,, *dikittt. Hehehe
“Lo lebay banget sih pak, mana ada sih staf punya jatah buat keluarga. Kalu gue manajer tuh baru. Dikirim ke luar negri pasti dapat jatah keluarga. Rugi-lah kalu staf juga pake bawa-bawa keluarga, siapa loh… Lagian kenapa sih, palingan kontak  2 tahun. Lagian juga Singapore  deket kali, sebulan sekali pulang juga gak bangkrut-bangkrut amat, kalau gak mampu ya naik kapal feri juga gampang”.
Hebat khan hayalan kami. Bukan hanya sampai berandai-andai tapi ke juga detailnya kami pikirkan, hehehe... “Yah, gak enak dunk. Percuma”, timpal suamiku dengan nada malas.

Tidak kalah ekspresi aku mendengus sambil kesal, “udah bagus ada jenjang karir Bang. Dimana-mana mah kalau orang mau sukses itu harus ada harganya kali. Emang lo gak mau gue naik status, emang lo keberatan kalu gue jalan sendiri. Kali aja balik dari luar negeri bisa nambah-nambahin kenalan. Siapa tau bisa jadi loncatan baru, siapa tau… siapa tau”, panjang lebar lebih mirip protes kalimat ku.

Btw, aku bisa memanggil suamiku dengan panggilan yang disesuaikan dengan sikon. Awalnya, -biasanya- bisa panggil sayang, babe,  dady, papa. Kalau sudah kebanyakan ngobrol bisa sampe ke kamu, abang, bapak. Dan kalau sudah panas bisa jadi elo bahkan ‘nama’nya. Hehehe,,, yaps that’s me :p.

Lama aku mencoba memahami pola pikir suamiku yang berpendapat, “enakan usaha sendiri dari pada kerja”. Karena prinsip aku, bekerja adalah gabungan dari: gajian, ekistensi dan pamor. Terlepas soal gaji. Karena umumnya, engga mungkin juga kita curhat soal gaji sama tetangga toh. Tapi suamiku selalu berprinsip, “pedagang sayur penghasilanya gak bisa ditakar, kalau orang kerja kebaca”. So,  bicara soal link, kenalan dan jaringan pertemanan yang ‘bermutu’  adalah  materi kami sejak dulu.

Aku melirik kesal, suamikumendadak diam. Seharusnya dia tau kalau keluar negeri adalah salah satu mimpiku yang paling liar. Kediam-annya membuatku memaksa sinis, “ngambek lo?”.
Dia menatap aku dengan tulus lalu menjawab pelan, “sukses itu apa sih?”, bolamatanya menatap plafon rumah dengan gamang. Gerundelku memanjang, apa-apaan sih manusia ini omelku sendiri. Pertanyaanya berkesan nyolot, menurut aku.

“Ya bisa punya gaji gede, jabatan bagus, naik pangkat, sekolah bagus”, balasku asal-asalan. Daripada aku jawab “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga??” hehehe, khan bego. Tapi inti jawabanku ya emang asal saja. “Apa semua selalu soal materi?”, Tanya balik suami aku dengan pelan.
Commonly sih gitu pak. Istri/suami cakep, punya mobil, punya karir, anak-anak pinter dan berprestasi”.
Suami ku putar badan, lalu kami berhadapan. “Nah kaya kamu nih, semisalnya naik jabatan trus kerja di Singapore dengan gaji gede tapi tanpa bawa keluarga. Apa artinya?”.

Aku jadi bengong, “jangankan kamu, anak-anak engga akan aku kasih kost kalau sudah gede”.
“Wah, parah lo Bang. Lah kalu dia berjodoh sama orang bule. Jangan cetek lah”, aku sudah tidak lagi marah, lebih ke heran bin aneh. “Ya buat apa ‘denger’ anak sukses tapi gak bisa ngelihat dengan mata-kepala sendiri. Apa bedanya sama orang dunia yang kaya-raya tapi gak punya waktu buat keluarga”.
Aku bengong, garis tipis antara bodoh dan keikutan bingung *(terpana lebih tepat kayaknya), karena pada dasarnya aku pun bukan tipe manusia matrealisme. Tapi bicara karir dan luar negeri memang merupakan kacamata umum sukses toh? Setuju dunk!!.

“Nah sekarang menurut kamu sendiri, sukses itu apa?”, suamiku menggeleng dengan pertanyaanku.
 “Yah itu dia, sampai sekarang aku masih gak paham dengan kata ‘sukses’. Karena kebanyakan orang ya akan bicara seperti yang kamu bilang tadi, tapi menurut aku kalau cuma materi mah bukan sukses namanya. Orang komunis juga sukses, koruptor juga sukses dong, apalagi mereka. Perempuan mana yang mau deket-deket, pengedar narkoba juga sukses dong, mafia..bla bla bla”.
“Terus, menurut kamu apa dong?”, aku malah jadi bego sendiri.
“Aku gak tau. Beneran, dan sama sekali gak paham kalau orang pada bicara sukses-sukses. Aku gak ngerti, makanya aku nanya”, suamiku masih dengan raut wajahnya yang datar dan gamang.


Dan aku, yang biasanya bicara panjang dan melebar plus pake nyolot, hanya bisa diam dan mencoba mencerna (lagi) pemikiran suamiku. Pemikiranya yang sering kali (terlihat) begitu dangkal tapi dalam, begitu bodoh tapi penuh nilai.

*Kenyataan: didunia dan tempat yang aku tinggali. Bahkan ditempat ‘rohani’ sekalipun. Belum ada yang men-sejajarkan kesuksesan dengan: etika, keharmonisan, memberi tanpa pamrih, rumah tangga, kejujuran, falsafah hidup, non SARA, damai-sejahtera, kesehatan, tawa lepas, ucapan syukur dan aneka hal kecil lainnya.  Sukseskah itu??... fuihhh…

  

13 Mar 2012

"Anak Angkat" Rano Karno

 Sebagai remaja tahun 90-an, nama Rano Karno begitu melekat kuat dihati dan kepala saya. Selain aktingnya yang brilliant. Wajahnya yang ganteng abis (tentu… pada masa itu), juga latar belakang kehidupannya sebagai artis besar yang nyaris tidak pernah terseret masalah ‘aneh-aneh’ membuat saya dan keluarga begitu mengaguminya. Majunya beliaupun di kancah perpolitikan tidak menunjukan gelagat banting stir atau cari popularitas semata, disaat usinya tidak lagi muda dan mulai tergeser namanya sebagai actor kenamaan.

Beberapa hari ini, kita digemparkan dengan kasus narkoba yang melibatkan anak seorang pejabat. Begitu media membuat headline.  Terlihat hobah bin heboh. Tidak terlalu lama kemudian nama Rano Karno tercuat. Bukan karena urusan politiknya. Tetapi, ternyata eh ternyata anak pejabat yang dimaksud ini adalah anak (angkatnya) si bang Doel, Rano Karno. Artis kesukaan saya itu.

Kasus ini begitu ringan dan enak diikuti (menurut saya lho). Anak yang dimaksud tidak terlihat berkelit, bersembunyi juga menafik ceritanya. Berita yang tertulis di koran dan terlihat di tivi/internet  juga  menyampaikan berita yang sama. Yap, dia memang pemesannya dan dia pesan dari orang Malaysia. 
Dan yang luar biasanya lagi, bang Doel dengan lapang dada segera unjuk muka dan mohon maaf kepada rakyat dan juga si anak. Simple dan pendek ya? tidak seperti berita-berita lainya yang bikin kita eneq, mabok tapi penasaran tapi emosi. Saling lempar statement dan putar balik kalimat.

Terlepas soal ‘legowo’-nya seorang Rano Karno dan khilafnya seorang RW. Sebagai pemirsa tivi dan segala macam media, saya sangat terganggu dengan kalimat “anak angkat” yang selalu saja disisipkan setiap kali berita ini diangkat.

Ayolah dunia!!! Kalimat “anak angkat” itu bukan sekedar statement “sesuatu” atau “alhamdulilah” yang menambah rasa (lebay) dalam berita. Kalimat anak angkat ini hanya menambah beban dikedua belah pihak. Rano Karno seperti mempertontonkan lakon sejatinya, sebagai lelaki yang tidak bisa punya anak. Si anak pun diobok-obok dengan kesalahanya dan “takdir”nya sebagai anak angkat.

Lalu, apa hubunganya gitu lho dengan narkoba ini??? Anak angkat yang tidak tau diri? Sekali lagi semua hanyalah opini saya, sebagai orang kampung yang biasa mendengar rumpian ibu-ibu dipagi hari sampai malam menutup hari. Tapi kalimat "anak angkat" itu memang seperti menggiring kami untuk mengucapkan kalimat itu. Padahal tidak kalah banyak anak-anak kandung yang kecanduanya lebih parah. Lalu koneksinya dimana??

Sebagai sebagai seorang ibu yang kebetulan saya memperanakan 3 orang anak. Hal ini sangat menyakitkan ketika seseorang kembali digedor-gedor dengan ‘kelemahan’nya yang ‘emang sudah dari sananya’. Anak angkat Rano Karno, bapak angkat, anak adopsi pejabat… apa sih??

Kenapa masalah ‘narkoba’ ini harus dilebarkan ke masalah jiwa. Kita taulah kalau pengakuan itu adalah harga tinggi yang diinginkan manusia sebagai mahluk hidup, mahluk social. Ketika nilai ‘pengakuan’ itu di sanding dengan masalah yang lain, ini khan tambah menyakitkan sekali. 

Jadi menurut saya, hai awak media “hentikan penggunaan kalimat ‘anak angkat’ ini". Mari bombardier kehidupan si RW sebagai anak muda yang khilaf dan terjerumus narkoba. Jangan ungkit ‘luka batin’nya sebagai anak angkat menjadi bahan pemberitaan utamanya, demi penambah rasa nama besar seorang Rano Karno.  

9 Mar 2012

Butet Kertaradjasa



Gue ‘kenal’ nama Butet Kertarajasa jauh sebelum dia tenar dan sering wara-wiri dipesawat pertelevisian belakangan ini. Waktu itu gua masih SD, dan bu guru ngasih tugas kesenian. Yaitu membuat kliping, yang berisi tentang hal-hal yang berkenaan dengan seni. Kalau kebayakan anak-anak SD lebih men-definisikan kalimat seni dengan ‘lagu/music/nada’,  entah kenapa waktu itu koleksi gue menuju ke seni tari dan lukisan.

Dari situlah gue tambah tau yang namanya lukisan Afandi, Basuki Abdulah dan aliran mereka dalam melukis. Dari ‘tugas’ kliping inilah gue mengerti, kalau ternyata aliran-aliran dalam seni itu emang disesuaikan dengan hasil dari lukisan itu sendiri. Karena, kalau cuma baca buku gue masih suka gak ‘kebayang’ bagaimana bisa kotak-kotak gak jelas gitu bisa disebut lukisan, atau dari sisi mana para penikmat itu bisa bilang kalau tinta yang  (kelihatan) tumpah itu disebut karya seni bernilai tinggi.

Hmm, gue cuma menarik sudut bibir sinis sambil micingin mata. Menurut gue yang benar-benar ‘pantas’ disebut lukisan ya karyanya Basuki Abdulah dan Leonardo Da Vinci! Selebihnya, gua bilang sih… gambar berwarna. Hehehe, kejam ya? Tapi ya emang demikianlah pemikiran gue waktu SD. Sampai gue menemukan istilah ‘aliran’ ini, dan mulailah gue mengkotak-kotak tipe lukisan yang cucok dengan mata gue. Kemudian kesimpulan gue, sepertinya gue penyuka aliran Naturalis. Prikiteww,,,

Kembali ke si Butet... bukan lagu dari daerah asal gue lho! Hehehe. Tapi si Mas Butet yang tadi gue sebut diawal. Dari pencarian bahan kliping inilah gue nemu biodata seorang seniman tari dari Djogyakarta yang namanya Bagong Kussudiardja. Gue bukan penikmat seni kontemporer apalagi tarian. Waktu itu gue lebih ke interest karena namanya yang unik, Bagong (kalau bahasa sunda, setau gue ini artinya B2 khan). Maka waktu itu pikir gue,, there’s something special. Btw, dari dulu… dari masih bodoh pun (anak SD seharusnya belum punya idealisme dong?), tapi menurut gue nama yang unik ini pasti punya magma (isi tak terduga) yang besar. Tapi apa yah? gua gak ngeti lah… intinya gue salute berat dengan nama Bagong ini.

Kemudian gue nemu lagi, nama anaknya pak Bagong adalah Butet Kertarajasa. Soal mas Djaduk ternyata anaknya juga, gue baru tahu bertahun-tahun kemudian. So bertambahlah ‘kekaguman’ gue dengan pe-nama-an yang unik ini. Bagong yang gak ada hubunganya sama sekali dengan (sorry..) animal  dan Butet yang jauh dari Tanah Toba.

Dibangku SMP, gue sempet ikutan teater. Teater M’belink namanya. Hanya sanggup ikutan 1 bulan tok, karena kemudian gue merasa kalau jiwa gue 'gak' teater banget. Gue cuma suka dengan detail dan keseriusan dunia teater, tapi gue sama sekali gak bisa in to it. Dan kemudian nama “teater” sering gue cari tau dikoran. Biasalah, sekedar sotoydotkom doang, hehehe. Dari searching kalimat  tetater  ini kemudian gue nemu lagi nama si Butet. Disini beliau disebut budayawan.

Gue masih rancu dengan arti ‘budayawan’ ini, blank sama sekali. Yang gue tau: penyanyi, pemain film, pelukis, penari tapi budayawan, ngg hmm..?  Ora mudeng at all.  Sampai beberapa tahun kemudian ‘tahu’ budayawan yang bernama Emha Ainun Anjib yang menikah dengan artis sederhana kesukaan keluarga gue, Novia Kolopaking. Oh, Mas Butet ‘gawe’anya seperti mas Emha ini  toh. Bret… itulah mate-matika gue waktu itu.

Selepas masa reformasi, makin menjamurlah gelaran para budayawan-budayawan yang dulunya hanya banyak beraksi dikalangan sendiri. Maka kembali gue  teringat nama Butet ini. Kemunculannya yang nyinyir dan lugas semakin memantapkan kekaguman gue buat pribadinya. Dulu khan cuma salut sama namanya, hehehe. 

Dan menurut gue, genderangnya makin membahana waktu dia jadi salah satu team-nya PDIP di hajatan perjumpaan para pasangan calon presiden. Kesinisanya yang faktuil dan tajam membuat namanya semakin berkibar sebagai budayawan yang resek. Ini sih bahasa gue. Gue suka banget gaya ‘nyolot’nya dia. Dan mulailah perhatian gue pada cara-acara dimana beliau ini ada. Menurut gue; walaupun kebaca arahnya, monolognya selalu asyik aja buat direnungi bersama-sama.

Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2012. Dengan dituliskannya nama Butet Kertarajasa sebagai pengisi di salah satu sesi, gue langsung berbunga. Selain karena nama seorang Efendi Gazali yang gue kagumi kepintaranya. Oh ya, gini-gini gue hobi banget liat berita dan dialog seputar hukum, ekonomi terutama politik. So, gue lumayan familiar dengan nama-nama para tokoh itu, yang menurut gue mereka cerdas banget karna berani mengkritisi pemerintahan yang banyak munafiknya. Upss! Lalu ada juga si Mbak Oneng, Rieke Dyah Pitaloka.

Tapi honestly, yang pengen banget gue liat malam itu… ya si Mas Butet dan Mas Efendi itu. Jadi ketika acara selesai, kabanyakan para ibu-ibu (tamu acara) itu menyeruduk untuk melihat wajah Mbak Oneng yang asli, gue malah mencari si Mas Butet. Dia lagi ngobrol sama Mbak Rieke  waktu gue SKSD beud nyolek dan minta foto. Iya dunk… plis dey, setelah berpuluh-puluh tahun gue ‘exited’  dengan namanya, dan beberapa tahun belakangan ini gue suka dengan monolognya yang tajam itu dan penasaran abis dengan kreatifitasnya. Terpaksa -dengan niat yang menyala- gue menyambangi beliau. Hehehe, tepaksa tapi niat, apapula??

Sebenarnya  kalau tidak pulang ditengah jalan, hal bodoh seperti ini juga akan gue lakuakan dengan mas Effendi Gazali. Tapi apa daya beliau pulang setelah sesinya selesai.

“Hai Mas Butet foto dong”  kata gue sambil nyolek. Setelah foto, gue ‘maksa’ foto sekali lagi dengan mas Butet-nya saja. Karena tadi dia mengajak Mbak Rieke untuk foto bersama. Lalu  gue nyembur dengan lebih ODPD lagi, “saya ngefans lho sama Mas Butet”. Dan klik, foto terjadi. Mas Butet melirik pendek, seolah merasa aneh dengan kalimat “ngefans itu” kah??  (perasaan gue sih, semoga engga… hiks hiks).

Dan beberapa detik kemudian gue sadar, kalimat pendek gue tadi terdengar tolol dan basi. OMG, gue berasa seperti sm*stblast yang lagi kecentilan sama anak band, dan  pamer gaya cibi-cibi gak jelas. Berasa bodoh, norak dan kekanakan banget, menurut gue.

Selanjutnya, gue malas gabung di sesi foto bersama para tamu dan panitia. Lalu cepat keluar nyari mobil buat balik dari Pasar Minggu menuju Bekasi jam 9.45 malam.

Dan sepanjang jalan, gue masih merasa tolol dengan kalimat pendek itu. “Mas saya ngefans loh sama Mas Butet”.  Apa pula maksudnya, basi banget sih?, dan walau gak bermaksud untuk lebay tapi menurut gue kalimat gue itu lebay banget. 

Hmmm… sepanjang jalan gue geleng-geleng sambil ngebayangin berasa jadi ABG ababil yang habis nonton acara music pagi (siang atau sore, sekarang semua jam ada acara model ginian). Dan tergopoh-gopoh mendekati sang artis untuk bilang “gue suka banget sama band ini, udah ganteng, lagunya enak, bla..bla..bla”. Owhh,, BASI.